MENELUSURI JEJAK "KHILAFAH-PHOBIA" DI NUSANTARA


MENELUSURI JEJAK "KHILAFAH-PHOBIA" DI NUSANTARA

Oleh: Azwar Siregar

Kemarin ramai postingan kawan kawan-kawan tentang isu pemblokiran film Jejak Khilafah di Nusantara.

Saya tidak akan masuk di benar atau tidaknya isu pemblokiran tersebut. Saya juga pada dasarnya tidak terlalu tertarik untuk menonton film tersebut.

Saya justru lebih tertarik untuk menganalisa Jejak ketakutan sekelompok orang dengan Islam di Negeri ini.

Menurut saya, sekelompok orang tersebut adalah bagian dari secuil orang-orang yang menguasai dan menikmati kekayaan dan sumber daya alam Indonesia. Ada yang menjuluki mereka sembilan naga, taipan, cukong dan julukan lainnya. Kali ini ijinkan saya menyebut kelompok tersebut dengan kata Badjingan.

Jadi Kelompok Badjingan ini sudah menguasai dan menikmati kekayaan alam Indonesia, bahkan semasa Belanda masih menjajah Nusantara.

Karena kemurahan hati pribumi, para Kelompok Badjingan ini dengan berbagai cara berhasil menguasai tanah dan wilayah. Diangkat jadi pejabat dimasa Penjajah Belanda. Diberi gelar Kapten, Mayor dan jabatan-jabatan lainnya.

Tapi mereka orang-orang pintar sekaligus licik. Mereka tahu, satu-satunya yang bisa menghancurkan eksistensi mereka adalah Islam dan Pemerintahan yang diwarnai ajaran Islam. Islam mengajarkan kesetaraan, sementara konsep mereka untuk tetap berkuasa harus tetap menjaga adanya pembagian kelas. Kalau dijaman Belanda mereka menikmati jadi warga kelas dua (Belanda jadi warga kelas satu dan Pribumi jadi warga kelas tiga), maka setelah kemerdekaan mereka tetap mempertahankan kelas-kelas tersebut lewat penguasaan ekonomi. Belanda sebagai warga kelas satu pergi, maka mereka naik kelas jadi warga kelas satu tapi pribumi tetap dipijak jadi warga kelas tiga. Warga kelas dua di isi para pejabat pengkhianat dan pengusaha-pengusaha pribumi yang menjadi kaki tangan mereka.

Tulisan ini akan semakin panjang, kalau saya menulis detail analisa tentang masalah ini.

Jadi kembali ke Sekelompok Badjingan ini. Secara terencana mereka sudah mempersiapkan diri untuk terus lanjut menguasai ekonomi dan sumber daya alam negeri ini setelah Belanda angkat kaki. Penghalang satu-satunya adalah Islam. Karena itu mereka dengan berbagai cara berhasil menghapus 7 Kata di Piagam Jakarta.

Sejak saat itu, mereka juga berhasil menggiring opini untuk selalu menyudutkan Islam. Di masa Presiden Sukarno, mereka berhasil membuat Bung Besar memenjarakan beberapa Ulama besar tanah air. Begitu juga dimasa Pak Harto. Mereka menggunakan tangan Pak Harto untuk menghantam umat Islam.

Di awal Reformasi, mereka hampir saja kehilangan taji. Kuku hitam dari tangan mereka yang mencekik Garuda hampir saja terlepas. Tapi sekali lagi, Kelompok Badjingan ini adalah Organisasi yang terstruktur dengan rapi. Mereka didukung oleh kekuatan asing yang sama-sama membutuhkan rakyat Pribumi negeri ini tetap bodoh dan terpecah, jadi tetap bisa leluasa menguasai dan membagi-bagi kekayaan negara ini. Mereka bahkan bisa mengandemen UUD 1945. Pasal-pasal krusial, semacam Presiden Indonesia harus warga negara asli, mereka bisa cabut. Tinggal selangkah bagi mereka untuk menempatkan orang mereka sebagai Penguasa. Setelah selama ini menggunakan Boneka.

