INI BUKAN SOAL KAPAL KAMI AKAN TENGGELAM


INI BUKAN SOAL KAPAL KAMI AKAN TENGGELAM

Oleh: Abdullah Ulwan

Tulisan ini, sebagai tanggapan dari tulisan ustdz CT, yang menulis dengan judul "Berita tentang tenggelamnya kapal kami".

Tak ada yang mengingkari kok, kalau Kapal itu memang masih bergerak. Nyatanya sampai hari ini kapal masih bergerak, meski mungkin bergerak lebih lambat. Lalu, apa sebenarnya yang terjadi didalam kapal kami?

Yang terjadi pada kapal kami hari ini, bukan soal kapal masih bergerak atau sudah tenggelam. Tetapi lebih soal adanya upaya "tamhish" atau pembersihan awak dan penumpang kapal. Yang soal ini diingkari oleh penulis (CT).

Mengapa ada pihak-pihak didalam kapal yang ingin mengusir dan mencemplungkan mantan nahkoda, mencemplungkan sebagian awak kapal dan penumpang kapal kedasar laut? Dan bukankah upaya-upaya ini dlakukan sejak jauh jauh hari? Mengapa? Apa salah mereka?

Meski ada sebagian pihak yang membantah, bahwa mereka selama ini baik-baik saja, ini hanya soal pergantian nahkoda, biasa saja, siklus 5 tahunan dalam organisasi kapal, gak usah sakit hati. Kalau pengen jadi nahkoda lagi ya harus sabar lah, tunggu 5 tahun lagi, rebut itu posisi.

Sekali kali tidak!!

Ini bukan soal sakit hati sayang...bukan pula soal pengen merebut kembali nahkoda kapal.

Tetapi ini soal ada dendam kusumat nan membara, ada iri dengki yang menjangkiti maha kapten, kapten dan sebagian awak kapal yang berlangsung dalam waktu lama.

Ini juga soal adanya upaya menafikan dan pembungkaman perbedaan pendapat dalam strategi bagaimana kapal bisa berlayar dengan cepat dan selamat mencapai dermaga tujuan. Perbedaan pendapat itu biasa dan niscaya tetapi disikapi secara militeristik.

Demikian juga soal adanya upaya menutup realitas, bahwa ada persoalan dan krisis mesin dan deck kapal, krisis nahkoda dan cara mengendalikan kapal, baik kapal induk maupun kapal kapal sekoci yang tengah berlayar di berbagai pulau.

Sementara disisi lain, ada penumpang gelap dan spionase profesional yang mengacak ngacak, melakukan pembelahan, mencerai beraikan ukhuwwah dan membangkitkan kebencian antar awak dan penumpang kapal. Mereka melakukanya secara profesional layaknya inteljen negara.

Mereka melakukan dua langkah; yaitu pembelahan dan berujung pada tamhish (pembersihan).

Pembelahan pertama dilakukan mulai tahun 2009 dengan menebar issu faksi keadilan (hidup sederhana) dan faksi kesejahteraan (dianggap borjois).

Hasilnya luar biasa..!!

Penumpang mulai terbelah, mulai muncul dzon dan curiga di internal kapal. Bahkan ditebar cerita cerita fiktif berbau fitnah. Padahal mereka yang dimasukkan faksi keadilan, dicitrakan hidup sederhana, sekarang sudah berubah hidupnya 190 derajat, pake mobil alphard, rumah mewah, dll. Jadi, issu faksi keadilan dan kesejahteraan hanya issu buatan agar terjadi polarisasi dan friksi di internal kapal.

Efek issu tsb hingga menjangkit ke para penumpang kapal lain. Mereka tepuk riang gembira, dan mulai tak tsiqoh bahwa ternyata kapal itu sama saja, gak ada beda dengan kapal lain. Akibatnya plafon kapal ini terbatas..!! Kecepatanya melemah, dan tak mudah bisa mencapai dermaga tujuan.

Upaya pembelahan dan pembersihan terus dilakukan.

Suatu saat, usai rapat pleno awak inti kapal (ada maha kapten, kapten, sekretaris kapten, dan lainnya), sang maha kapten memerintahkan kepada kapten kapal agar sekretaris kapal beserta orang orangnya disingkirkan. Sang sekretaris mendengar sendiri perintah itu, karena Sang maha kapten tidak sadar bahwa sang sekretaris kapal mash ada di ruangan tsb tetapi tidak terlihat. Itu terjadi cukup lama, sebelum sang kapten kapal disergap bajak laut.

Atas perintah tsb, sang kapten kapal mulai melakukan rencananya. Mulai membatasi wewenang sekretaris dan menggeser orang-orangnya sekretaris kapal di pos-pos pinggiran. Bahkan mencatat siapa awak dan penumpang kapal yang sering masuk di ruangan kerja sang skretaris dan kemudian di-iqob dengan dipreteli posisinya. Salah satunya mencopot posisi dua orang ketua wilayah deck kapal Jatijaya karena ketahuan sering masuk ke ruang kerja sekteraris.

Jadi, hanya karena masuk ke ruang kerja sekretaris kapal mereka dicopot jabatanya.

