Menganalisa Ilusi Denny Siregar Soal Jokowi Mirip Nelson Mandela


[PORTAL-ISLAM.ID]   Tentu sangatlah mengejutkan dan mengernyitkan kening ketika membaca tulisan seorang Denny Siregar yang memuji  Presiden Jokowi lewat tulisannya berjudul “Jokowi, Abu Bakar Baasyir dan Nelson Mandela” yang dipublikasikan melalui blog pribadinya: www. dennysiregar.com dan media Tagar.id pada 21 Januari 2019 lalu.

Bagi orang Papua judul tulisan yang sempat viral di medsos itu adalah sesuatu yang sangat aneh dan memicu segudang tanda tanya tentang: apakah benar Jokowi serupa dengan Mandela?

Apa sisi humanis anti rasisme-diskriminasi dan kontra kolonialisme dari seorang Jokowi yang bisa disamakan dengan Nelson Mandela? Lalu, pantaskah aksi Jokowi untuk pembebasan Abu Bakar Baasyir, si otak beberapa kasus terorisme (pengeboman) di Indonesia perlu mendapatkan apresiasi;

Sementara dalam konteks Papua, orang Papua yang merayakan ibadah, menggelar aksi unjuk rasa damai dalam kerangka memperingati hari HAM saja masih direpresif bahkan disiksa bagaikan merepsi teroris kelas kakap dunia melebih ABB?

Sangat konyol, lucu dan mengherankan serta ironis jika DS menyatakan bahwa Jokowi serupa dengan tokoh-tokoh dunia yang memiliki kontribusi besar meletakkan peradaban dalam sejarah dunia.

Berikut pertanyaan yang bisa direfleksikan saudara DS atas tulisannya ini: apakah Jokowi sudah mengubah dunia? Apakah Jokowi berhasil menghapuskan praktek-praktek bernuansa kolonialisme yang hingga detik ini Indonesia masih terus apply di tanah Papua? Apakah Jokowi telah berhasil menghapuskan tindakan-tindakan berbau rasisme-diskriminasi sistematis dan struktural yang sejak dahulu masih direproduksi di Papua?

Apakah Jokowi berhasil menyelesaikan berbagai kasus pelanggaran HAM yang dokumennya akan usang dan dilahap kecoa di meja-meja LSM bahkan Komnas HAM dan kejagung juga berhamburan di jendela rumah media cetak dan online di seluruh dunia?

Benarkah Jokowi layak disejajarkan dengan tokoh karismatik dan founding father penerima nobel perdamaian dunia sekelas Nelson Mandela?

Analisis

Dengan mudah dan santai, bung Denny Siregar mengeluarkan kata-kata seakan-akan Presiden Jokowi ini laksana Nelson Mandelanya orang Indonesia, karena pemaaf dan tidak dendam atas kesalahan Abu Bakar Ba’asyir yang telah terbukti sebagai otak di balik peristiwa Bom Bali dan jaringan terorisme dunia yang sudah menghilangkan banyak nyawa dan  menciptakan trauma kolektif rakyat Indonesia.

Membandingkan berbagai sisi kelebihan dan kelemahan Jokowi dengan Nelson Mandela sebenarnya sangat tidak tepat. Sebab jika kita mau melakukannya, maka itu ibarat mempertemukan ujung atas langit dan kolong bumi yang tidak akan pernah saling bersentuhan. Artinya tidak ada.

DS mestinya melihat dengan seksama perbedaan mendasar antara perilaku  dan karakter Presiden Jokowi dan Nelson Mandela secara keseluruhan dan kemudian disandingkan. Tidak secara parsial dan hanya superfisial semata; sebab akan menjadi bahan ‘tertawaan’ orang banyak. 

Mana sisi utama Jokowi yang patut dianggap serupa dengan Nelson Mandela? Tidak ada sama sekali. Berikut adalah beberapa rangkuman analisa yang patut dilihat dari kedua pribadi pemimpin ini sehingga akan menjadi jelas, perbedaan ikhwal di antara keduanya.

A. Dari Ras: Nelson Mandela berwarna kulit  hitam, ras Negroid sementara Jokowi bukan.

Soal perbedaan warna kulit ini tentunya perlu dilihat. Apakah layak, Jokowi disandingkan dengan Nelson Mandela sementara dari warna kulit keduanya berbeda. Nelson Mandela meletakan dasar sikap pemaafnya bukan kepada sesama rasnya seperti Jokowi.

Nelson Mandela memberikan maaf kepada bangsa kulit putih yang mana selama berabad-abad menganiaya dan menganggap bangsa kulit hitam bak hewan yang selalu diintimidasi dan inferiorkan sepanjang sejarah. Ini value-nya sangat luar biasa dan dahsyat.

