NAHLOH! Larang Publik Akses Data Pemilik HGU Sawit, Jokowi DITANTANG Greenpeace Buka Data HGU: Mau Lindungi Hutan atau Para Perusaknya?


[PORTAL-ISLAM.ID]  Langkah Pemerintah membatasi akses data dan informasi Hak Guna Usaha (HGU) kebun kelapa sawit ke publik dan menunda evaluasi perizinan perkebunan komoditas sawit menuai protes keras dari kelompok Greenpeace Indonesia.

Protes tersebut dicuitkan kelompok Greenpeace Indonesia melalui akun twitter mereka, Rabu, 8 Mei 2019.
Kritik keras Greenpeace tersebut menanggapi tautan berita CNN Indonesia mengenai arahan Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Pertanian Kementerian Koordinator Pangan dan Pertanian Musdalifah Machmud kepada Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI), Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), dan pimpinan perusahaan-perusahaan di sektor kelapa sawit tertanggal 6 Mei 2019.

Dalam salinan surat yang diterima media, Musdalifah mengungkapkan komitmen pemerintah untuk meningkatkan praktik perkebunan kelapa sawit yang berkelanjutan serta menindaklanjuti hasil pertemuan pemerintah Indonesia dengan Komisi Uni Eropa terkait kebijakan sawit memerlukan dukungan seluruh pemangku kepentingan kelapa sawit. 
Dukungan tersebut, termasuk dalam melindungi data dan informasi kelapa sawit yang bersifat strategis bagi ketahanan ekonomi nasional dan dalam rangka perlindungan kekayaan alam Indonesia.

"Terhadap hal tersebut, kementerian/lembaga dan pemerintah daerah terkait mengklasifikasikan serta menetapkan data dan informasi mengenai HGU kebun kelapa sawit (nama pemegang, peta, dan lokasi) sebagai informasi yang dikecualikan untuk dapat diakses oleh pemohon informasi publik sebagaimana diatur dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2010 tentang Keterbukaan Informasi Publik," ujar Musdalifah seperti dikutip dari suratnya.
Musdalifah juga meminta perusahaan sawit untuk melindungi data dan informasi kelapa sawit. Untuk itu, pelaku usaha diharapkan untuk tidak melakukan inisiatif membuat kesepakatan dengan pihak lain dalam pemberian data dan informasi yang terkait kebun kelapa sawit. 

Pihak lain yang dimaksud antara lain konsultan, lembaga swadaya masyarakat (NGO), lembaga multilateral,dan pihak asing. 

Dikonfirmasi, Musdalifah membenarkan telah mengirimkan surat tersebut. Menurut Musdalifah, pembatasan akses data dan informasi terkait sumber daya suatu negara juga dilakukan oleh negara lain. 

"HGU, misalnya, di Amerika kan tidak ada yang buka data-data mereka. Masak Indonesia mau buka semua isi daleman kita," ujar Musdalifah.

Musdalifah menerangkan informasi mengenai pemanfaatan tata ruang bisa diakses. Namun, untuk informasi terperinci mengenai nama pemegang dan salinan akte dibatasi agar tidak sembarang dimanfaatkan.

"Kita (Indonesia) harus ada ketegasan sebagai tindak lanjut dari Delegated Act (Uni Eropa), kita semakin hati-hati dalam menjaga kekayaan alam kita," ujarnya.

Menanggapi protes Greenpeace tersebut, warganet pun turut angkat bicara.

"Untuk melindungi usaha Pisang dan Martabak Rasa Batubara...😌🙊😌," cuit @NtikazYZulharma.

"Udah ga waras, apa mereka lupa kalo data HGU merupakan Informasi Publik, jadi rakyat berhak tau," cuit @AsepWitoko.

"Padahal isu HGU d pakai buat nyerang lawannya," cuit @saefudin_zuhrii.