Ini salah satu kisah yang membuat saya kagum dengan tradisi keilmuan ulama-ulama terdahulu...

DATA

Ini salah satu kisah yang membuat saya kagum dengan tradisi keilmuan ulama-ulama terdahulu. Abah dahulu bercerita, Imam Syafi'i pernah sekali waktu beberapa hari menghabiskan waktu di pasar di Kairo. Ia membawa pena dan kertas kemudian menanyai satu persatu perempuan akil baligh yang datang ke pasar. Pertanyaannya barangkali membuat para perempuan terkejut kala itu: Berapa hari biasanya mereka menjalani menstruasi dalam sebulan?

Pada masa sekarang, kita orang sudah akrab dengan yang namanya survei. Tapi pada masa Imam Syafi'i pada akhir abad ke-8 dan awal abad ke-9, metode itu belum lazim sama sekali. 

Dalam ilmu fiqih, jenis penelitian yang ia lakukan disebut istiqra'. Jawaban yang kemudian didapat Imam Syafi'i dan jadi sandaran fatwanya, perempuan bisa mengalami haid paling lama 15 hari. Dengan jawaban itu, kondisi apapun setelah 15 hari itu tak menghalangi perempuan melakukan ibadah seperti biasanya. Saat orang-orang sezamannya barangkali masih sibuk bertanya "Mana dalilnya?", Imam Syafi'i bergerak lebih maju dengan bilang "Begini datanya".

Ada cerita satu lagi. Pada sekitar 1000 masehi, Abu Rayhan al-Biruni mengumpulkan banyak sekali data soal koordinat kota-kota di sekitar Khawarizmi, tempatnya tinggal. Tujuannya, agar bisa menentukan arah kiblat dari masing-masing lokasi tersebut. Ia catat juga koordinat dari seluruh Asia, Eropa, dan Afrika yang bisa ia dapatkan datanya. 

Hasil dari keseluruhan data itu setelah dirangkum, mengejutkan bagi Al-Biruni. Pasalnya, kala itu ia sudah berhasil menghitung panjang diameter dan jari-jari Bumi. Sementara seluruh wilayah yang terekam dalam catatannya hanya meliputi sekitar dua per lima dari keluasan yang ia hitung tersebut.

Ia kemudian meyakini, tak mungkin sisa wilayah yang belum terpetakan itu lautan semuanya. "Hukum alam yang memicu munculnya daratan Asia dan Eropa pasti juga berlaku di wilayah yang belum terpetakan itu," tulisnya. Ia melanjutkan, sangat mungkin ada satu atau dua benua di wilayah tersebut. Dan demikianlah, tanpa berlayar jauh-jauh, hanya berbekal data dan akal yang cemerlang, Al-Biruni secara teoritis sampai di benua Amerika lebih dulu dari para penjelajah Eropa di abad ke-16.
Data, sangat mungkin disadari para ilmuwan Muslim, adalah elemen penting dalam pengetahuan. Jika tidak, apa pula gunanya mereka merangkum begitu banyak. Mulai dari ribuan data pergerakan benda-benda langit, tarikh dari rerupa peradaban, iklim di berbagai permukaan bumi, elemen-elemen kimiawi, naik turunnya permukaan sungai, sampai daftar panjang perawi hadits.

Yang mereka pelopori, berkebalikan dengan sikap pejabat-pejabat kita terhadap data. Yang diretas belakangan bahkan dibilang bukan data penting, mengabaikan bahwa secara makro, tak ada satupun data yang tak penting. Jika ditaruh pada konteksnya, ada daya pada data manapun.

Saat para astronom di Observatorium Maragheh seperti Nasiruddin al-Tusi, Muhyiddin al-Maghribi, Najimuddin al-Qazwini mencatat dengan teperinci pergerakan bulan dan planet-planet pada abad ke-13, mereka belum sepenuhnya paham kegunaan data-data tersebut. Baru pada abad ke-15 Copernicus menggunakan data-data itu untuk menguatkan teori heliosentrisnya dan merevolusi pemahaman manusia soal alam semesta.

Sampai nanti bangsa Indonesia ini juga belajar menghargai data-data, saat itulah baru kemajuan bisa benar-benar kita akselerasikan…

(Fitriyan Zamzami)

*fb