Tifatul Sembiring sampaikan "HAK JAWAB" terkait Twitnya yang disebut menyindir Prabowo dan bikin KELOJOTAN

[PORTAL-ISLAM.ID] Tifatul Sembiring, politikus PKS (anggota DPR RI F-PKS, mantan Presiden PKS dan mantan Menkominfo) menyampaikan HAK JAWAB terkait twitnya yang dinilai menyinggung Prabowo.

Twit Tifatul yang juga berisi pantun itu mendapat reaksi keras dari Anggota DPR dari Gerindra, Andre Rosiade. 

Melalui akun twitternya, Tifatul lantas menyampaikan HAK JAWAB. Berikut lengkapnya...

HAK JAWAB:

1. Ada yang kelojotan, saya bikin pantun dan status di twitter tanpa menyebut nama orang atau partai apapun. Saya dikatakan menyindir, Alhamdulillah masih merasa kalau disindir…😊

2. Sangat disayangkan, rendahnya selera sastra dan bahasa politik si penanggap. Mestinya kalau dikasih pantun, ya dibalas pantun dong. Kok malah mencak2…😊 
Di alam demokrasi, jangankan menyindir, mengkritik pejabat publik itu boleh saja, asal jelas datanya.

3. Lucunya ybs nanya2 apa prestasi saya, di-banding2kan dg “oknum” dirinya sendiri. Urusanmu apa? Mengevaluasi kinerja orang dari lain partai, dan lain komisi. Selama DPR berdiri, belum ada kedengaran kelakuan aleg aneh spt ini.

4. Saya nggak mau debatlah sama “oknum” satu ini. Percuma. Logikanya saja suka aneh. Sebelum ini, belio pernah memesan PSK via online, lalu menggerebeknya di hotel bersama polisi. Untuk membuktikan bahwa di kota Padang memang ada pelacuran terselubung.

5. Hanya untuk menjatuhkan citra Mahyeldi sebagai walikota Padang saat itu. Aneh kan cara berpikir begini. Masak saya diajak debat sama “oknum” macam ini. Yah, sayang waktulah, percuma.

6. Maksud twit saya, dalam hal capres, soal ungkit2 perjanjian politik, entah itu ada atau tidak, buat apa di ungkit2 ke publik. Targetnya apa? Apa sih manfaatnya. Ada nggak dasar hukumnya yg bisa dibawa ke ranah hukum. Atau hanya sekedar menjatuhkan kompetitor?

7. Dulu pernah, saat mau pilpres, ketika satu partai besar tidak mau mendukung calon tsb, lalu di ungkit2lah perjanjian Batu Tulis begini begitu. Ramai. Tapi tidak jalan juga toh…πŸ€”

8. Nah sekarang diungkap lagi ada perjanjian dengan Anies Baswedan. Ini targetnya apa? AB nggak boleh maju, begitu?
Sudahlah, nyalon aja masing2. Situ punya jagoan, yang lain juga punya calon. Monggo…sama2 berkompetisi secara sehat…

9. Kata sang “oknum”, pantun dan status saya menyindir pak Prabowo, meskipun dalam twit tersebut, saya tak sebut2 nama beliau. Tapi dikonotasikan “oknum” tersebut. Silakan saja…

10. Soal mengkampanyekan pak Prabowo, ketika running capres tahun 2014 dan 2019, saya turun ke 7 propinsi. Keluar keringat dan keluar dana yang besar. Menggalang kader dan ummat. Bukan kaleng2. Saat itu sang “oknum” yg ajak debat ini belum lahir sebagai politisi.

11. Tapi bagi saya sekarang, suruh dukung pak Prabowo lagi, ya ogah. Bagi saya beliau sudah “enough is enough”. Cukup. Itu hak pendapat pribadi saya. Kebebasan memilih dan berpendapat. Yang lain mau dukung, silakan…

12. Soal pak Prabowo gabung dengan Pemerintahan Jokowi, itu hak beliau, silakan. Tapi soal moral politik, ada pendukung yang menilai tindakan itu negatif, jangan dilarang juga. Demokrasi itu biasa berbeda pendapat…

13. Ada petinggi sebuah partai mengatakan, bahwa Prabowo bersedia bergabung menjadi menteri pak Jokowi, untuk menjaga persatuan bangsa. Silakan saja berkilah…

14. Dulupun ibu Megawati kalah pilpres dengan pak SBY, beliau legowo, dan tidak jadi menteri SBY, aman2 aja kok. Pak Wiranto kalah dengan pak SBY, beliau tidak gabung jadi menteri pak SBY, aman2 aja kok. Allesan…πŸ˜…

15. Jadi biarkanlah masing2 partai bebas mengajukan calonnya. Mari berkompetisi dalam Pemilu secara Luber dan Jurdil. Nggak apa2 banyak calon, asalkan rakyat puas dengan pilihannya. Jangan di larang2. 

Cam manna kam rasa…😊

πŸ‘‡πŸ‘‡
Baca juga :