Maria, Maryam, Wanita yang sangat suci dan terhormat, Lalu dijadikan iklan Miras???

Maria, Maryam

Bayangkan, ada seorang perempuan. Yang sungguh-sungguh menjaga kesucian hidupnya, lantas tiba-tiba malaikat datang, mengabarkan dia akan hamil. Aduh, dia kaget sekali. Bagaimana rumusnya? Bagaimana logikanya? Dia wanita baik-baik, jangankan macam-macam, duh, hidupnya lurus tak punya cela. Kok bisa hamil?

Tapi itu kabar dari langit. Bahwa dia akan hamil. Maka hamil sudahlah.

Itu jelas bukan hal mudah. Beraaat sekali. Bagaimana tatapan tetangga, bagaimana penilaian orang-orang. Terlebih dari itu, hamil itu sendiri memang berat. Payah fisik, payah rohani. Sampai-sampai, perempuan ini berseru, “Wahai, betapa (baiknya) aku mati sebelum ini, dan aku menjadi seorang yang tidak diperhatikan dan dilupakan.” Tanyakanlah ke Ibu-ibu kalian, apa rasanya melahirkan.

Lahirlah anak laki-laki. Suci. Mulia.

Inilah kisah Maryam, atau Bunda Maria, atau apapun kalian menyebutnya dalam agama masing-masing. Wanita yang juga sangat suci. Mulia.

Baca kisahnya di kitab-kitab suci kalian. Dia wanita terhormat.

Maka, sungguh menjijikkan menyaksikan, ada sekelompok orang yang tertawa-tawa, hahaha, hihihi, menjadikan nama itu sebagai bagian promosi minuman keras. Digabungkan pula dengan nama Nabi Muhammad.
"Tapi kan sejak kapan minuman keras kenal agama? Tapi kan, itu cuma nama. Tapi kan, niat kami baik. Tapi kan, kami cuma bercanda. Nggak usah lebay lah, itu cuma lucu-lucuan saja." 

Duh Gusti, inilah era saat kebencian, kedengkian, dan ketololan luar biasa berpilin dengan subyektifitas, cinta kelompok, nafsu eksis, cinta materi, dll, dsbgnya secara simultan membangun sebuah piramida tinggi, persis seperti piramida yg dibangun Fir'aun dulu.

Dan sedihnya, kamu muslim? Kamu malah mendukung iklan miras ini? Ambyar deh!

Kamu Kristen, dan kamu juga mendukung iklan miras ini? Membelanya?

Ciyus deh, kamu teh kenal tidak sih dengan nama ini? Perjuangannya? Sejarahnya? Atau kamu memang sejenis saja dg para pembuat iklan ini. Tertawa. Menertawakan agama. Untuk kemudian memilih hidup bebas, mabuk2an, sesama jenis, dan semua hal lainnya.

Ayolah, Kawan, kapan kamu akan kembali membuka kitab sucimu. Apapun agamamu. Jangan biarkan kitab sucimu berdebu saja di lemari sana.

(by Tere Liye)

*fb penulis