Kader Akhwat PKS Australia Mengundurkan Diri, Pernyataannya Bikin Ngeri

(PKS. Ilustrasi Foto: dok.JPNN.com)

[PORTAL-ISLAM.ID] Sepertinya Partai Keadilan Sejahtera (PKS) masih dirundung masalah internal yang tidak terbendung, utamanya banyak kader yang mengundurkan diri dari partai, dan ternyata tidak hanya kader dalam negeri, kader PKS di Australia juga menyatakan mundur.

Namanya Ina Saleha, kader Madya PKS yang saat ini bermukim di Australia. Dalam surat pengunduran dirinya, Ina Saleha mengungkapkan alasannya mundur dari partai yang dipimpin oleh Mohamad Sohibul Iman itu. Menurut Ina banyak hal yang membuatnya tidak lagi bisa berada di barisan partai berlambang bulat sabit kembar itu.

Berikut isi surat pengunduran diri Ina Saleha yang tersebar via sosial media

Bismillahirrahmanirrahim

Kepada Ykh

1. Mas’ul/Ketua State ACT PIP PKS ANZ

2. Naqibah/Pembina Madya Akhwat ACT PIP PKS ANZ

3. Anggota grup madya akhwat ACT PIP PKS ANZ

4. Para ikhwah sekalian ACT PIP PKS ANZ

Assalamualaikum wr wb. Puji syukur kita panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan nikmat terbesar kepada kita iman dan Islam. Shalawat serta salam tercurahkan kepada Baginda Rasulullah saw, kepada para sahabat dan kaum muslimin hingga akhir zaman.

Saya, Ina Saleha anggota madya tahun 2013, ingin menyampaikan pikiran dan keputusan saya ke depannya. Semoga bisa dipahami dan dimaklumi.

Menurut saya, jamaah kita tercinta sedang dilanda masalah berlarut-larut dan serius. Saya merasa sedih dan sudah tidak pantas lagi berada diantara ikhwah di jamaah yang mengaku sedang berjihad. Semua berawal dari adanya kejadian:

1. Saya mendapatkan sosialisasi presentasi dokumen berjudul “Mewaspadai Gerakan Mengkudeta PKS” pada hari Sabtu, 12 Mei 2018 pukul 11.00-15.00 waktu bagian Australia di rumah kediaman bapak BM. Bertindak sebagai instruktur yang mempresentasikan yaitu Ustadz Saifunsyah. Presentasi dilakukan di depan 13 orang kader inti ACT PIP PKS ANZ. Saya secara pribadi telah lebih dulu mendapatkan softcopy dokumen tersebut pada awal April 2018. Saat itu saya hanya menshare kepada suami saya. Kesan pertama membaca isi dokumen tersebut adalah ada penolakan dalam hati dan pikiran saya bahwa ini sebuah kejahatan atau kekejian. Oleh sebab itu saya berupaya mencari tahu kejelasan dari dokumen tersebut. Singkat cerita saya dapatkan keterangan informasi dari dua orang elit DPP PKS. Pertama keterangan dari Ustadz Hidayat Nur Wahid mengatakan bahwa dokumen tersebut adalah hoax lewat pernyataan beliau “Saya tidak ada urusan dengan dokumen itu, kami di DPP tidak pernah membahas dokumen semacam itu. Sekarang era hoax, siapapun bisa membikin dokumen.” Ujar Hidayat Nur Wahid (Rabu, 18/4/2018). “PKS tidak akan menelusuri karena dokumen itu hoax,” tegasnya. Kedua, pernyataan mantan Kabid Humas DPP, Mardani Ali Sera (Senin, 16/4) yaitu “Tidak ada dokumen itu, enggak perhatian dan nggak penting.” “Tidak ada (kudeta presiden PKS),” ujarnya. Dalam artian, di satu sisi elit PKS menyatakan dokumen tersebut adalah hoax, namun di sisi lain dokumen tersebut disosialisasikan sendiri ke kader melalui jalur resmi. Salah satunya disosialisasikan di Canberra, ACT oleh Ustadz Saifunsyah dan Ustadz Yudi atas nama struktur resmi PIP PKS ANZ dan atas amanah qiyadah. Melalui slide tersebut:

a. pertama kalinya diperkenalkan istilah Osan Osin,

b. Ide pemecatan kader dilahirkan dari dokumen tersebut,

c. Ide tanda tangan blanko kosong untuk kader BCAD dari dokumen ini,

d. Fitnah dan tuduhan bermula dan diframing dari dokumen ini, semakin besar, dan terjadi terus-menerus tanpa adab islami dan tabayyun,

e. Diciptakan musuh dari dokumen dan dianalogikan seperti PKI, terutama Fahri Hamzah dianggap sebagai musuh terbesar PKS,

f. Kader ditandai dan dilabeli dengan warna merah, kuning, abu-abu, putih, biru dan hijau,

g. dan masih banyak lagi upaya personalisasi dan framing yang dilakukan melalui dokumen ini sesuai keinginan user dan operator.

Jadi pembelahan dibuat melalui dokumen, Osan diciptakan sendiri serta satu demi satu langkah-langkah penggalangan dalam dokumen direalisasikan. Presentasi Ustadz Saifunsyah Sabtu, 12 Mei 2018 membuat energi negatif melekat di PKS.


Dengan adanya kejadian ini muncul pertanyaan “Apakah ini yang disebut dakwah?”, “Apakah tarbiyah mengajarkan hal ini semua?”, “Apakah ini dakwah atau pembersihan dari orang-orang yang tidak disukai?” Dan banyak kejanggalan serta keanehan lainnya.

