Mengapa Mereka Rasisnya Hanya kepada Arab dan Gurun? Ternyata Warisan Kolonial Belanda, Mereka "Centheng Kompeni"

Centheng Kompeni

Mengapa sobat rahayu potensi rasisnya hanya kepada arab dan gurun? Ini terkait dengan pemikiran keagamaan dan politik leluhur mereka. Dalam penelusuran saya, sikap anti arab di masyarakat Jawa itu sumbernya dari Darmogandhul, yang sudah sering saya tulis.

(*Serat Darmagandhul adalah karya Sastra Jawa Baru berbentuk puisi tembang macapat yang menceritakan jatuhnya Majapahit karena serbuan tentara Demak yang dibantu oleh Walisongo.)

Cendekiawan misionaris era kolonial sangat berperan dalam hal ini, karena pasca Perang Jawa dan Pangeran Diponegoro kalah, mereka tetap melihat Islam senagai "the dark force" yang membawa masyarakat Jawa untuk terus melawan Belanda.

Nah, kesalahan utama pemikiran Kristen era itu, bahkan sampai saat ini ada yang masih bertahan dengan pendapat tersebut, bahwa Islam adalah agama Arab. Ketika perang salib pertama, kata Graham E Fuller dalam buku Dunia Tanpa Islam, gelora perangnya melawan agama arab, bahkan kata Islam tidak disebutkan. Dan ini saya temukan juga dalam buku Sejarah Agama-Agama karya Prof. Alan Menzies cendekiawan ternama Eropa akhir abad 19, masa yang sama dengan kelahiran Darmogandhul, bahwa Islam adalah agama regional Arab.

Akan tetapi, ketakutan terhadap Arab di akhir abad 19 itu bukan sekedar kesalahan pemahaman saja, tapi juga politis. Sebab setelah dibukanya terusan Suez, rute Arab - Nusantara makin lancar dan dekat. Jumlah jama'ah haji meningkat, demikian juga jumlah santri yang menuntut ilmu di Arab. Dalam catatan Snouck Hurgronje, saat pura-pura masuk Islam dan berhaji, ada 5.000 santri asal Nusantara yang menjadi mahasiswa di sana. Dan itu berarti 50%, dari total santri asing yang ada. Semangat pan Islamisme (persatuan Islam dunia) bergema keras di negara-negara terjajah.

Itu sebabnya, kemudian Snouck mengintensifkan politik etis, di bidang educatie. Sebab pendidikan modernlah yang akan melepaskan nusantara dari belenggu takhayul Islam. Dalam telusuran Ricklefs, spiritualitas anti Islam itu mulai ditanamkan di sekolah untuk para priyayi yang didirikan di Sidoarjo tahun 1870. Di sekolah inilah kemegahan Majapahit diideologikan dan pandangan Islam sebagai biang kemunduran dan kebodohan ditanamkan.

Dari sini pula, Babad Kadiri, Darmogandhul dan Gatholoco akhirmya dituliskan. Karya-karya sastra anonim yang membawa pesan bahwa kejayaan nusantara ada di era Majaphit, masuk Islamnya bangsa Jawa adalah sebuah kesalahan Sejarah. Oleh karena itu bila bangsa Jawa ingin maju, maka harus kembali kepada spirit leluhur mereka, yakni orang-orang Majaphit yang diikuti belajar pengetahuan kepada orang-orang Belanda. Dan agama Kristenlah yang akan mengantar bangsa Jawa pada sikap demikian.

Jadi, bila kemudian sobat rahayu konsisten berbicara tentang jeleknya Arab dan nggak berani ngrasani ras Cina ataupun Eropa, ya berarti mereka masih konsisten memegang khittah Kompeni, sebagai tuan mereka di masa lalu.

Kalau mau serius lagi belajar soal ini silakan baca buku M.C. Ricklefs "Mengislamkan Jawa, Para Pendukung dan Penentangnya", Zamakhsyari Dhofier "Tradisi Pesantren", Dr. Susiyanto "Strategi Misionaris Dalam Memisahkan Jawa dan Islam", Irfan Afifi "Saya, Jawa dan Islam", Dhuroruddin Mashad "Konflik politik Santri dan Abangan", dan sebenarnya masih banyak buku lainnya. Sayangnya, banyak ustadz, da'i dan santri tidak tertarik baca buku-buku macem tu. Akibatnya, kelihatan gagap dalam merespon, sak pol-pole njuk mung misuh-misuh. Karena sholeh, misuhnya pun nanggung, nggak berani bilang As You. 😆

(Oleh: Arif Wibowo)