Covid-19: Dua ilmuwan keturunan Turki (suami-istri) di balik kandidat vaksin 'tonggak sejarah'

Covid-19: Dua ilmuwan keturunan Turki di balik kandidat vaksin 'tonggak sejarah'

Sepasang suami-istri keturunan Turki-Jerman muncul sebagai pelopor dalam perlombaan untuk memasarkan vaksin virus corona, yang akan menjadi pencapaian luar biasa.

Prof. Ugur Sahin, pria kelahiran Turki berusia 55 tahun, adalah CEO perusahaan bioteknologi Jerman, BioNTech. Ia mendirikannya bersama istri dan sesama anggota dewan direktur Dr. Özlem Tu¨reci, 53 tahun, serta mantan gurunya, Profesor Christoph Huber, seorang ahli kanker dari Austria.

Terobosan Vaksin

BioNTech dan mitranya di AS, Pfizer, mengumumkan bahwa vaksin mereka mampu mencegah lebih dari 90% orang menderita Covid-19, menurut hasil awal dari uji coba Tahap 3.

Vaksin ini adalah satu dari 11 vaksin di dunia yang saat ini sedang dalam tahap akhir uji coba, yang melibatkan perusahaan farmasi dan laboratorium lainnya.

Kemajuan secepat ini dalam pengembangan vaksin baru pertama kali terjadi di dunia — biasanya, penelitian dan uji coba vaksin membutuhkan waktu tujuh atau delapan tahun. Tim riset Covid di BioNTech diberi julukan "Project Lightspeed" (Proyek Kecepatan Cahaya).

Pfizer dan BioNTech mengatakan akan segera meminta persetujuan dari pihak berwenang di Amerika agar vaksin ini bisa dipakai secara darurat pada akhir November.

Walau masih banyak tantangan yang akan dihadapi dalam tahap-tahap selanjutnya, pengumuman mengenai vaksin ini disambut gembira oleh para ilmuwan. Beberapa bahkan memperkirakan kehidupan dapat kembali normal pada musim semi tahun depan.

"Saya mungkin orang pertama yang mengatakan itu, tapi saya akan mengatakannya dengan yakin," kata Sir John Bell, profesor regius bidang kedokteran di Universitas Oxford.

Efektivitas vaksin mRNA

Prof. Sahin dan Dr. Tu¨reci adalah spesialis imunoterapi yang sebelumnya fokus meneliti pasien kanker: mereka menggunakan molekul messenger RNA (mRNA) untuk memicu produksi protein tertentu dalam sel, yang kemudian dapat melatih sistem kekebalan tubuh untuk menyerang sel kanker.

Prof. Sahin menyadari bahwa peran mRNA dalam mengirimkan instruksi genetik ke dalam sel dapat diadaptasi untuk melawan virus corona. Idenya adalah mengelabui sistem kekebalan tubuh dengan protein virus, sehingga antibodi kemudian dapat menyerang virus yang asli.

Ketika berita tentang virus corona dilaporkan pada Januari lalu, berdasarkan data dari wabah di Wuhan, China, BioNTech sudah dalam posisi yang bagus, karena mereka telah bekerja sama dengan Pfizer pada 2018 untuk mengembangkan vaksin flu berbasis mRNA.

BioNTech melaporkan pada hari Senin (9/11/2020) bahwa tingkat kemanjuran vaksin di atas 90% dicapai sepekan setelah pemberian dosis kedua. Proteksi akan tercapai 28 hari setelah dosis vaksin pertama. Dari 43.538 peserta dalam uji coba, dikonfirmasi 94 kasus Covid-19.

Namun, data itu bukan merupakan hasil analisis akhir karena hanya didasarkan pada 94 relawan pertama yang punya gejala Covid-19, sehingga tingkat efektivitas vaksin masih mungkin berubah ketika hasil yang lengkap telah dianalisis.

Direktur eksekutif Pfizer, Albert Bourla, mengatakan: "Kami berada satu langkah lebih dekat untuk menyediakan orang-orang di seluruh dunia dengan terobosan yang sangat dibutuhkan untuk membantu mengakhiri krisis kesehatan global ini."

Ugur Sahin sendiri menyebut hasil penemuan ini sebagai "tonggak sejarah".

Inovasi dari anak imigran Turki

Prof. Sahin dan Dr. Tu¨reci mendirikan BioNTech di kota Mainz, Jerman bagian barat pada tahun 2008.

Keduanya adalah anak dari imigran Turki. Ugur Sahin berusia empat tahun ketika pindah ke Jerman bersama ibunya untuk bergabung dengan ayahnya, yang bekerja di pabrik Ford di Koln.

Ugur Sahin belajar ilmu kedokteran di Universitas Cologne, dan berkata ia sering tinggal di lab hingga larut malam sebelum bersepeda pulang ke rumah. Sampai hari ini, ia masih bersepeda ke kantor.

"Ia tidak pernah berubah, selalu sangat rendah hati dan menarik," kata Matthias Kromayer dari firma modal ventura MIG AG, yang berinvestasi di BioNTech sejak awal.

Sebelum pandemi, BioNTech meneliti perawatan kanker individual berdasarkan sistem kekebalan, tetapi sejauh ini belum satu pun obatnya mencapai tahap persetujuan.

Sementara, Özlem Tu¨reci tumbuh dewasa dengan dipengaruhi oleh ayahnya, seorang dokter yang membuka praktik pribadi di rumah. "Saya tidak bisa membayangkan profesi lain bahkan ketika saya masih kecil," ujarnya seperti dikutip media.

