Menanti Sikap Ksatria Presiden Jokowi Meminta Maaf Soal Bipang Ambawang

Oleh : *Ahmad Khozinudin*
Sastrawan Politik

Polemik Bipang yang digulirkan Presiden Joko Widodo belum juga berakhir. Sejumlah klarifikasi baik yang berasal dari Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman, Tenaga Ahli Utama KSP Ali Mochtar Ngabalin, Juru Bicara Jokowi Mania hingga Menteri Perdagangan Muhammad Luthfi, tidak memuaskan publik khususnya umat Islam.

Sebab, yang nampak secara zahir yang meminta masyarakat pesan babi panggang ambawang adalah Presiden Joko Widodo. Dalam persepektif ilmu manajemen maupun militer, tidak ada bawahan yang salah. 

Demikian pula, dalam konteks pemerintahan dan kenegaraan, Presiden sebagai kepala negara sekaligus kepala pemerintahan bertanggungjawab jawab penuh atas semua persoalan yang terjadi, apalagi karena kesalahan ucap Presiden. Presiden tidak dibenarkan cuci tangan, atau buang badan. Presiden wajib bersikap ksatria dan bertanggungjawab atas perbuatannya.

Mendag bisa salah, tapi Presiden bisa mengoreksi dan menolak konsep promo kuliner yang didesain Mendag. Scrypt yang disusun tim kreatif bisa keliru, namun Presiden bisa membaca ulang dan punya otoritas penuh untuk membatalkan bahkan memberi arahan langsung untuk merubah scrypt.

Dengan dalih apapun, Presiden Joko Widodo tidak bisa mengkambinghitamkan siapapun atas masalah ini. Mendag, Ali Mochtar Ngabalin, Fadjroel Rachman, betapapun siap menjadi kambing hitam tetap saja mereka bukan Presiden Joko Widodo, tidak memiliki wewenang bertindak untuk dan atas nama Presiden Joko Widodo.

Persoalan ini tidak akan selesai, kecuali ada niat yang tulus dan jujur untuk mengakui kesalahan. Tanpa kejujuran, niscaya isu ini akan menggelinding bak bola salju yang bisa terus membesar.

Semua berpulang kepada Pribadi Presiden Joko Widodo. Apakah, Presiden memiliki sikap ksatria dan mampu bertindak sebagai seorang Negarawan.

Apakah, Presiden Joko Widodo mampu menginsyafi kesalahan dan berbesar hati meminta maaf kepada umat Islam. Apalagi, di penghujung Ramadhan menjelang Hari Raya Idul Fitri.

Jangan sampai, bangsa ini disuguhi sikap teladan pengecut. Mudah berbuat salah, tapi enggan mengakuinya kesalahan dan meminta maaf. 

Meminta maaf adalah budaya bangsa yang luhur, ajaran budi pekerti yang agung. Sementara kesombongan, enggan mengakui kesalahan adalah sikap jumawa yang dipenuhi angkara murka.