Turki VS Armenia


Turki VS Armenia

"Kami akan berada di sisi Azerbaijan. Apapun yang diputuskan Azerbaijan, kami dukung," tegas jubir Kemenlu Turki.

Penjelasan yang menegaskan dua hal: Pertama, Turki siap berkorban apapun untuk membela Azerbaijan yang kedaulatannya terjajah Armenia. Kedua, Turki siap bertempur habis-habisan melawan keangkuhan Armenia.

Bagi keturunan Lawrence of Arabia (KSA), perang Azerbaijan vs Armenia, diselewengkan dengan isu Syiah. Hingga bagi mereka, mendukung Armenia yang Kristen jauh lebih mulia daripada mendukung Azerbaijan yang Syiah. Padahal negara Syiah sendiri membackup Armenia.

Lain halnya dengan yang dipahami geopolitik Turki. Serbuan Armenia terhadap Azerbaijan sebenarnya adalah mengancam Turki dari pintu Timur. Mafianya sama dengan sponsor PKK, PYD, ISIS yaitu Rusia, Iran, UAE, Perancis, plus tentunya Lawrence of Arabia.

Keturunan Lawrence of Arabia diperintahkan untuk menghancurkan ekonomi Turki, dengan melarang impor barang Turki per tanggal 1 Oktober 2020.

Kendati pimpinan Kristen maupun Katolik, Ortodoks Armenia membawa simbol Salib, Georgia memutuskan untuk menutup lalu lintas udara dari setiap pesawat cargo dan militer Rusia. Jelas ini bukan perang Salib, bukan pula Sunni Syiah.

Azerbaijan telah bersabar 20 tahun. Berharap langkah bijak PBB, UE, AS, ternyata semua berpangku tangan. Bahkan ketika Azerbaijan bermesraan hingga belanja senjata  Israel, justru Israel mengirim alutsista rongsokan yang mampu dilumpuhkan Armenia yang juga didukung Israel.

Azerbaijan baru memahami partner strategisnya, saling menguntungkan saat bersama Turki yang juga diuntungkan Azerbaijan, ketika Turki mampu mengurangi ketergantungan gas Rusia dan Iran dari 55 menjadi 45%.

Lalu Turki menjadi mentor Azerbaijan, dengan menyadarkan Azerbaijan bahwa era Self Defense (bertahan) telah berakhir. Armenia harus dilawan, diusir, bahkan jika perlu merangsek ke dalam wilayah Armenia. Apa jadinya, jika Turki masih berpijak pada baik sangka dan self defense? Turki akan dihabisi di sepanjang perbatasan Irak, Iran, Syiria, Yunani, Mediterania, dan kini Armenia. Maka kita memahami, semua kekuatan politik termasuk oposisi, mendukung langkah Presiden Erdogan.

Kini Armenia meminta gencatan senjata, usai dua komandan gugus tempur tewas. Lalu Azerbaijan sukses merebut wilayah Nagorno-Karabakh dari sisi Iran hanya kurang dari 24 jam.

Drone Turki yang membantu Azerbaijan sukses mengobrak abrik militer armenia.

Ini hasil pertempuran tak berimbang yang dirilis media Turki, kerugian militer Armenia:
✅22 Tank ve zırhlı araç
✅15 OSA (SA-8) ve TOR (SA-15) HSS
✅18 Drone
✅8 topçu sistemi
✅3 mühimmat deposu
İmha edildi.
✅ 550 Ermeni askeri öldürüldü veya yaralandı.

Yang hancur dari Armenia: 22 tank, 15 OSA pertahanan udara, 18 drone, 8 Artillery, 3 gudang amunisi

Yang mati dan terluka: 550 personel tentara Armenia.

(By: Nandang Burhanudin)