Rasulullah SAW Membawa Ajaran yang Dilandaskan dengan Kemudahan dan Keringanan, Rahmat Untuk Alam Semesta

Rasulullah SAW Membawa Ajaran yang Dilandaskan dengan Kemudahan dan Keringanan

Oleh: Fahrizal Fadil

Rasulullah membawa ajaran yang dilandaskan dengan kemudahan dan keringanan. Semuanya adalah gambaran kecil bagaimana Beliau diutus sungguh sebagai kasih sayang untuk alam semesta, terlebih umatnya sendiri. 

Lihat saja ibadah yang menjadi tiang agamanya: shalat. Awalnya diwajibkan untuk dilakukan 50 shalat tiap hari, kemudian dimintai keringanan menjadi 5 shalat, dan tiap shalat diberikan pahala oleh Allah 10 shalat yang otomatis 5 shalat tersebut menjadi berpahala 50 shalat. 

Dalam ibadah yang lain, Jika umat terdahulu akan memotong baju mereka saat ada bagiannya yang terkena najis, maka umat Nabi Muhammad cukup membersihkannya dengan mencucinya dengan air. (Lihat Shahih Al-Bukhari hadits 226).

Jika dahulu Yahudi dilarang untuk tinggal satu rumah dengan wanita yang sedang haid dan meninggalkan mereka di rumah kecil jauh dari kehidupan, maka umat Nabi Muhammad hanya dilarang untuk bersenggama dengan perempuan yang sedang haid, dan diperbolehkan melalukan selainnya. (Lihat Shahih Muslim 302).

Jika dahulu Bani Israil diharuskan untuk membalas nyawa dengan nyawa (Qisas) meskipun kasusnya terjadi tidak disengaja, maka pada umat Nabi Muhammad ada yang namanya diyat (denda) jika pembunuhan yang terjadi dilakukan tidak sengaja. 

Jika dulu umat Nabi Musa saat ingin bertaubat setelah menyembah anak lembu, mereka disuruh untuk membunuh diri mereka sendiri (baca surat Al-Baqarah ayat 54), dan bahkan di antara mereka ada yang ingin bertaubat dari dosa-dosa anggota badannya, mereka diperintahkan untuk memotong anggota badan yang digunakan untuk maksiat. 

Namun untuk umat Nabi Muhammad, Allah mudahkan jalan untuk bertaubat dan kembali ke jalannya. Bahkan dalam banyak ayat, Allah dengan terang akan menerima orang yang kembali dan mengampuni kesalahannya. “Dan barangsiapa berbuat kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian dia memohon ampunan kepada Allah, niscaya dia akan mendapatkan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang”. (Q.S An-Nisa 110).

Jika dulu Bani Israil melakukan sebuah dosa, maka keesokan harinya mereka akan melihat dosa itu telah tertulis di depan pintunya: “Fulan melakukan dosa ini dan itu, dan untuk menebus dosanya ia harus melakukan ini dan itu”, dan itu terlihat oleh semua orang. Sedangkan umat Nabi Muhammad, Allah berikan nikmat satr (ditutup aib dosanya) dan kemudian jika bertaubat, Allah akan hapus dan jaga nama baiknya di dunia dan akhirat. 

Jika umat terdahulu hanya diperkenankan untuk ibadah di tempat tertentu, dan jika dia tidak ibadah di tempat tersebut, maka ibadahnya tidak diterima, maka umat Nabi Muhammad diberikan izin untuk ibadah di mana pun yang mereka inginkan. 

Dari beberapa bagian ini, kita bisa melihat jelmaan kasih sayang, rahmatnya Rasulullah bagi umatnya, bahkan alam semesta semuanya. Wa Ma Arsalnaka Illa Rahmatan Lil 'Alamin. Bukankah kita orang yang paling berhak untuk bersyukur dengan syukur yang sangat besar atas kelahirannya? 

Rasulullah diutus sebagai bentuk kasih sayang untuk alam semesta ini. Jangankan makhluk hidup, benda mati pun hidup untuk mengucapkan salam kepadanya. Pelepah kurma menangis karena rindu dengannya. Lalu bagaimana bisa, kita sebagai umatnya tidak bahagia dengan kehadirannya?

Setiap orang memiliki caranya tersendiri dalam mengekspresikan cinta, bahagia dan rasa syukurnya, saya tidak membatasinya dengan hanya melakukan maulid. Baik mengadakan maulid atau tidak, tugas kita adalah bahagia dan bersyukur dengan kelahirannya. Di antara mereka ada yang sibuk dengan Hadits, baik dengan belajar, mengajar, atau meneliti seputar ilmu tersebut. 

Ada juga yang sibuk dengan sejarah Nabi Muhammad, menceritakan lika-liku hidupnya, peperangan yang ia lewati, Tempat-tempat yang pernah ia singgahi, semuanya dibaca tak ada yang luput dari pembahasan. 

Ada juga yang menambahkannya dengan menulis puji-pujian kepada Rasulullah. Mereka habiskan waktunya demi menggoreskan tinta di atas kertas putih untuk memuji Rasulullah. Sebagaimana yang dikatakan Syekh Amin Kutbi:

وقف على المصطفى مدحي وإنشادي
قد  صـح  في  حـبه  متني  وإسنـادي

Pujian dan untaian syiirku hanyalah untuk Al-Mustafa. Isi dan segala yang mengelilinginya menjadi bukti bahwa cintaku betul-betul murni. 

لا   أنفـق   العمــر   إلا   في   مــحبته
فــإنـها   أصــل   إكــرامي   وإســعادي 

Aku tidak akan menghabiskan waktu kecuali hanya untuk mencintainya, karena cintanya adalah sumber kebahagiaan yang aku punya. 

Dan ada juga yang mengumpulkan ketiganya dalam satu waktu, lalu menamakannya dengan majlis maulid. Sungguh! Itu sangat indahnya. 

Memuji Rasulullah bukanlah hal yang baru ataupun bid'ah sebagaimana yg dikatakan sebagian orang. Tidak perlu dalil Al-Quran dan Hadits untuk ini. Cukup banyaknya sahabat yang pernah menulis syiir untuk menjadi Rasulullah sebagai dalil. Bahkan Syekh Ibn Sayyid An-Nas, penulis kitab Nur Al-Uyun sekaligus murid dari Imam Al-Bushiri, menulis sebuah kitab yang berjudul Minah Al-Midah yang mengumpulkan 129 nama Sahabat yang pernah menulis pujian untuk Rasulullah!

أرى كل مدح في النبي مقصرا
وإن بــالغ المثني عليه وأكثـرا

Aku melihat setiap pujian untuk Rasulullah begitu kurang dari yang seharusnya, meskipun orang yang memuji sudah begitu meninggikan kalimat dan memperbanyak jumlahnya. 

إذا الله  أثنى  بالذي  هو  أهله
عليه فما مقدار ما تمدح الورى

Jika Allah yang sudah memuji dengan pujian yang sesuai dengan kadar kemulian Rasulullah, lalu bagaimana kadar ukuran pujian yang dihanturkan oleh manusia yang lemah?

اللهم صل وسلم على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين

Minggu, 16 Oktober 2022.
Madinah Buuts.

(fb)