KEBANGKITAN YANG TAK TERDUGA

KEBANGKITAN YANG TAK TERDUGA

Kalimat Syahadat itu terdengar pelan, namun diucapkan dengan penuh keyakinan. Mereka yang manyaksikan ikut bernafas lega. Hidayah bisa menyapa siapa saja. 

Ia adalah Chagatai Khan. Ayahnya bernama Chagadai Khan dan ibunya Ergene Khatun. Tak banyak yang tahu siapa itu. Namun kalau disebut nama kakeknya, barulah paham. Ia adalah keturunan Jengis Khan

Begitu mengikrarkan kalimat syahadat pada 1252, ia mengganti namanya menjadi Mubarak Shah. Penguasa pertama dalam sejarah Kekhanan Chagadai yang memeluk Islam.

Begitulah sejarah tercipta. Tak akan ada yang menyangka keturunan Jengis Khan dan Hulagu Khan, penguasa Mongol yang meluluhlantakkan Bukhara hingga Baghdad, akhirnya bersyahadat.

Tak sekadar mengucapkannya, ia pun menjadi pembela Islam. Ia memerintah dengan adil. Menertibkan administrasi dan birokrasi sehingga pemerintahan berjalan efektif dari pusat sampai ke daerah. Kekuasannya meliputi Transoxiana hingga selatan Laut Aral dan Pengunungan Altai. 

Bila Allah berkehendak, maka akan disediakan sebabnya.

Peristiwa hancurnya Baghdad justru membawa keturunan Hulagu Khan mengenal Islam. Agama baru yang sangat asing bagi bangsa nomaden di tengah Gurun Gobi itu.

Tercatat Jengis Khan merupakan penganut shamanisme atau tengrisme. Sebuah kepercayaan yang meyakini kehidupan berasal dari Dewa Langit Biru dan Dewi Gunung.

Tak semua rakyatnya Mongol mengikuti kepercayaannya. Ada juga yang menganut Kristen Nestorian, Buddha, dan belakangan Islam.

Sejatinya Islam telah sampai ke wilayah itu sejak masa Daulah Abbasiyah yang meluaskan wilayah hingga Transoxiana, dataran subur antara Sungai Amu Darya dan Syr Darya di Asia tengah, pada abad ke 10 M.

Pusat kekuasaannya membentang sepanjang 2.000 km di perbatasan empat negara modern saat ini, yakni Mongolia, Cina, Kazakhstan, dan Rusia.

Di sisi lain, kekalahan pasukan Mongol oleh Sultan Saifuddin Muzaffar Al-Qutuz di perang Ain Jalut juga menyisakan perseteruan antara Hulagu dengan Berke Khan. 

Berke Khan merupakan putra Jochi Khan, anak bungsu Jenghis Khan. Ia pun seorang mualaf yang sangat bersemangat membela kehormatan agama barunya: Islam.

Perebutan kekuasaan terus terjadi di antara keturunan Jengis Khan, hingga muncullah nama Tughluq Timur yang berhasil menyatukan kekuasaan yang tercerai-berai itu.

Salah satu jenderalnya yang luar biasa kelak akan dikenal sebagai Timur Lenk. Ia dibesarkan di kota Samarkand yang sangat indah dan menjadi salah satu mercusuar peradaban pada waktu itu.

Di tempat itulah ia belajar menguasai bahasa dan budaya Mongol, Persia, dan Turki. Dari sanalah, kecintaannya pada ilmu mulai tumbuh.

Nama Timur Lenk sampai saat ini seringkali mengundang kontroversi dan perdebatan. Ada yang menggambarkannya sebagai sosok pemimpin yang bengis dan kejam dengan membuat gunung tengkorak manusia di negeri-negeri jajahannya.

Namun, bagi yang pernah mengunjungi kota Samarkand, yang sekarang menjadi bagian dari negara Uzbekistan, akan mendapat gambaran yang lebih adil akan sosoknya.

Ia adalah seorang pemimpin pemberani, karena di dalam tubuhnya mengalir darah Turki dan Mongol. Ia sangat mencintai ilmu pengetahuan, terbukti dengan banyaknya bangunan bekas madrasah yang ditinggalkannya.

Ia juga seorang pria romantis yang membangunkan sebuah masjid yang sangat indah untuk istri tercinta, Bibi Khanum, yang merupakan keturunan Jengis Khan juga. Bahkan keindahan masjid itu masih bisa disaksikan hingga hari ini. 

Kebangkitan Islam bisa terjadi dari mana saja, tersebab apa saja. Hari ini diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional, semoga bisa menjadi titik awal kebangkitan umat Islam di negeri tercinta. 

(By Uttiek)