Tapi sekali lagi, lawan mereka adalah Islam. Karena itu Islam harus dijauhkan dari Sistem Negara Republik Indonesia. Rakyat boleh beragama Islam tapi Islam sebagai agama harus dijauhkan. Karena itu mulailah kampanye-kampanye untuk menyudutkan Islam. Islam dilekatkan dengan teroris, pembunuh, kuno, anti demokrasi, anti toleransi, isis, anti Pancasila, anti NKRI dan semua stigma negatif lainnya. Lucunya, sebagian rakyat di negeri ini yang mayoritas Islam justru termakan dengan penggiringan opini tersebut. Maka bermunculan lah istilah "Islam Yes, Partai Islam No", "Tolak Syariah", "Indonesia bukan Negara Agama", dan lain-lainnya.

Semua yang disampaikan sekilas benar. Tapi pada dasarnya mencuci otak dan alam bawah sadar kita untuk pelan-pelan anti dengan Islam. Agama kita sendiri. Kita mulai dibuat malu dengan Islam. Malu dengan Agama sendiri.

Sebut saja jargon "Islam Yes, Partai Islam No!". Lha sejak Indonesia Merdeka, yang berkuasa adalah Partai-partai Nasionalis. Hasilnya mana? Indonesia tetap jadi Negara Dunia ketiga dengan penduduk miskin yang tetap banyak. Kemudian jargon "Tolak Syariah". Lha, kita Islam kok menolak aturan Islam. Aneh? Bagaimana bisa mengaku orang Indonesia tapi menolak hukum Indonesia? Bagaimana bisa mengaku Islam tapi menolak Syariah.

Terakhir yang sering didengungkan adalah "Indonesia Bukan Negara Agama". Tentu saja "agama" yang dimaksud adalah Islam. Sebenarnya sangat lucu. Sepanjang pengetahuan saya, Umat Islam tidak pernah mengklaim Indonesia sebagai Negara Islam. Jadi menyebut Indonesia bukan Negara Agama, adalah pernyataan yang sangat menyesatkan. Karena sampai saat ini, sila Pertama Pancasila adalah Pengakuan atas Tuhan Yang Maha Esa (jadi ingat ada yang selalu gelisah dengan sila pertama ini dan tentu saja mereka adalah bagian dari Kelompok Badjingan).

Setiap waktu, kelompok Badjingan membutuhkan "isu" sebagai katalisator untuk menghantam Islam. Kebetulan sekarang Isu Khilafah yang mereka gunakan. Isu ini laku setelah sebelumnya mereka berhasil menjadikan HTI sebagai Kambing Hitam (Ingat, HTI sudah ada sejak jaman SBY. Dan masa SBY HTI tidak pernah dianggap berbahaya).

Kedepan akan selalu ada isu-isu yang akan dijadikan gorengan oleh Kelompok Badjingan untuk menghantam Islam. Padahal sebenarnya semuanya cuma pengalihan isu agar mereka tetap bisa berkuasa dan menikmati kekayaan Negeri ini. Sayangnya kebanyakan dari rakyat tidak sadar. Ikut terprovokasi. Lupa kalau kita semua memiliki hak dan jatah untuk hidup sejahtera dari kekayaan dan sumber daya alam di negeri ini.

Sadarlah anak bangsaku. Khilafah apalagi Islam tidak akan mungkin menyakiti bangsa ini. Islam adalah rahmatan lil alamin. Islam pemilik saham mayoritas bangsa ini. Tidak mungkin Islam akan merusak negeri ini.

Apakah perjalanan 75 tahun kemerdekaan bangsa kita belum mampu membuka mata kita semua, siapa sebenarnya yang menikmati kekayaan dan sumber daya alam Indonesia...?

Salam Jumat berkah.

(Azwar Siregar)

MENELUSURI JEJAK KHILAFAH-PHOBIA DI NUSANTARA. Kemarin ramai postingan kawan kawan-kawan tentang isu pemblokiran film...
Dikirim oleh Azwar Siregar pada Kamis, 20 Agustus 2020
Baca juga :