Apakah Presiden Jokowi bisa memaafkan orang kulit hitam (Papua) jika kasus serupa terjadi di Indonesia yang mayoritas berpenduduk kulit putih ini? Jadi, kelas politik rasisme yang dimaafkan Jokowi dengan Nelson mandela ini sangat jauh.

Jokowi hanya pada kelas sesama ras dan itu barangkali hal biasa dan wajar. Karena saat ini perlakuan militer Indonesia terhadap orang Papua yang dibunuh, disiksa dan dianiaya juga melebihi  perlakuannya terhadap teroris berkulit putih sekalipun. Artinya  ada unsur rasis dalam wacana pembebasan ABB tersebut.

Jadi, menyamakan sikap maaf Jokowi terhadap ABB dan Nelson Mandela di Afrika Selatan terhadap praktek perlakuan keji bangsa kulit putih, konteksnya amat jauh dan tidak bisa dibandingkan dengan perlakuan Jokowi yang hanya sejengkal jari kelingking ini.

B. Jokowi bukan 'Founding Father', Sementara Nelson Mandela Ya

Perbedaan berikutnya yang amat jelas adalah: Jokowi adalah presiden RI ketujuh, sementara Nelson Mandela adalah presiden pertama Afrika Selatan. Nelson terpilih menjadi presiden setelah berjuang dengan damai membawa orang Afrika keluar dari perbudakan dan politik apartheid yang sangat melecehkan bangsa kulit hitam di dunia. Nelson menjadi pendiri negara sekaligus presiden pertama. Sementara Jokowi ?

C. Dari Konteks Waktu, Nelson  Mandela di Waktu ‘Past’ Yang Sangat Kejam, Sementara Jokowi di Zaman Selfie

Membandingkan perilaku pemaaf yang diilusikan DS, sangat kontras. Nelson Mandela memaafkan seluruh kaum kulit putih di dunia. Ia berani menegaskan bahwa Kita satu dan memafkan mereka pada zaman dimana perkembangan IPTEK sedang tak seperti saat ini.

Di waktu itu, apapun bisa dilakukan karena masih dalam sistem politik yang sangat mengerikan. Sementara Jokowi ada di zaman modern yang siap saji; yang tinggal terima jadi dan zaman semuanya dapat diakses dengan mudah dan cepat.

Apakah Jokowi menunjukan sifat pemaafnya atas dasar suatu penderitaan kolektif yang ia pikul sebagai pemimpin ? Ataukah karena ada apanya ?

D. Dari Sisi Penegakan Anti Rasialisme dan diskriminasi, Jokowi Masih Menjadi Pelaku Sistem Politik Apartheid yang Dihancurkan Mandela

Aspek utama Nelson Mandela memaafkan bangsa kulit putih itu bukan karena terorisme dari sesama orang kulit hitam di Afrika. Sekali lagi ini beda jauh konteksnya.

Tetapi ini tentang kebijaksanaan hati seorang Nelson Mandela memaafkan praktek diskriminasi, perbudakan, rasisme yang sangat berat yang pernah dipraktikkan bangsa kulit putih kepada bangsa kulit hitam di dunia selama berabad-abad lamanya. Apakah relevan, Anda membandingkan Jokowi dengan Mandela seperti ini?

Jika relevan, mengapa Jokowi hingga detik ini ‘tidak mampu’ menghentikan lajunya persekusi ormas dan aparat militer terhadap mahasiswa Papua di pulau Jawa di depan halaman rumah anda itu? Mengapa Jokowi tidak mampu menyelesaikan kasus HAM di Papua? Mengapa Jokowi belum juga mendorong terwujudnya dialog atau bahkan perundingan yang konstruktif sebagaimana yang dilakukan terhadap Indonesia di Aceh, di Papua?

Bukankah itu adalah bentuk nyata rasisme yang sangat bertentangan dengan UU anti diskriminasi dan rasisme di Indonesia, dan terlebih itu sangat bertentangan dengan semangat utama seorang Nelson Mandela?

Penutup

Sebenarnya masih banyak perbedaan mendasar antara sosok Jokowi dan Nelson Mandela yang dapat kita lihat dan uraikan. Tetapi cukup hanya sampai di sini, sebab jika menguraikan semua perbedaan itu sama saja hasil akhirnya Jokowi tak sama, tidak layak dan tidak sepadan jika dibandingkan dengan Nelson Mandela.

Mereka beda kelas, beda zaman, beda konteks perjuangan dan beda ras. Terlebih  setelah uraian ini, maka telah cukup jelas bahwa ada semacam waham kebesaran atau ilusi yang ditonjolkan penulis DS tentang Jokowi. Mungkin itu bagian lain dari upaya mengangkat citra Jokowi dalam ajang politik, barangkali. Padahal tidak cocok.

Bung DS semestinya mencari figur lain, selain Mandela karena karakteristik dasar keduanya sangat kontras.

Penulis: Benyamin Lagowan