Ulil: Citra MUI Buruk Karena Ada Tengku Zulkarnain

[PORTAL-ISLAM.ID] Tokoh Jaringan Islam liberal (JIL), Ulil Abshar Abdallah menilai, semenjak runtuh rezim orde baru (orba), Majelis Ulama Indonesia (MUI), mengalami pergeseran ke arah yang agak ‘radikal’.

Perubahan itu terlihat setelah Musyawarah Nasional (Munas) MUI ke-VI pada 2005 silam. Sejak itu, wajah MUI banyak disusupi oleh tokoh Islam kanan termasuk di dalamnya ada Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Ulil mengatakan, sejak saat itu, ada beberapa tokoh di dalam kepengurusan MUI kerap membuat gaduh dengan sejumlah pernyataannya. Salah satunya Ustadz Tengku Zulkarnain.

“Yang merisaukan publik juga adalah munculnya tokoh-tokoh MUI yang kerap membikin kekacauan dengan pernyataan-pernyataan yang amat merisaukan. Tidak banyak sih mereka ini. Hanya ada dua-tiga sosok saja. Salah satunya adalah Tengku Zulkarnain,” ujar Ulil lewat keterangan tertulis, Sabtu (28/11/2020), seperti dilansir fin.co.id.

Ulil menilai, munculnya tokoh seperti Tengku Zulkarnain, membuat citra MUI jadi buruk di mata publik. Lembaga ini dinilai identik dengan konservatisme agama dan sering menjadi sasaran bully publik di medsos. “Walhasil, pascareformasi, citra MUI cenderung buruk,” ucap Ulil.

Ulil melanjutkan, beberapa bulan menjelang Munas MUI ke-X yang telah resmi ditutup pada Jumat (27/11/2020) kemarin, merupakan hasil gerilya sejumlah tokoh yang mulai gerah dengan MUI saat ini.

“Mereka, melakukan gerilya untuk ment-tazkiyah atau membersihkan MUI dari tokoh-tokoh yang bermasalah. Teman-teman di NU menjadi leader dalam gerilya ini,” papar pria yang akrab disapa Gus Ulil ini.

Saat ini, fondasi utama MUI adalah dua ormas besar, yaitu NU dan Muhammadiyah. Menurut Ulil, Selama ini, kedua ormas ini, terutama NU, agak memandang sebelah MUI sehingga tokoh-tokoh di dua ormas itu kurang memperhatikan MUI.

“Tetapi dengan dibersihkannya MUI dari sosok-sosok konservatif non-moderat yang selalu melontarkan statemen-statemen yang bermasalah selama ini, tentu ini sudah menggembirakan,” pungkas Ulil.

Sebelumnya, MUI resmi menetapkan kepengurusan baru periode 2020-2025. Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar dipilih sebagai Ketua Umum MUI baru. Sejumlah nama seperti Din Syamsuddin, Tengku Zulkarnain hingga Bachtiar Nasir dan Yusuf Muhammad Martak tidak lagi masuk dalam kepengurusan MUI yang baru.

Din Syamsuddin sebelumnya menjabat Ketua Dewan Pertimbangan MUI. Sementara Tengku Zulkarnain sebelumnya adalah Wakil Sekjen MUI.

Sementara Bachtiar Nasir awalnya sebagai Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI, kini juga tidak mendapat posisi baru. Adapun Yusuf Martak dulunya sebagai bendahara di kepengurusan MUI kini juga didepak.

Sejumlah tokoh yang didepak ini, pernah aktif dalam Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) MUI saat kasus penodaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. (fin).