5 Skenario Perang Ukraina-Rusia Berakhir, Putin Lengser?

[PORTAL-ISLAM.ID]  Serangan militer Rusia ke Ukraina masih berlangsung hingga saat ini, dan belum ada tanda-tanda akan melambat. Meski begitu, muncul beberapa skenario berakhirnya serangan Moskow ke Kyiv.

Apa saja? Berikut 5 skenario berakhirnya perang Ukraina, dikutip dari BBC International, Sabtu (13/3/2022).

1. Perang Jangka Pendek

Di bawah skenario ini, Rusia meningkatkan serangannya. Ada lebih banyak tembakan artileri dan roket tanpa pandang bulu di seluruh Ukraina. Angkatan udara Rusia meluncurkan serangan udara yang menghancurkan.

Serangan siber besar-besaran juga menyapu Ukraina, menargetkan infrastruktur nasional utama. Pasokan energi dan jaringan komunikasi terputus. Ribuan warga sipil dipastikan tewas.

Meskipun ada perlawanan, Kyiv akan jatuh dalam beberapa hari. Pemerintah diganti dengan rezim pro-Rusia. Presiden Volodymyr Zelenskyy dibunuh atau melarikan diri ke Ukraina barat atau bahkan ke luar negeri untuk mendirikan pemerintahan di pengasingan.

Sementara Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan kemenangan dan menarik beberapa pasukan, meninggalkan cukup banyak untuk mempertahankan kendali di wilayah Ukraina. Ribuan pengungsi terus melarikan diri ke barat. Ukraina bergabung dengan Belarusia sebagai negara klien Moskow.

Skenario ini mirip dengan yang terjadi dengan Afghanistan-Taliban beberapa waktu lalu. Namun dapat dipastikan setiap pemerintah pro-Rusia akan menjadirentan terhadap pemberontakan. Hasil seperti itu akan tetap tidak stabil dan kemungkinan kembali pecahnya konflik akan tinggi.

2. Perang Jangka Panjang

Jika skenario ini terjadi, ada kemungkinan pasukan Rusia terjebak, terhambat oleh moral yang rendah, logistik yang buruk, dan kepemimpinan yang tidak kompeten saat menyerang Ukraina. Pasukan Rusia juga butuh waktu lebih lama bagi untuk menyerang kota seperti Kyiv karena banyak pasukannya yang ikut bertempur.

Bahkan setelah pasukan Rusia mencapai beberapa kota Ukraina, mereka juga harus berjuang untuk mempertahankan kendali. Ada kemungkinan Rusia tidak dapat menyediakan pasukan yang cukup untuk mengambil alih Ukraina yang begitu luas.

Pasukan pertahanan Ukraina berubah menjadi pemberontakan yang efektif, bermotivasi dan didukung oleh penduduk lokal. Sementara Barat, akan terus menyediakan senjata dan amunisi.

Setelah bertahun-tahun, dengan kemungkinan kepemimpinan baru di Moskow, pasukan Rusia akhirnya meninggalkan Ukraina, tertunduk dan berlumuran darah, sama seperti pendahulu mereka meninggalkan Afghanistan pada 1989 setelah satu dekade memerangi pemberontak Islam.

3. Perang dengan Eropa

Ada kemungkinan perang dapat terjadi di luar perbatasan Ukraina. Putin bisa berusaha untuk mendapatkan kembali lebih banyak bagian dari bekas kekaisaran Rusia dengan mengirimkan pasukan ke bekas republik Soviet seperti Moldova dan Georgia, yang bukan bagian dari NATO.

Putin juga dapat menyatakan pasokan senjata Barat ke pasukan Ukraina adalah tindakan agresi yang memerlukan pembalasan. Dia bisa mengancam untuk mengirim pasukan ke negara-negara Baltik, yang merupakan anggota NATO, seperti Lituania, untuk membangun koridor darat dengan eksklave pesisir Rusia Kaliningrad.

Ini akan sangat berbahaya dan beresiko perang dengan NATO. Berdasarkan Pasal 5 piagam aliansi militer, serangan terhadap satu anggota adalah serangan terhadap semua. Tapi Putin mungkin mengambil risiko jika dia merasa itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan kepemimpinannya.

Jika Putin menghadapi kekalahan di Ukraina, bisa jadi ia memperpanjang serangannya ke wilayah lain. Sebagaimana diketahui, Putin terkenal senang melanggar norma-norma internasional yang sudah lama ada.

Logika yang sama dapat diterapkan pada penggunaan senjata nuklir. Putin telah menempatkan pasukan nuklirnya pada tingkat siaga yang lebih tinggi. Sebagian besar analis meragukan serangan nuklir dari Putin, tetapi tidak menutup kemungkinan ini adalah peringatan dari presiden Rusia tersebut.

4. Perang Berakhir dengan Solusi Diplomatik

Selain skenario perang, solusi diplomatik juga masih tetap dijalankan. Sebelumnya Presiden Macron dari Prancis telah berbicara dengan Presiden Putin melalui telepon. Para diplomat mengatakan antena sedang direntangkan ke Moskow. Bahkan para pejabat Rusia dan Ukraina telah bertemu untuk pembicaraan di perbatasan dengan Belarusia.

Namun yang jadi pertanyaan apakah Barat dapat menawarkan "jalan keluar" bagi krisis Rusia-Ukraina. Para diplomat mengatakan penting bagi pemimpin Rusia untuk mengetahui apa yang diperlukan agar sanksi Barat dicabut sehingga kesepakatan dapat dilakukan.

5. Perang Berakhir dengan Digulingkannya Putin

Profesor Sir Lawrence Freedman, Profesor Emeritus Studi Perang di Kings College, London, menulis minggu ini: "Sekarang kemungkinan besar akan ada perubahan rezim di Moskow seperti di Kyiv."

Dengan perang yang dilakukan Putin, ribuan tentara tewas dan muncul sanksi ekonomi yang membuat sipil menderita. Terlebih masyarakat Rusia sendiri banyak yang mendukung Ukraina. Ini dapat membuat Putin kehilangan posisi dan dukungan dari rakyat.

Nantinya ada kemungkinan ancaman revolusi rakyat. Merki menggunakan pasukan keamanan internal Rusia untuk menekan oposisi itu, Putin tetap terdesak karena cukup banyak anggota militer Rusia, elit politik dan ekonomi berbalik melawannya.

Barat menjelaskan bahwa jika Putin pergi dan digantikan oleh pemimpin yang lebih moderat, maka Rusia akan melihat pencabutan beberapa sanksi dan pemulihan hubungan diplomatik yang normal. Tentu ada kudeta istana berdarah dan Putin keluar dari posisinya.

Meski begitu, skenario ini kemungkinan tidak akan terjadi dalam waktu dekat. Sebab tidak masuk akal jika orang-orang yang telah diuntungkan oleh Putin tidak lagi percaya bahwa dia dapat membela kepentingan mereka.