MERDEKA ataoe MATI

Jubir Pasukan Israel IDF Letkol Jonathan Conricus menyatakan sampai dengan 11 Oktober setidaknya 150 orang Israel saat ini menjadi tawanan di tangan kelompok Hamas, selain tentara, tawanan juga termasuk wanita, anak-anak dan lansia. Namun demikian, jumlah tersebut belum final, baik Israel maupun Hamas belum mengumumkan detail jumlah tawanan di masing-masing pihak, karena jumlah tersebut pasti akan bertambah.

“Gilad Shalit Prisoner Exchange (pertukaran tawanan Gilad Shalit)” tahun 2011 antara Israel dan Hamas, adalah salah satu kasus pertukaran tawanan antara Hamas dan Israel, dimana Hamas membebaskan seorang tentara Israel, Sersan Gilad Shalit, dan Israel membebaskan 1.027 tahanan hampir semuanya warga Palestina dan Arab-Israel, dilaporkan juga ada warga Ukraina, warga Yordania, dan warga Suriah. 280 orang diantaranya telah dijatuhi hukuman penjara seumur hidup karena merencanakan dan melakukan berbagai serangan terhadap sasaran Israel.

Jadi kalau sekarang ada 150 tawanan warga Israel itu bukan kaleng kaleng, itu bisa buat ditukar dengan ribuan warga Palestina yang saat ini ditahan di penjara Israel.

Pihak Hamas mengumumkan bahwa serangan udara Israel telah membunuh 4 orang tawanan Israel di Gaza. Jubir Hamas, Abu Ubaidah mengancam akan mengeksekusi tahanan sipil jika Israel menargetkan orang-orang di Gaza tanpa peringatan.

Keberadaan ratusan tawanan Israel sejauh ini masih menjadi 'kartu truf' bagi Hamas untuk sedikit mengurangi bombardir Israel ke Gaza.

Menghadapi kondisi seperti ini, kalangan pembuat kebijakan di Tel Aviv mulai diajukan langkah untuk aktivasi "Dahiya Doctrine" atau "Hannibal Protocol".

Pertama, Dahiya Doctrine, adalah istilah yang muncul setelah perang Israel-Hizbullah tahun 2006 yang mengacu pada pinggiran kota Beirut dan benteng utama petempur Hizbullah yang sebagian besar dihancurkan oleh jet Israel. Doktrin ini juga digunakan selama perang Gaza tahun 2014.

Panglima IDF saat itu, Rav Aluf. Gadi Eizenkot menjelaskan makna Dahiya Doctrine sebagai “langkah penggunaan kekuatan yang tidak proporsional terhadap setiap desa yang menjadi sasaran penembakan terhadap Israel, dan menyebabkan kerusakan dan kehancuran yang sangat besar, dan bagi israel target tersebut dianggap pangkalan militer”. Artinya, melalui doktrin ini, Israel menghajar sebuah desa dengan kekuatan penuh seakan menghajar sebuah pangkalan militer.

Kedua, Hannibal Protocol atau Hannibal Directive, Israel mungkin juga menerapkan praktik kontroversial kedua yang dikenal sebagai Hannibal Protocol untuk menghindari penangkapan tentara.

Protokol ini cukup kontroversi dan tidak pernah dijelaskan secara terbuka oleh IDF, namun telah dipraktikkan dalam beberapa operasi sejak diperkenalkan pada tahun 80-an.

Surat kabar Israel Maariv menjelaskan konsep ini sebagai suatu konsep “untuk bertindak dengan segala cara yang mungkin untuk mencegah penculikan dan penawanan tentara, meskipun harus menempatkan korban penculikan dalam risiko”.

Penggunaan Protokol Hannibal terakhir yang diketahui adalah dalam pemboman besar-besaran di penyeberangan Rafah di Gaza dalam perang tahun 2014 setelah seorang perwira Israel, Letnan Hadar Goldin ditangkap oleh Hamas.

Kasarnya, prinsip ini adalah mempertaruhkan nyawa tentara asal jangan sampai ditawan oleh musuh. Bagi Israel adalah penghancuran sasaran Hamas lebih diprioritaskan daripada pembebasan tawanan.

Dengan Bahasa lain, kedua konsep ini adalah konsep bumi hangus, dimana ancaman kematian tawanan tidak menjadi pertimbangan lagi bagi pihak Israel, dan dengan itu bargaining Hamas dengan tawanan warga Israel tidak berguna lagi.

Tahun 2018, seorang pilot Rusia, Kapt. Roman Filipov, ketika pesawat Su-25SM nya ditembak jatuh di Idlib Suriah dan dia terluka, Filipov memilih meledakkan diri dengan granat ketika didekati oleh para petempur Jabhat Al Nusra, sehingga dia tidak ditawan.

Mungkin begitulah skenario terburuk untuk meratakan Gaza, bagaimana dengan rakyat Gaza? Bagi mereka semua sama, tanpa perang pun setiap hari minimal 1 orang anak muda Gaza dibunuh Israel. Kalaupun dalam perang ini mereka “dihapus” dari muka bumi, mungkin itu detik terakhir bagi mereka untuk mengukir dan mengumpulkan amalan.

Mereka sudah memikirkan semua konsekuensi dari serangan 7 Oktober pagi itu, jauh hari mereka sudah tau kalau serangan itu tidak alan dibalas dengan bunga oleh Israel. Tapi akhirnya mereka memilih untuk mengikuti petuah...daripada hidup bercermin bangkai, lebih baik mati berkalang tanah..

(Saief Alemdar)

Baca juga :