Tidak itu saja, saat ada acara Rakornas awak kapal di suatu tempat sang nahkoda memerintahkan kepada panitia agar mencopot semua baliho dan banner sekretaris kapal. Sesuatu yang biasa terjadi bila ada acara dimana gambar kapten dan sekretaris kapal selalu berdampingan. Namun, sang kapten tak menghendaki gambar sekretaris kapal muncul.

Tidak itu saja, sang sekretaris dan anggotanya dilarang masuk dan mengikuti acara tsb, padahal mereka sudah hadir. Akhirnya sang sekretaris dkk hanya keliling keliling kota.

Pada 2013, saat sang kapten kapal "disekap" bajak laut, maka terjadilah pergantian kapten kapal. Nyaris saja kapal tenggelam tetapi alhamdulilah bisa diselamatkan. Sang sekretaris yang menggantikan kapten itulah yang menyelamatkan.

Dan hebatnya, selama masa kepemimpinan kapten baru tsb, tak ada satu awakpun yang disingkirkan, tak ada pergantian posisi kepengurusan, semua dirangkul. Andai sang kapten baru type pemimpin kerdil dan pendendam, maka pastilah mereka yang dulu mendholiminya akan diganti. Tapi semua itu tak terjadi. Sang kapten fokus menyelematkan kapal yang nyaris karam, fokus membangun kepercayaan diri penumpang, fokus agar kapal cepat sampai di dermaga tujuan dengan selamat.

Kemudian, 2014 ada pergantian kapten. Tentu, terpilih kapten baru dan sekretaris baru (yang sekarang beliau sudah almarhum).

Pada periode inilah puncak pembelahan dan tamhish.

Meski tetap sebagai sekretaris, almarhum tidak diberi peran. Pembahasan awak kapal wilayah (dptw) saja tidak dilibatkan, hanya disuruh tanda tangan. Demikain juga dalam acara-acara besar seperti rakornas awak kapal, sang sektetaris tersisih, tempat duduknya pun di tempat duduk belakang. Tak ada panggung untuknya, apalagi sekedar bicara di depan hadirin. Ini semua fakta bukan fitnah.

Sang mantan kapten kapal, yang berjasa menyelamatkan kapal dari guncangan gelombang hebat, pun dilarang bertemu atau hanya sekedar menyapa para penumpang yang dulu ikut membersamainya dalam menyelamatkan kapal.

Banyak alasan mengapa dilarang? Mereka beralasan karena menghindari wala' syakhsyi (loyalitas poersonal). Padahal, justru mereka telah melakukan baro' syakhsyi yang amat dilarang agama. Sementara wala' syakhsyi, mencintai dan mengagumi seseorang masih diperbolehkan jika tidak sampai mengkultuskan. Larangan-larangan ini sudah terjadi jauh sebelum ada pelatihan-pelatihan "pencerahan" para penumpang.

Tidak itu saja, sang mantan kapten yang terpilih sebagai capres laut, dilarang deklarasi, dan menemui penumpang. Padahal capres laut lainnya melenggang bebas deklarasi bahkan bertemu penumpang di wilayah-wilayah.

Hingga puncaknya dari tamhis ini adalah pencopotan awak kapal wilayah dan daerah yang sebelumnya didahului dengan labelisasi; siapa awak kapal dan penumpang yang warna merah, kuning dan hijau. Yang merah, harus dijeburkan ke laut setelah dicopot semua pangkat dan jabatanya. Sebelumnya, mereka terlebih dulu mencemplungkan salah satu awak kapal (FH) ke dasar lautan, tanpa alasan signifikan yang bisa dipahami penumpang dan publik.

Jadi, riak-riak dan kegaduhan yang terjadi didalam kapal bukanlah hal yang wajar tetapi by design, ada tangan-tangan luar yang menggunakan kekuasaan internal kapal untuk menghancurkan kapal. Dimulai dengan menyingkirkan kapten, awak kapal dan penumpang yang terbukti selama ini berjasa menyelamatkan kapal. Sehingga, jika mereka tersingkir, maka amat mudah tangan-tangan luar menenggelamkan kapal, atau setidaknya kapal besar diubah menjadi kapal sekoci.

Jika yang terjadi demikian, akankah mereka mereka yang dijeburkan dan yang akan dijeburkan kedalam laut diam begitu saja, pasrah, dan membiarkan deru ombak lautan menenggelamkan dirinya?.

Tidak...!!

Membiarkan diri tenggelam, tanpa berjuang menaklukkan ganasnya ombak, sama saja dengan menenggelamkan diri dalam kedholiman (dholimu linafsihi). Padahal di dada mereka tengah membara, bagaimana terus berjuang hingga mencapai dermaga tujuan.

Maka, tak ada lagi pilihan, kecuali harus mencari kapal baru yang lebih baik, lebih harmonis, lebih manusiawi, lebih bisa memberi ruang perbedaan pandangan diantara awak dan penumpang. Dan tentu, kapasitas mesin kapal jauh lebih besar, sehingga lebih cepat mencapai tujuan.

Kapal yang ada saat ini hanyalah satu diantara sekian banyak kapal. Bukan satu satunya kapal.

Kita punya tujuan yang sama, meski dengan kapal yang berbeda, tidaklah mengapa.

Mari, kita berlomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot) tanpa saling menyakiti dan menjatuhkan. Meski kami berada di kapal baru, kapal lama tetaplah kawan dan sahabat.

Kami akan tetap dan terus menghormati dan memuliakanmu kawan. Insya Allah.