DITIPU ELJIBITI

Oleh: Azwar Siregar

Sekitar empat tahun yang lalu. Ketika K Water Indonesia baru saya dirikan. Saya punya dua anak buah yang menderita Eljibiti (saya menganggap Eljibiti sebagai Penyakit Kelainan Orientasi Seksual).

Kedua mantan anak buah saya itu di kesehariannya bagus. Sopan. Ramah dan cenderung lebih luwes dalam pergaulan.

Kebetulan, salah satu diantaranya malah jauh sebelumnya sudah pernah jadi anak buah saya di Perusahaan Marketing-PMA milik Swedia. Jadi saya mengenalnya sudah sangat dekat. Sudah seperti keluarga sendiri.

Untuk orang seperti saya yang tidak terlalu paham dunia eljibiti, dulunya saya pikir penyakit eljibiti itu cuma laki-laki yang kemayu. Artinya laki-laki yang merasa dirinya seorang Perempuan.

Ternyata salah satu anak buah saya itu malah merasa dirinya sangat laki-laki (Penampilannya memang sangat jantan) tetapi memang cenderung menyukai dan mencintai laki-laki.

Selama bekerja dengan saya, keduanya selalu saya arahkan untuk mulai hidup normal. Karena sudah dekat dan sudah seperti keluarga, serta usia mereka sudah cukup dewasa, sering saya minta menikah secepatnya. Tentu saja menikah normal dengan Perempuan.

Keduanya berkali-kali juga menginformasikan perkembangan "percintaan" mereka. Sekali lagi, tentu saja dengan Perempuan. Dan kabar terakhir akan segera melepas masa lajang. Alhamdulillah.

Tidak lama Covid 19 datang. Semua program dan rencana bisnis berantakan. Mereka berdua juga memutuskan mengundurkan diri. Tetapi tetap saya berusaha saya pantau perkembangan dari rencana pernikahan mereka.

"Nggak mungkin Pak. Bapak dibohongi," kata Anak buah saya yang lainnya. 

Dia kemudian menceritakan kalau sama ini keduanya sering check in di Hotel. Satu sering dibooking dan satu lagi malah sering membayar laki-laki untuk diajak check in dan tidur bersama.

Sifat saya memang cenderung mudah percaya kepada ketulusan orang lain. Dan kabar ini tentu membuat saya sangat terkejut. Saya menyadari betapa manipulatifnya para penderita eljibiti ini.

Yang membuat saya semakin terkejut. Informasi tambahan lainnya tentang pacar-pacar dan simpanan dari kedua mantan anak buah saya ini.

Misalnya ada satu anak SMA, seorang anak muda normal yang punya pacar seorang anak gadis. Tetapi dia mau menjadi simpanan anak buah saya karena dikasih uang. Kabarnya mulai rusak setelah sering main dan bergaul dengan Eljibiti Pemilik Salon Kecantikan.

Dari kasus di atas ada sebuah Pelajaran Penting: Kasus Eljibiti bisa menular dari Pergaulan. Orang yang orientasi seksualnya normal bisa berubah jadi Eljibiti. 

Artinya saya meyakini kalau Eljibiti ini sebuah penyakit yang berhubungan dengan mental. Sama saja misalnya dengan Pemabuk atau Koruptor.

Kalau kita bergaul dengan Pemabuk, kemungkinan besar kita juga akan ikut mabuk dan lama-lama akan ikut jadi Pemabuk.

Lanjut dengan pacar-pacar mereka. Ada juga Laki-laki Paruh baya Berseragam. Sudah berkeluarga. Hidup berkecukupan. Kalau jenis ini biasanya yang membooking. Atau sebut saja yang membayar.

"Si ini sering dijemput Konsumen kita yang pakai Produk ini Pak. Dijemput pakai mobil," cerita anak buah saya.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Betapa penyakit eljibiti sudah merasuk sampai ke semua lapisan masyarakat kita. Kalau sudah berbicara penyakit eljibiti. Semuanya samar dan abu-abu. Karena bisa saja orang tersebut dikesehariannya adalah Tokoh Masyarakat. Mengingat yang bersangkutan berseragam.

