BANDARA KUALANAMU DIJUAL...?? KITA BELI PETRONAS DAN PATUNG LIBERTY !!

BANDARA KUALANAMU DIJUAL...?

Oleh: Azwar Siregar

Saya masih teringat, sekitar tahun 2003, saya baru pulang dari Singapura. Ikutan trip wisata dari Perusahaan. Begitu tiba di Bandara Polonia (Bandara lama sebelum dipindah ke Deli Serdang, Kuala Namu, dan sekarang bernama Bandara Kuala Namu), saya terkejut, betapa kecilnya Bandara Utama di Sumatera Utara itu.

Padahal sebelumnya, saya menganggap Bandara Polonia adalah tempat yang luar biasa. Maklum jaman itu moda transportasi udara masih dianggap istimewa. Hanya digunakan oleh orang-orang yang benar-benar kaya. Jadi Bandara adalah tempat berkumpulnya orang-orang kaya.

Tapi setelah melihat Bandara Changi Singapura, saya baru tersadar. Betapa tertinggalnya Bandara Polonia dibandingkan Bandara Changi. Maaf, saya sampai menganggap Bandara Polonia seperti Kandang Kambing!

Sepuluh tahun kemudian, Pak SBY mewujudkan impian saya dan semua Warga Sumatera Utara. Membangun sebuah Bandara Modern dan mewah. Terima kasih Pak SBY.

(Saya kadang heran, banyak orang Sumut khususnya fans Fanatik Pak Jokowi yang selalu membully dan mempertanyakan hasil kerja Pak SBY. Mungkin orang tersebut tidak pernah ke Bandara KNIA atau matanya sudah buta).

Sekarang Bandara kebanggaan warga Sumut ini kabarnya "dijual" ke India. Tentu saja sebagai warga kelahiran Sumut saya sangat marah mendengarnya. Sialan, capek-capek dibangun Pak SBY, enak aja dijual Pak Jokowi.

Tapi saya kemudian mencoba mempelajari "penjualan" tersebut. Dari yang saya pahami berdasarkan penjelasan Arya Sinulingga sebagai Staf Komunikasinya si Erick Thohir, "penjualan" tersebut adalah model kerjasama pengelolaan. Waktunya cuma 25 tahun.

Perumpamaan si Arya saya rasa cukup mudah dipahami. Seperti kita punya Gedung, terus kerjasama dengan Swiss Bell, jadi Hotel. Gedung tetap jadi milik kita. Tapi selama bekerja sama maka Gedung yang sekarang jadi Hotel Swiss Bell selama sekian tahun, maka saham dan keuntungannya akan berbagi. Antara si Pemilik Gedung dengan pihak Swiss Bell Hotel sebagai Perusahaan Jaringan Hotel Internasional.

Atau mungkin lebih mudah dengan perumpamaan Indomaret. Model kerjasamanya juga hampir sama. Kita punya Ruko, tapi pengelolaan sepenuhnya oleh pihak Indomaret.

Perbedaanya (kalau berdasarkan informasi si Arya), kabarnya Perusahaan Kerjasama bernama PT Angkasa Pura Aviasi ini akan ketiban modal tambahan 56 triliun untuk pembangunan Bandara Kuala Namu.

Tentu saya sebagai rakyat biasa saya bersyukur. Lumayan, Bandara Kuala Namu akan semakin besar dan berkembang.

Tetapi sebagai orang bisnis hati saya bertanya-tanya. Kalau GMR Airport Consortium (Perusahaan asal India yang "membeli" Bandara Kuala Namu) mau mengucurkan dana sampai 56 Triliun, berarti berapa banyak kelak keuntungan yang akan mereka raup dari kerjasama bagi hasil mengelola Bandara Kuala Namu?

Belum lagi kalau misalnya kelak terjadi kisah ketololan seperti kasus Freeport. Kita membeli saham dari "Gedung" kita sendiri. Padahal seharusnya masa kerjasama sudah akan berakhir, tapi kita malah membeli saham dari si penyewa dan sekaligus memperpanjang masa sewanya.

Pertanyaan saya, ada ngga jaminan, kelak tidak terjadi ketololan yang sama.
Misalnya setelah 25 tahun, masa kontrak kerjasama akan berakhir, eh... tiba-tiba kita diwajibkan membeli ulang 49 % saham yang dimiliki oleh GMR?

Saya kira sebaiknya Pemerintah dalam hal ini Kementerian BUMN harus benar-benar berhitung ulang. Kalaupun Pemerintah kekurangan uang, apa tidak lebih baik "penjualan" BUMN khususnya yang strategis diprioritaskan ke Pengusaha dalam Negeri.

Saya kira kalau hanya 56 triliun. Jangan Ormas Muhammadiyah atau Hartono Bersaudara, para Pengusaha SPBU se Indonesia kalau mau mengumpulkan uang kebersihan toilet selama setahun bisa cukup kok.

Lagian Rezim Pak Jokowi kok hobby banget jual-jualan Infrastruktur ya?

Sekali-sekali kita yang beli BUMN atau minimal gedung milik negara lain dong. Misalnya kita beli Petronas atau Patung Liberty. Ntar Petronas kita jadikan kos-kosan buat para TKW dan TKI kita.

"Kalau patung Liberty buat apa bang?"

Kita ganti jadi Patung Sundel Bolong. Biar kelak jadi pengingat kalau Presiden kita Tukang Bohong!

(fb)