Sekarang, nilai perusahaan BioNTech di bursa saham Nasdaq mencapai $21 miliar, melonjak dari $4,6 miliar setahun yang lalu.

CEO Prof Sahin, dengan 18% saham, sekarang berada di antara 10 orang terkaya di Jerman. Istrinya (Dr. Özlem Tu¨reci) adalah Kepala Petugas Medis di perusahaan tersebut.

Mereka menikah pada 2002, ketika Prof Sahin bekerja di University Medical Center Mainz. Bahkan pada hari pernikahan mereka, Prof Sahin menghabiskan beberapa waktu di lab, dan hingga hari ini ia masih mengajar di universitas.

Mereka merintis usaha di bidang bioteknologi pada tahun 2001 dengan meluncurkan Ganymed Pharmaceuticals, untuk mengembangkan obat kanker imunoterapi. Mereka menjual perusahaan itu seharga €422 juta pada 2016.

BioNTech mempekerjakan lebih dari 1.300 orang dari lebih dari 60 negara, lebih dari setengahnya adalah perempuan, lansir Deutsche Welle.

Pada bulan Januari, setelah membaca makalah tentang virus corona di jurnal ilmiah The Lancet, Prof Sahin segera menyadari betapa cepat penyebaran virus tersebut, dan setelah mempelajari datanya, ia mengerahkan lebih dari 400 staf untuk pengembangan vaksin.

"Nilai saham tidak menarik minat saya," katanya kepada situs berita Jerman Wirtschaftswoche.

"Kami ingin membangun perusahaan yang mirip dengan raksasa bioteknologi seperti Amgen atau Genentech. Kami ingin menciptakan nilai jangka panjang. Itulah yang menarik minat saya."

Kapan vaksin bisa tersedia?

Sejumlah orang mungkin mendapatkan vaksin tersebut tahun ini.

Pfizer dan BioNTech mengatakan mereka akan memiliki data keamanan vaksin yang memadai pada pekan ketiga November untuk dibawa ke pihak berwenang.

Sebelum disetujui, negara-negara belum diperbolehkan untuk memulai program vaksinasi.

Pfizer dan BioNTech mengatakan, begitu mendapat persetujuan, mereka bisa menyediakan hingga 50 juta dosis tahun ini dan 1,3 miliar dosis tahun depan. Setiap orang membutuhkan dua dosis.

Inggris diperkirakan akan mendapatkan 10 juta dosis pada akhir tahun, ditambah 30 juta dosis yang sudah dipesan.

Siapa yang akan mendapatkannya?

Tidak semua orang akan mendapatkan vaksin secara langsung dan setiap negara akan memutuskan siapa yang harus diprioritaskan.

Pekerja di rumah sakit dan panti wreda akan termasuk dalam daftar prioritas karena lingkungan pekerjaan mereka, serta kelompok lansia yang paling berisiko terkena penyakit parah.

Inggris kemungkinan akan memprioritaskan orang-orang lanjut usia di panti jompo dan mereka yang bekerja di sana.

Namun keputusan akhir belum dibuat, karena hal itu akan tergantung pada seberapa baik vaksin itu bekerja pada tiap kelompok usia dan bagaimana virus menyebar.

Orang yang berusia di bawah 50 tahun dan tidak memiliki masalah kesehatan kemungkinan besar berada dalam antrean terakhir.

Apakah ada potensi masalah?

Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab karena ini hanya data sementara.

Tidak diketahui apakah vaksin dapat menghentikan seseorang menyebarkan virus atau hanya mencegah seseorang mengidap gejala. Atau bahkan, efektif bagi orang lanjut usia yang rentan tertular.

Pertanyaan terbesar - berapa lama kekebalan bertahan - akan membutuhkan waktu berbulan-bulan atau mungkin bertahun-tahun untuk dijawab.

Ada juga tantangan manufaktur dan logistik yang masif dalam upaya imunisasi berskala besar, karena vaksin harus disimpan di ruang penyimpanan sangat dingin pada suhu di bawah minus 80 derajat Celsius.

Sejauh ini vaksin tersebut tampaknya aman saat diuji coba dalam skala besar, tetapi tidak ada obat yang 100% aman, termasuk paracetamol.

Bagaimana reaksi publik terhadap vaksin?

Kepala penasihat medis Inggris, Chris Whitty, mengatakan hasil tersebut menunjukkan "kekuatan sains" dan merupakan "dukungan terhadap optimisme" untuk tahun 2021.

Presiden terpilih AS Joe Biden mengatakan hasil uji coba ini adalah "berita bagus".

"Penting juga untuk dipahami bahwa akhir pertempuran melawan Covid-19 masih beberapa bulan lagi," tambahnya.

Juru bicara resmi Perdana Menteri Inggris mengatakan hasilnya "menjanjikan" dan bahwa "Layanan Kesehatan Nasional siap untuk memulai program vaksinasi bagi mereka yang paling berisiko begitu vaksin Covid-19 tersedia".

Profesor Peter Horby, dari Universitas Oxford, berkata: "Berita ini membuat saya tersenyum lebar."

"Sungguh melegakan... perjalanan masih panjang sebelum vaksin mulai membuat perbedaan nyata, tapi bagi saya ini terasa seperti momen yang menentukan."

(Sumber: BBC)