From Sandinomics to Sandinista


[PORTAL-ISLAM.ID]  Gaswat, Ahokers apolitis tetap Pro Joko. Sekali pun cawapresnya KH. Ma'aruf Amin. Mereka percaya Joko super briliant.

This is the most stupid group on the islands. Mereka terlalu dungu sehingga ngga sanggup eliminir element subjektif i.e. faktor like & dislike.

Bagi Ahokers, KH. Ma'aruf hanya alat. Di tengah jalan, bakal diganti oleh Puan atau Ahok. Jadi, klik Joko menang banyak.

Tugas KH. Ma'aruf memoderasi moslem. Itu efektif. Baru test medis, dia sudah berhasil sedot suara santri.

Basis primordial Joko tidak turun. Ma'aruf's effect triger surplus suara. Konservatisme bakal menguat. Ahmadiyah, Syiah, Gay, Lesbi, antek liberal, feminist are in alarmed state of mind.

Di sisi lain, Front "Sandinomics" tidak punya masalah dengan Islamisme dan keragaman. Blok oposisi hanya concern pada faktor kemiskinan. Mereka ingin mensejahterakan rakyat miskin. "Sandinomics" berkutat pada penciptaan lapangan kerja dan biaya hidup yang terjangkau i.e. menaikan gaji dan menurunkan harga.

Lawan Front "Sandinomics" kuat sekali. Blending antara praxis kiri dan konservatisme kanan.

PS-Sandi memimpin revolusi populer dengan prinsip-prinsip sosialisme. Posisinya ada di tengah. Centris. Agak kekiri-kirian. Perang melawan imperialisme gaya baru. Situasinya mirip ketika Augusto César Sandino memimpin gerakan Anti-Imperialisme di Nicaragua tahun 1930-an.

Spirit Anti-Imperialisme Cesar Sandino kembali menginsiprasi Daniel Ortega menumbangkan rezim komprador Somoza tahun 1979.

Ortega membentuk front perlawanan bernama "Frente Sandinista de Liberación Nacional" atau Front Pembebasan Nasional Sandinista.

Karena itu, "Sandinomics" sebagai paradigma harus ditransformasi menjadi praxis "Sandinista".

Sama seperti Ortega, Front "Sandinista" agaknya perlu diperkuat tiga element: militan Sandinista, pengusaha dan penulis. Itu tiga kunci Daniel Ortega menjadi pemimpin negara de facto pasca revolusi.

Penulis: Zeng Wei Jian