Konflik dalam sebuah organisasi adalah keniscayaan. Sebuah sunnatullah sebuah organisasi mengalami ujian dan cobaan. Justru yang menjadi tugas organisasi tersebut menerapkan manajemen konflik sebagaimana mestinya. Bukan upaya personalisasi terhadap orang-orang tertentu yang sangat berbahaya bagi keberlangsungan organisasi ke depannya.

Saya yang sejak dulu termasuk orang yang berpikir kritis. Ketika ada sesuatu kejanggalan, maka saya akan berusaha mencari tahu sampai ketemu keadaan sebenarnya. Supaya nalar dan logika ini tetap jalan, dan yang mengusik hati nurani ini pun terjawab. Maka saya berusaha mencari informasi agar berimbang. Bukankah tarbiyah bertujuan membentuk pribadi kader yang solid dan loyal, yang kuat pemahamannya, ikhlas bekerjanya, cerdas dan berkembang wawasannya serta totalitas dalam berjuang. Bukankah rukun baiat itu ada 10, tetapi terjadi diskon hingga 80% tinggal taat dan tsiqoh saja.

Dari proses konfirmasi, pencarian informasi dan interaksi (walau dilakukan jarak jauh dari Australia ke Indonesia), saya lakukan sejak munculnya dan dipresentasikannya dokumen tersebut, saya banyak mendapatkan informasi pembanding dengan apa yang saya dapatkan dari struktur PIP PKS ANZ dan naqibah. Singkat cerita berdasarkan informasi yang saya pro aktif mencarinya, terlebih dahulu saya sampaikan dan harapkan supaya ada islah dari perpecahan ini. Upaya islah sepertinya makin menipis bahkan tidak ada. Sehingga sampai saat ini nampaknya perpecahan atau pembelahan di internal PKS tidak dapat dielakan.

2. Saling fitnah dan suudzon diantara kader sudah pada tahap memalukan dan membahayakan hingga muncul ujaran kebencian, serta hilang adab dan etika sesama muslim. Kader yang kritis sudah dicap sebagai pembangkang. Padahal kalau kita mau husnudzon bahwa proses yang terjadi adalah dalam rangka berargumentasi dan melawan kedzaliman serta menunjukkan kepada kebenaran. Aura tersebut sampai terbawa kepada suasana usar pekanan. Apabila dalam usar membahas konflik internal PKS, menurut saya sudah tidak lagi kondusif usar yang seperti ini.

3. Diterbitkannya Tadzkirah DSP no.60/T/DSP-PKS/1439 tentang komitmen kepada jamaah. Menurut saya nuansa perpecahan atau pembersihan terus dilakukan. Tadzkirah dibacakan dalam agenda usar dan setelahnya dilakukan ikrar janji setia dan penandatanganan surat pernyataan dengan materai 6000 pada hari Ahad, 23 September 2018. Maka dengan hal tersebut saya secara pribadi tanpa ada tekanan dari pihak manapun, menyatakan keberatan untuk menjalankan ikrar janji setia dan tidak bersedia menandatangani surat ikrar janji setia sebagaimana tadzkirah DSP PKS.

4. Sepemahaman saya dengan tidak bersedia untuk menjalankan dan menandatangani ikrar janji setia-dianggap keluar dari jamaah PKS-, maka dengan ini saya mohon pamit dari keanggotaan PKS dan dari amanah amin idari grup madya akhwat ACT PIP PKS ANZ. Hal ini merupakan pilihan yang saya ambil sebagai bentuk penyikapan atas perpecahan yang terjadi di internal PKS. InsyaAllah saya akan tetap tarbiyah, beramal dan berdakwah melalui wasilah lain yang terbentuk dari perpecahan ini. InsyaAllah fikroh dakwah saya sampai seumur hidup, maka saya akan memilih bergabung dengan teman-teman sefikroh namun tidak dalam tandzim jamaah PKS.

Mohon maaf bila keputusan yang saya ambil tidak sesuai dengan harapan beberapa pihak. Saya sampaikan bahwa apabila ijtihad ini benar, saya serahkan semua kepada Allah swt. Namun bila ijtihad saya salah, maka saya serahkan dan mohon ampun kepadaNya, sebagaimana ijtihad jamaah pun belum tentu benar.

Saya sudah serahkan semua kepada Allah swt melalui doa-doa dan shalat istikharah yang terus menerus saya lakukan sebelum keyakinan keputusan ini keluar. InsyaAllah kita masih tetap bisa bekerjasama dalam hal-hal yang kita sepakati dan dapat bertoleransi terhadap hal-hal yang berbeda. Semoga Allah swt senantiasa menguatkan dan meluruskan niat kita. Kita yakini bahwa ini semua awal dan akhirnya adalah Allah swt. Siapapun nantinya yang akan mengembalikan kejayaan Islam, darimanapun asalnya saya akan sampaikannahnu awwalul anshor kepadanya.

Terakhir saya mohon dibukakan pintu maaf seluas-luasnya atas kesalahan dan kekhilafan dalam interaksi selama ini. Akhir kata, kita bekerja menuju cita-cita mulia, kemenangan atau kesyahidan atas ridho Allah swt.

Wassalamualaikum wr wb

Canberra, 29 September 2018

Ina Saleha.

*Sumber: http://sulselku.com/kader-pks-australia-mengundurkan-diri-pernyataannya-bikin-ngeri/