Tere Liye: Beraaaat sekali jadi fans pemerintah

Mahasiswa dua kampus besar di Indonesia merilis postingan terbuka. Satu, Universitas Indonesia (UI). Satu lagi, Universitas Gajah Mada (UGM). Satu lewat organisasi resmi BEM, satu lagi, aliansi mahasiswa (yg juga secara tdk langsung perwakilan dari organisasi2 resmi).

Anak-anak ini masih 20-an semua umurnya. Masih muda. Apa kepentingan mereka? Politik? Mengincar posisi jabatan? Duh, mereka bahkan belum lulus. 

Lantas kok mereka sampai segitunya membuat postingan tsb? Masih 'polos' kok gaya kritik? Atau jangan-jangan, karena mereka masih polos itulah, mereka bisa merasakan situasi lebih baik. Karena memang ada yang sakit di negeri ini. 

Kamu menyadarinya nggak sih? 

1 trilyun lebih BLT UMKM salah sasaran, ada follow up-nya? Mingkem. Bansos-bansos dijadikan korupsi gila-gilaan. Anak-anak penguasa berebut jadi pejabat-pejabat di daerah? Mantu, anak, cucu, ponakan, semua bisa maju dgn argumen pilkada. Dulu, wah itu bisa berisik sekali yg protes. Hari ini, mingkem juga. Jabatan komisaris semakin terang-terangan dibagi-bagikan. Mingkem. Pejuang anti korupsi di KPK ditendang keluar. Mingkem. 

Kritik ditangkapin. Coba kamu cek, bertahun-tahun terakhir, berapa banyak yg kritik, demo pemerintah diam-diam ditangkapin aparat? Itu fakta, my friend. Well, pemerintah memang telah mengeluarkan surat terkait UU ITE; tapi sorry, mereka mengeluarkan itu lebih utk melindungi kepentingan kelompok mereka sendiri. Karena repot loh sekarang, fans mereka, bahkan yg sudah jadi komisaris, kalau UU ITE masih dipakai, masuk penjara. Mereka tdk kuat lagi menahan situasi tsb, karena mau dikata apa, pelanggar UU ITE itu juga buanyak dari kelompok mereka, jadi bergegas hendak merevisinya sebelum senjata makan tuan. 

Ada yang sakit di negeri ini. Mereka juga tahu itu. 

Ini baru 2021, masih 3 tahun lagi 2024. Jika pemerintah tetap berkubang dgn utang, kebijakan mereka itu2 saja, KPK semakin tumpul (padahal ehem katanya tdk ada lagi yg radikal), penyelewengan bansos terus ditemukan, pengangguran tetap tinggi, dan mereka malah sibuk ancang2 berebut kekuasaan 2024, wah, beraat sekali jadi fans pemerintah. Lebih2, pemerintah semakin 'gila' dgn rencana PPN, pajak ini, pajak itu. 

Beraaaat sekali jadi fans pemerintah. Tapi mau gimana? Sudah terlanjur dibelain? Masa' berhenti?

Ayolah, kapan kamu mau tobat hidup hanya soal dukung-mendukung? 

Ayolah, enak sekali loh hidup jadi warga negara yg merdeka. Boleh saja dukung-mendukung; tapi yg didukung itu adalah: prinsip anti korupsi, prinsip penegakan hukum, dll, dsbgnya. Dengan begitu kamu bisa santai mengkritik idola kamu jika dia tdk lagi sesuai dgn prinsip2 itu. Bukan malah, tai kambing pun dirasa cokelat. Demikianlah kata seseorang, yg dulu kritis sekali, tapi setelah menjabat, benar2 menunjukkan tai kambing pun memang dirasa cokelat.

Jadilah manusia merdeka. Yang kamu tdk perlu sakit hati saat seseorang dikritik. Pun tdk akan buru2 menyanjung saat seseorang dikatakan bagus. Jadilah manusia merdeka. Yang berdiri di atas prinsip2. Kamu fokus ke prinsip. Orangnya? Nanti dulu, lihat situasi. Duh, Gusti, orang2 akan selalu berubah.

Kamu tahu Soeharto? Dia lahir di pondok geribik, keluarga miskin. Presiden paling sederhana dalam sejarah Indonesia. Soeharto adalah orang kebanyakan. Berjuang dari bawah. Benar2 dari posisi paling bawah, merangkak ke atas hingga jadi Presiden. Setelah berkuasa 30 tahun? Apa yg terjadi? Tragis. Kamu kok masih bisa2nya ditipu oleh kesederhanaan lainnya?

Sungguh, adik2 sekalian, jadilah manusia merdeka. 

Karena bukan apa2, sungguh berat tiap saat harus belain. Beraaat sekali. Apalagi setiap saat harus menjilat. Di depan senyum2 manis, saat sudah di rumah, sendirian, teriak2 kesal, marah. 'Kok bisa hidup gw seperti ini'. Percayalah 🙂

(By Tere Liye)

*fb