Hijrah: Kenapa ke Madinah?

Hijrah: Kenapa ke Madinah?

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc., MA

Penghitungan tahun Hijriyah itu didasarkan pada tahun dimana Nabi SAW hijrah ke Madinah.

Yang jadi pertanyaan : kenapa Nabi SAW memilih Madinah sebagai tempat hijrah? Kenapa bukan Habasyah atau Thaif?

Jawabannya menarik untuk direnungkan dan didiskusikan.

1. Habasyah dan Thaif

Meski Raja An-Najasyi masuk Islam, namun rakyatnya yang Nasrani ternyata tidak ada yang masuk Islam. Bahkan konon keislaman An-Najasyi disinyalir dilakukan diam-diam, takut ditentang oleh rakyatnya sendiri.

Maka memigrasikan seluruh pemeluk Islam sekota Mekkah ke Habasyah nampaknya bukan pilihan tepat.

Apalagi kalau hijrah ke Thaif, lebih tidak tepat lagi. Karena tipikal penduduk Thaif mirip-mirip dengan musyrikin Mekkah. Kedatangan Nabi SAW berdua dengan Zaid bukan disambut tapi disambit.

2. Penduduk Madinah Banyak Muslim

Lain halnya dengan Madinah, jauh sebelum Madinah ditetapkan sebagai lokasi hirjah, sudah banyak penduduknya yang masuk Islam.

Bahkan Nabi SAW sempat mengirimkan seorang juru dakwah bernama Mush'ab bin Umair ke Madinah.

Hasilnya luar biasa, sampai 12 kepala suku dari Aus dan Khazraj telah berbai'at sumpah setia di Aqabah Mina saat haji untuk membela Nabi SAW dan Muhajirin sampai tetes darah penghabisan.

Secara dukungan masyarakat, Madinah sangat siap mendukung dakwah Nabi SAW, bahkan siap dijadikan pusat dakwah.

3. Yahudi Madinah

Sementara itu di Madinah juga ada kaum Yahudi. Di masa itu Yahudi belum jadi musuh. Justru keislaman penduduk Madinah sedikit banyak dipengaruhi oleh doktrin kaum Yahudi dengan ajaran agama samawi.

Perlu diketahui juga bahwa sebagai sesama agama samawi, ajaran Yahudi punya banyak kesamaan ajaran dengan risalah yang dibawa oleh Nabi SAW.

Malah di awal pensyariatan, shalat yang diperintahkan kepada Nabi SAW masih menghadap Baitul Maqdis. Dan itu adalah kiblat shalatnya orang Yahudi.

Bahkan Nabi SAW ikut berpuasa di tanggal 10 Muharram, padahal itu hari raya kaum Yahudi.

Selain itu Nabi SAW juga amat menghormati Nabi Musa sebagai junjungan orang Yahudi.

Mereka berdua pernah ketemuan saat Mi'raj ke langit tujuh. Bahkan Nabi Musa sempat menyarankan minta keringanan jumlah shalat fardhu yang awalnya 50 waktu jadi tinggal 5 waktu.

4. Piagam Madinah

Yahudi Madinah pada masa awal masih bisa diikat dan dijinakkan lewat perjanjian Piagam Madinah.

Piagam ini kalau ditaati akan membuat kehidupan antar agama menjadi harmonis.

Namun bila dilanggar bisa dijadikan dasar hukum untuk menghukum dan mengeksekusi sempalan-sempalan ekstrimis Yahudi di Madinah, kalau mereka bikin ulah.

Dalam kenyataannya, beberapa ekstrimis Yahudi diusir dari Madinah, malah ada juga yang dihukum mati massal dengan cara disembelih lehernya sebanyak 900 orang.

Namun mereka yang tetap berintegritas dan menjaga perjanjian dengan Nabi SAW juga banyak. Mereka ini Yahudi tapi tetap mendapatkan perlindungan dari Nabi SAW, karena mereka tetap setia kepada Piagam Madinah.

Maka ketika Nabi SAW wafat, beliau masih punya hutang dengan seorang Yahudi. Dia Yahudi yang setia, bukan yang oplosan dan berkhianat kepada Nabi SAW.

5. Memotong Jalur Perdagangan Quraisy

Salah satu nilai tambah Madinah kenapa dipilih jadi lokasi hijrah adalah karena posisinya yang strategis berada di jalur perdagangan Mekkah ke negeri Syam.

Fakta ini cukup membuat para pemuka Mekkah ketar-ketir juga. Sebab bangsa Quraisy memang bangsa pedagang, yang kehidupannya 100 persen mengandalkan perdagangan.
Dan jalur perdagangan ke Syam teramat penting buat mereka. Dan Madinah ada di tengah jalur perdagangan itu. Kafilah dagang mereka bisa saja terganggu oleh keberadaan kaum muslimin di Madinah.

Dan kekhawatiran mereka langsung jadi kenyataan, sebab dua tahun kemudian terjadi Perang Badar, dimana pemicunya karena kafilah dagang Mekkah dicegat oleh kaum muslimin Madinah.

Parahnya, meski sudah dapat tambahan 1.000 personil, pasukan Mekkah dikalahkan dalam Perang Badar. Maka aksi balas dendam pun terpaksa mereka lakukan setahun kemudian dan pecah lah Perang Uhud.

* * *

Menarik dan ini jarang diulas, baru enam tahun hijrah ke Madinah, terjadi perjanjian damai yang disebut Perjanjian Hudaibiyah.

Masa perang antara Mekkah dan Madinah berakhir sudah. Keduanya sepakat melakukan gencetan senjata untuk masa 10 tahun.

Namun perjanjian itu baru berusia 2 tahun, terjadi pengkhianatan dari pihak sekutu Mekkah. Maka Nabi SAW pun gerak cepat menaklukkan Mekkah.

Setelah Mekkah ditaklukkan, otomatis tidak perlu lagi pemeluk muslimnya hijrah ke Madinah. Sebab baik Mekkah atau Madinah keduanya menjadi pusat agama Islam.

(fb)