Azwar Siregar VS Coki Pardede

SI COKI PARDEDE 

Sekitar tiga bulan yang lalu, gara-gara saya mencuitkan Penolakan masih adanya klaim MINORITAS TERTINDAS, saya habis dibully si Coki dan fans fanatiknya.

Saya mengakui kalau posisi "minoritas" di Negeri ini masih seringkali diperlakukan secara kurang adil. 

Tapi posisi "minorits" itu bukan merujuk kepada agama dan keyakinan tertentu.

Posisi minoritas bahkan bagi Umat Islam sekalipun sebagai mayoritas di Negeri ini, tetap saja akan diperlakukan kurang adil ketika menjadi minoritas disebuah wilayah. Sebut saja di Bali, NTT atau Sulawesi Utara.

Sayangnya, atau kita sebut saja tragisnya, tuduhan sebagai PENINDAS, biasanya hanya tertuju ke Umat Islam. 

Kasus-kasus Penolakan Pembangunan beberapa Gereja di Pulau Jawa berulangkali akan dijadikan sebagai pemaksaan untuk pengakuan dari klaim menyesatkan ini.

Saya sebut menyesatkan, karena kasus yang sama beberapa kali juga terjadi kepada Umat Islam. Sebut saja penyerangan dan pengrusakan Masjid Alhidayah di Perum Agape - Minahasa Utara. 

Kasus yang sama juga dulu pernah menimpa Masjid Almunawar di Tapanuli Utara. Ditolak pembangunannya oleh sekelompok masyarakat yang mayoritas Non Muslim di sana.

Contoh lain adalah penghentian Pembangunan Masjid Nur Almusofir oleh Walikota Kupang karena (lagi-lagi) penolakan masyarakat mayoritas.

Kalau perlakuan tidak fair diluar Pembangunan Rumah Ibadah contohnya adalah berkali-kali adanya insiden pelarangan Jilbab di beberapa Sekolah-Sekolah di Bali. 

Jadi kalau dasar Klaim "MINORITAS TERRINDAS" adalah Penolakan Pembangunan Gereja di beberapa wilayah Mayoritas Muslim, hal yang sama juga menimpa Umat Islam di tempat mereka menjadi warga Minoritas.

Hanya saja, kalau kita berbicara secara keseluruhan, apalagi kalau kita melihat dari konteks perlakuan Negara, saya bisa pastikan: TIDAK ADA MINORITAS TERTINDAS DI INDONESIA.

Di cuitan yang dibully Coki dan Fansnya, saya mencontohkan pemberian Libur Keagamaan kepada semua Agama yang diakui oleh Negara. Semua agama mendapatkan hak libur Agama termasuk warga Konghuchu yang cuma 0,05% di Indonesia.

Hal yang sama belum bisa anda rasakan di Amerika dan Negara-negara Eropa yang selama ini mengklaim sebagai pusat peradaban toleransi dunia.

Disana mereka hanya mengenal Libur Keagamaan Natal. Untuk agama-agama lain belum ada Libur Nasional. 

Padahal umat Islam atau agama diluar Kristen jumlahnya cukup signifikan. Misalnya Umat Islam di Amerika lebih dari 2,5 juta jiwa. Hampir 1% dari total penduduknya.

Di Jerman dan Inggris bahkan Umat Islamnya lebih dari 5% dari total penduduknya. Tapi libur Idul Fitri sampai sekarang belum diakui oleh Negara-negara tersebut.

Tapi penjelasan saya ini tidak masuk ke otak si Coki Pardede dan fans-fans fanatiknya. Padahal begitu sederhana. Ternyata, si kawan itu pemakai Narkoba. 

Pantaslah....

(By Azwar Siregar)