Membaca Peta Perpecahan PDIP

Membaca Peta Perpecahan PDIP

Oleh: Budi Saks

Dalam rangka menyambut HUT PDIP ke-50, Selasa 10 Januari hari ini, maka kubuat tulisan hasil pengamatan ini.

Sebagai partai terbesar jumlah pemilihnya hingga saat ini PDIP wajar partai banteng ini dipandang memiliki peran strategis termasuk dalam menentukan arah perjalanan bangsa. Ibaratnya rusak partai ini maka rusak negara dan lurus partai ini maka baik arah bangsa.

Sebelumnya wajib dipahami PDIP (atau PDI saja dulunya sebelum 1996) adalah partai hasil dari fusi beberapa partai politik di era Orde Lama yang digabung oleh Orde Baru yang terdiri dari Partai Nasional Indonesia (PNI), Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), Partai Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Parkindo (Kristen Indonesia) dan Partai Katolik.

Di PNI inilah para Soekarnois dan Marhaenis berkumpul sejak masa Orde Lama yang menjadikan PNI sebagai partai terbesar di masa itu. Jadi kebesaran PDI/PDIP sebetulnya mewarisi kebesaran PNI nya Soekarno dari dulu sampai sekarang.

Kita langsung lompat kemasa kini.

Jelang Pilpres 2024 partai banteng ketaton ini nampak terpecah setidaknya dalam tiga kubu.

Ohya, sebelumnya harus diketahui dulu bahwa para Soekarnois dan Marhaenis sejati terutama para senior dan veteran banyak yang berpindah ke Gerindra sejak sebelum 2014 karena melihat ideologi partai berlambang garuda itu lebih memiliki nilai nilai Marhaeinis dibanding PDIP sendiri. Para senior itu antara lain Permadi dan Bondan Winarno (keduanya sudah almarhum) yang membawa gerbong besar hingga Gerindra jadi partai terbesar kedua setelah PDIP.

Oke kita baca ketiga kelompok/kubu yang memecah internal partai ini.

1. Faksi Jokowi 3 periode

Faksi ini menginginkan Jokowi dicalonkan lagi sebagai presiden untuk ketiga kalinya atau tiga periode dengan berbagai alasan absurd dibuat buat yang bahkan usulan ini mendapat dukungan dari beberapa tokoh diluar partai. 

Yang tak disadari banyak pihak, Jokowi sekarang bukan lagi petugas dan boneka partai karena selama dua periode kekuasaannya ia terus menanam loyalis loyalisnya dalam beberapa struktur jabatan termasuk dari kalangan keluarga dekatnya. Kalau dianggap ia masih sebagai boneka maka ia langsung jadi boneka Xi JinPing alias sudah di direct langsung dari Beijing tanpa perlu melalui partai lagi. Artinya sekarang PDIP lah yang butuh Jokowi bukan sebaliknya.

2. Faksi Puan

Faksi ini apalagi kalau bukan karena hasrat Megawati melanggengkan trah Soekarno di partai.

Masalahnya, internal partai dan akar rumput paham kapasitas Puan tak mumpuni buat mengepalai partai terbesar di Indonesia ini selain karena terus dikatrol induknya yang makin tua itu.

Tapi perkara lain yang mungkin tak dipikirkan faksi ini adalah bahwa Puan ini walaupun anak kandung Megawati Soekarnoputri dan cucu Soekarno ia tak serta merta bisa dianggap sebagai trah Soekarno. Setidaknya begitu dalam kultur sosiologi masyarakat Jawa dan Bali. Dua daerah basis utama massa PDI. 

Karena ia adalah Puan Maharani bukan Puan Soekarnoputri seperti nama belakang yang jadi modal "jualan politik" ibunya. Ia Maharani binti Taufik Kiemas pria Palembang berdarah Padang.

Itu kenapa keluarga besar Soekarno pun tak mendukungnya kecuali si tante Sukmawati.

Itulah juga kenapa massa akar rumput PDIP lebih mendukung faksi ketiga dibawah ini.

3. Faksi Ganjar

Ganjar Pranowo si anak bawang yang selalu dianaktirikan partai ini padahal ia kader asli yang setia pada partai yang berproses bukan yang muncul mendadak kayak Jokowi itu dianggap mengganggu kemapanan elit partai justru karena popularitasnya di massa akar rumput pedesaan Jawa memang tak mampu melawan sistem partai dan terkesan manut manut saja dengan putusan elite.

Pada Mukernas PDIP 2018 di Bali pun namanya sudah mencuat sebagai capres 2024 namun di hari terakhir Mukernas elite partai memahami isyarat Mega untuk memajukan Puan sebagai calon pengganti Jokowi. Keputusan internal pun tak bisa menghindari nama Puan walau arus bawah menghendaki Ganjar dan ia memakai lagi kaos andalannya di depan media sebagai simbol kejengkelan sekaligus ketidakberdayaan wong cilik "asu kabeh". 
Kaos yang dulu medio 2012-2014 pernah dipakainya setelah ia lolos dari jeratan sidang saat dikorbankan elite dalam kasus korupsi eKTP yang mana ia mengakui menerima suap dalam kasus itu yang berarti dengan pengakuannya itu maka elite partai dan rezim SBY saat itu juga dapat diusut terus lewat pengakuan beraninya itu. Dan tiba tiba kasus eKTP mandeg stop ditempat (karena akan lucu kalau dua mantan presiden ditangkap atas satu kasus yang sama)...dan esoknya ia pakai itu kaos "asu kabeh"....

Ternyata juga suara arus bawah yang tak didengar elite partai demokrasi yang paling tak demokratis ini menimbulkan gerakan perlawanan yang mendeklarasikan diri sebagai "Celeng".
Hewan endemik yang walau tak mempunyai wibawa dalam kosmologi budaya Jawa seperti banteng atau kebo namun tangguh dan liar nan sulit dikalahkan di kalangan penghuni hutan alam liar.

Jadi, apa yang akan diberikan dalam pidato Ketua Umum Megawati dalam seremoni HUT partai ke-50 hari ini?

Apakah ia akan tetap memaksakan ambisinya atau menerima realitas inspirasi arus bawah?

Yang jelas jiwa ideologi Soekarnois dan Marhaen sudah lama tak bersemayam di partai itu lagi.

Selamat berdirgahayu...asu kabeh...eeh...banteng ketaton.

(fb)