Sekali lagi saya berkeyakinan kalau Eljibiti semacam penyakit mental. Mungkin ada yang bawaan. Tetapi tetap saja adalah sebuah penyakit mental. Misalnya ada yang jadi Pencuri karena salah pergaulan. Tetapi aja juga Kleptomania (Gangguan kontrol impuls yang menghasilkan dorongan tak tertahankan untuk mencuri).

Poin positifnya, kalau orang normal bisa berubah jadi Eljibiti karena pergaulan, maka seharusnya Eljibiti juga bisa berubah normal kalau pergaulannya normal.

Sekarang saya mau masuk ke pembahasan terakhir.

Kemarin saya menonton Video debat Petinggi MUI (sudah pasti menentang eljibiti) dengan seorang ahli seksologi yang mendukung Eljibiti.

Saya melihat narasi-narasi dari Petinggi MUI cenderung hambar dan tidak terlalu argumentatif. Lebih menekankan kepada pelarangan karena dilarang oleh Al-Quran. Titik.

Argumen seperti ini sangat mudah dipatahkan. Misalnya dengan menyebut kalau pelaku eljibitinya bukan Muslim. Selesai. Tidak mungkin dong, orang Non Muslim kita minta patuh kepada larangan Al-Quran.

(Saya baca di media, sampai ada Umat Agama lain yang menyatakan di Agama dia ada Dewa-Dewinya yang berubah dari Laki jadi Perempuan)

Kemudian muncul juga pembelaan dengan mengatakan kalau Eljibiti juga ciptaan Tuhan. Tidak ada orang yang mau jadi Eljibiti. Tapi kalau Tuhan sudah menakdirkan demikian, mau bilang apa?

Padahal Tuhan juga yang menciptakan Orang yang menderita Kleptomania. Apakah perilaku Kleptomania harus kita biarkan dengan alasan di atas?

Wow...

Makanya saya pikir, penolakan terhadap perilaku eljibiti ini harus fokus kepada basis argumen dasar bahwa eljibiti adalah sebuah Penyakit.

Namanya Penyakit ya harus disembuhkan. Bukan dibiarkan apalagi diminta Pemakluman dan kemudiaan Penerimaan.

Lagipula kalau berbicara Penyakit, sudah tentu kita akan fokus ke Penyakitnya. Jadi yang kita tolak adalah penyakitnya. Bukan orangnya.

Mau secara ilmiah maupun secara Agama, pembuktian Eljibiti sebagai sebuah Penyakit sangat mudah. Lihat saja susunan tubuh manusia. Mur dan Baut itu berpasangan. Tidak bisa memasangkan mur dengan mur atau sebaliknya baut dengan baut. Hanya orang gila atau sakit mental yang memasangkan mur dengan mur atau baut dengan baut.

Kalau ada pembelaan yang menyebutkan perilaku eljibiti tidak sepantasnya ditolak, karena tidak merugikan orang lain. Pembelaan seperti ini sangat dangkal dan salah besar.

Perilaku Eljibiti adalah Kejahatan Kemanusiaan yang sangat mengerikan. Karena keberlangsungan kehidupan manusia di Bumi terancam punah dengan perilaku mereka.

Selain penyebaran Penyakit, coba di tes, para eljibiti ditempatkan di dua pulau berbeda. Satu khusus buat yang berkelamin laki-laki dan satu lagi khusus yang berkelamin Perempuan.

Mari kita tunggu selama 80 tahun. Saya yakin setelah 80 tahun maka kehidupan manusia di kedua pulau tersebut akan punah!

Oh iya. Jangan-jangan Dinosaurus dulu punah karena 66 juta tahun yang lalu tiba-tiba semuanya jadi eljibiti....

"Tapi menurut Ilmuawan, Dinosaurus Punah karena Bumi dihantam Asteroid bang"

Lha iya. Para Dinosaurus tiba-tiba semua menjadi eljibiti. Kemudian Tuhan murka. Mengirimkan sekalian asteroid untuk memusnahkan mereka. Sama seperti umat Nabi Luth. Dikirim azab gempa bumi, longsor dan hujan batu (asteroid?). Musnah tidak bersisa.

"Berarti Tuhan kejam dong bang. Memusnahkan Umat Nabi Luth?"

Justru Tuhan Maha Baik. Menurut saya Tuhan hanya mempercepat keinginan Umat Nabi Luth yang ingin punah. Keinginan dikabulkan kok dibilang kejam?

(fb)