Kalau Bisa Bicara, Rumput Pun Akan Menjadi Saksi Aksi Bela Tauhid


[PORTAL-ISLAM.ID] Aksi Bela Tauhid kembali dilakukan oleh umat Islam dengan damai, semua berjalan lancar bahkan terhitung sebuah aksi yang menjunjung nilai-nilai Islami, dari kebersihan setelah aksi hingga tidak ada satu pun pepohonan atau rumput yang rusak terinjak oleh para peserta aksi.

Sebelumnya sempat beredar provokasi yang disebarkan oleh pihak-pihak yang memang tidak menyukai adanya aksi umat Islam tersebut, provokasi bernada satir dengan menyebut bahwa pelaku aksi adalah bagian yang menginginkan Indonesia menjadi seperti Suriah.

Provokasi hitam yang cenderung mengarahkan serta melakukan penggiringan bahwa pelaku aksi adalah pelaku anti NKRI dan berjiwa barbar, stigma negatif tersebut sengaja disebar massif selama dan setelah peristiwa pembakaran bendera tauhid disebut pembakaran bendera HTI, sehingga dibangun persepsi ke masyarakat bahwa pelaku aksi adalah pendukung HTI yang anti NKRI.

Tuduhan bahwa pelaku aksi adalah kelompok barbar dan suka melakukan kebiadaban sengaja disebar sebagai bahan untuk mendistorsi aksi yang sesungguhnya penuh dengan nilai islami.

Aksi bela Islam dan selanjutnya Aksi Bela Tauhid adalah aksi yang menggunakan prinsip prinsip Islam, Rahmatan Lil ‘Alamin yang menjadikan setiap gerakan aksi adalah gerakan rahmat bagi setiap alam, dengan tidak membuang sampah sehingga kebersihan selalu terjaga, serta tidak merusak tanaman atau menginjak rumput yang ada disekitar tempat aksi.

Lantas, bagaimanakah orang-orang yang berpegang pada prinsip-prinsip Islam adalah rahmat bagi setiap alam, dituduh sebagai orang-orang yang berpikiran barbar dan membahayakan bagi NKRI?

Kita harus ingat pada sejarah negeri ini, bahwa kemerdekaan negeri ini pula dihiasi dengan kalimat Takbir bahkan Bung Tomo pun menggunakan kalimat Takbir untuk menyemangati arek-arek Suroboyo dalam peristiwa 10 November 1945.

Seandainya saja, negeri ini terancam oleh penjajahan bangsa lain, yakinlah yang menjadi garda terdepan membela NKRI adalah mereka yang hari ini turun dalam aksi membela tauhid, karena dalam Islam, cinta tanah air adalah sebagian dari iman sementara mereka yang sibuk membangun stigma negatif kepada umat Islam, mungkin akan memilih menjadi pengkhianat bagi bangsanya sendiri atau kabur keluar negeri.

Seandainya rumput pun bisa berbicara, mereka sudah pasti akan menjadi saksi tentang sikap tidak merusak yang telah dilakukan oleh para peserta aksi bela Islam dan Tauhid. Rumput saja dijaga, apalagi NKRI.

Karena yang sesungguhnya sering melakukan kerusakan adalah justru dari mereka yang kini berlindung dengan kalimat paling Indonesia ketika sedang melakukan aksi demonstrasi, dan tanpa disadari oleh mereka justru itu bagian dari aksi barbar yang sering mereka tuduhkan.

Akhirnya yang ingin menjadikan Indonesia akan seperti Suriah, justru adalah mereka yang selalu melakukan provokasi hitam, menanamkan kebencian sektarian, menyebarkan kerusakan, serta tidak mau bersatu dalam satu ikatan kebangsaan, siapakah mereka?

Mari kita berikan kaca besar pada mereka untuk bercermin.

(bang dw)