Kematian Musso Yang Mengenaskan

Kematian Musso

Wajah Musso terlihat letih dan muram. Lelaki Gempal yg lahir dari keluarga alim pada 1897 di Desa Jagung Kec Pagu Kab Kediri Jatim itu tak menyangka jika perjuangannya akan berakhir begitu cepat. 

Musso yang memiliki nama asli Munawar Musso melarikan diri bersama Amir Sjarifudin dan gerombolan PKI lainnya. Awalnya mereka adalah satu rombongan besar. Mereka bergerak ke arah utara. Mereka mencoba mendekati garis Van Mook. Berusaha mencari perlindungan di daerah yg dikuasai Belanda.

Ditengah perjalanan, Musso berselisih faham dg Amir. Keduanya saling menyalahkan atas kegagalan revolusi di Madiun (pemberontakan PKI Madiun 1948). Keduanya saling menghujat berselisih faham. Akhirnya Musso memisahkan diri dari rombongan besar. Musso hanya didampingi satu regu pengawal bergerak menuju Pacitan. Dia berusaha menempuh perjalanan laut menuju Singapura. Musso bermaksud meminta bantuan komunis internasional.

Sebagai Stalinis garis keras, Musso memiliki kedudukan penting di Komunis internasional (komintern). Dia pernah tinggal di Moscow selama 23 tahun dan memegang berbagai jabatan penting.

Semuanya berawal dari pelariannya pasca kegagalan pemberontakan PKI tahun 1926. Musso menjadi buronan pemerintah Hindia Belanda. Dia melarikan diri ke berbagai negara. Ia loncat dari satu negara ke negara lain dengan menyamar menggunakan berbagai nama. Ia pernah tinggal di Singapura, Canton/Tiongkok dan berlabuh di Moscow.

Di Moscow inilah dia mendalami dan menjiwai ajaran Marxisme Leninisme. Pada bulan Juli 1928 Musso mengikuti Kongres Komunis Internasional ke-6. Saat itu dia terlihat sangat menonjol dan berhasil memikat hati Joseph Stalin. Dan sejak itu Musso dikenal ssbagai Stalin garis keras berdarah Jawa. Musso ditunjuk sebagai Komite Executive Komunis Internasional. Sempat kuliah di sebuah universitas di Moscow, tapi drop out karena lebih sibuk berorganisasi daripada menghadiri perkuliahan.

Meskipun sudah memiliki jabatan penting di Komintern, tapi Musso selalu memiliki tujuan utama kembali ke tanah Jawa. Berusaha mewujudkan mimpinya utk menjadikan Indonesia sebagai bagian dari Komunis Internasional. Berusaha menyingkirkan kaum borjuis dan memperjuangkan kaum proletar.

Dan mimpi itu hampir ia wujudkan di Madiun. Tapi kini semua mimpinya sirna. Dia hanya mampu berkuasa selama 11 hari. Dan kini ia menjadi pelarian yg paling dicari. Nama Musso beserta fotonya dihafalkan oleh seluruh Tentara Republik Indonesia (cikal bakal TNI).

Saat itu tanggal 31 September 1948. Musso memisahkan diri dari rombongan besar. Di tengah perjalanan, Musso menyuruh pengawalnya utk membubarkan diri. Dia akan melarikan diri sendirian dg menyamar sbg rakyat jelata. Musso berpikir jika dalam rombongan, meskipun tidak banyak, tetap akan mengundang kecurigaan. Maka solusinya adalah berjalan sendirian dg menyamar.

Kemudian Musso melepaskan kemejanya dan mengganti dg kaos oblong. Celananya dilipat hingga lutut. Dan bawaannya dibuntal sarung yg dicangklongkan ke pundak. Musso menutupi kepalanya dg caping. Dg harapan bisa menyembunyikan wajahnya.

Meskipun sudah berusaha menyamar sebagus mungkin, tapi penampilan Musso masih mencurigakan. Kulitnya yg bersih dan tangannya yg mulus menyebabkan ia terlihat bukan seperti petani biasa.

Sewaktu akan melewati Pos Kesehatan Balong, Musso melihat seorang pegawai kelurahan sedang berbicara dg polisi. Musso menenangkan dirinya dan melangkah dg tenang.

