Buat Award Kebohongan, PSI Harus Siap-Siap Ditinggalkan Rakyat


[PORTAL-ISLAM.ID]  Ketua DPP Partai Gerindra, Nizar Zahro, menyayangkan langkah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang membuat award kebohongan kepada Prabowo Subianto, Sandiaga Uno, dan Andi Arief. Ia menilai PSI sedang haus elektabilitas.

"Parpol memberikan award demikian itu dia dalam rangka apa, kalau untuk menaikan elektabilitas PSI sendiri saya yakin masyarakat tidak akan memilih PSI jadi award kebohongan," kata Nizar saat dihubungi, Sabtu 5 Januari 2019.

Ia menilai PSI bukan lembaga survei yang bisa menilai memberikan kebohongan kepada seseorang. Untuk itu, langkah PSI itu jelas salah besar.

"Jadi itu adalah, kelihatan sekali kalau PSI itu partai yang sangat tidak mempunyai etika dan saling menghormati sebagai partai politik. Award itu tanpa ada nilainya, yang jelas tidak kredibel dan penilaian yang dari unsur panelis yang dipakai," kata Nizar.

Dirinya pun mempertanyakan metode penilaian award kebohongan itu.

"Sekarang saya tanya, PSI memberikan award itu panelisnya siapa? Ukurannya apa? Metodologinya kayak apa. Jadi politik kayak gitu pasti akan dihukum seluruh rakyat Indonesia, lihat saja 17 April nanti," tegasnya.

Sebelumnya, PSI memberikan penghargaan Kebohongan Award kepada tiga nama di kubu Badan Pemenangan Nasional (BPN) atas pernyataan bohong yang dilontarkan ke publik dan membuat geger publik.

Mereka adalah Pasangan Capres dan Cawapres 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, serta Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief.

PSI menjatuhkan penghargaan kebohongan paling lebay kepada Prabowo atas pernyataannya soal selang cuci darah RSCM dipakai 40 kali, yang kemudian diklarifikasi oleh pihak RSCM bahwa pernyataan itu tidak benar.

Sementara Cawapresnya, Sandiaga mendapat penghargaan kebohongan hakiki karena menyebarkan pernyataan membangun tol Cipali tanpa hutang.

Sedangkan penghargaan terakhir, diberikan kepada Wasekjen Partai Demokrat Andi Arief lewat cuitannya di sosial media yang membuat geger publik dengan kabar ada 7 kontainer berisi 70 juta surat suara yang telah tercoblos di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara.

Sumber: TeropongSenayan