Polisi yg bernama Rejosudarmo itu memberhentikan Musso dan memeriksa buntalannya. Di dalam buntalan tsb terdapat celana, ikat kepala dan jas hujan. Dan di dalam saku jas hujan terdapat sebuah kertas beraksara Rusia. Seketika Rejosudarmo kaget dan menanyakan perihal kertas beraksara Rusia itu. Musso yg temperamen langsung kalap. Tanpa banyak cingcong, Musso otomatis menembak Rejosudarmo. Sang Polisi seketika roboh.

Kemudian pegawai kelurahan yg bernama Soewarno itu melompat dan berteriak minta tolong. Juga berteriak bahwa ada mata-mata.

Sejumlah pemuda segera berdatangan dan membawa Rejosudarmo ke pos kesehatan. Sementara yg lain mengejar Musso.

Melihat ada yg mengejarnya, kontan Musso lari tunggang langgang. Dia membajak sebuah dokar dg menodongkan pistolnya kepada kusir. Para pengejarnya menyusul dg naik sepeda. Diantara para pemuda pengejar tsb ada anggota Dewan Pertahanan Masjumi (DPM) yg bernama Benu.

Sembari mengayuh sepeda, Benu menyuruh dokar berhenti. Seruannya dijawab tembakan pistol. Benu balas menembak. Terjadilah baku tembak antara penumpang dokar dan pengendara sepeda.

Sesampai di Desa Semanding, datang mobil dari arah berlawanan. Benu buru-buru menghentikan mobil. Di dalamnya ada lima orang perwira.

Dari dokar, Musso mengarahkan tembakannya ke mobil. Tak ayal, para perwira itu berhamburan keluar lalu balas menembak dokar. Kuda dokar mati tertembak dan si kusir lari menyelamatkan diri.

Tiba-tiba tembakan para perwira itu berhenti, ternyata pelurunya habis. Ini memberi peluang Musso utk menghujani para perwira itu dg tembakan. Mereka berlarian menuju markas tentara.

Melihat mobil ditinggalkan begitu saja, Musso berusaha membajak mobil tsb. Tapi malangnya mobil tersebut tidak mau jalan. Musso bertambah panik. Dia cepat-cepat keluar dari mobil dan lari mencari tempat persembunyian. Kejar-kejaran membuat dia haus. Saat melihat sebuah warung, dia mampir mengambil minum lalu pergi lagi. Musso tak menyadari keberadaan Benu dan teman-temannya anggota DPM yg berlindung di balik pohon. Mereka hanya berjarak sepuluh meter dari Musso. Benu berusaha menyergap Musso dalam keadaan hidup. Mereka hendak membujuk sang buronan.

Benu memberikan dua buah mangga kepada Musso dg perantaraan anak gembala yg kebetulan lewat. Lantaran sangat lapar, Musso segera melahap mangga tsb.

Tak dinyana, dari arah utara datang perwira yg tadi baku tembak. Perwira tsb membawa pasukan satu seksi. Para pemuda DPM kaget dan segera melarang mereka utk menembak sebab sedang ada upaya pembujukan. Tapi para perwira tsb tidak peduli.

Musso yg sudah lari dan mencapai emperan sebuah rumah ditembaki. Segera dia mencari perlindungan dan masuk kamar mandi yg menjadi satu dg wc. Kamar mandi tsb berada di luar rumah. Tentara terus menembaki. Entah kenapa, Musso nekat keluar. Peluru watermelon mengoyak lengan kiri atas dan peluru karaben menembus dada kiri. Musso roboh bersimbah darah.

Mayat Musso dibawa ke pos kesehatan. Diidentifikas oleh para medis utk membuktikan bahwa orang tsb benar2 Musso. Dan ternyata memang mayat tsb benar2 Musso pemimpin pemberontakan PKI di Madiun.

Kemudian mayat tsb dibawa ke alun-alun Ponorogo, dipertontonkan kepada khalayak ramai. Tak lama kemudian mayat Musso dibakar hingga menjadi abu berserakan.

Mayat tsb sengaja dibakar dg pertimbangan agar para pemgikut Musso tidak ngalap berkah ke makam Musso. Pemerintah faham bahwa di masyarakat masih sangat banyak terdapat orang PKI. Apabila mayat musso dimakamkan, niscaya para simpatisan PKI akan mengagungkan makam tsb karena Musso dianggap sebagai pahlawan bahkan Ratu Adil Kaum Merah. 

(Widi Astuti)