Merenungi Ayat-ayat Allah... Bagaimana Allah Demikian Persuasif Bicara Kepada Manusia

Merenungi Ayat-ayat Allah...

Tidak, saya tidak membagikan ayat di atas ini untuk bicara soal hukum berjilbabnya. Itu di luar kemampuan saya yang bukan ahli tafsir Al-Quran ini.

Yang saya cermati, bagaimana Allah demikian persuasif. Dalam ayat ini, misalnya, Allah tak bicara soal hukuman, baik di dunia maupun di akhirat. Allah bicara soal kehormatan dan perlindungan. "Agar mereka lebih mudah dikenali" pada ayat ini misalnya, dalam sebagian tafsir konteksnya adalah sebagai pembeda untuk perempuan-perempuan merdeka karena zaman Rasulullah adalah budak-budak yang kebanyakan berpakaian terbuka. Jilbab digunakan sebagai tanda bahwa yang bersangkutan bukan budak siapa-siapa. Ia milik dirinya sendiri, menghamba pada Yang Maha Kuasa. Sementara "agar tidak diganggu" menyiratkan bahwa hasrat adalah jalan dua arah, yang jahat adalah juga serigala-serigala jantan.

Menurut Muhammad Abdel-Haleem dalam "Understanding the Qur'an" ini gaya khas kitab tersebut (Al-Quran). Bahwa seluruh perintah dan larangan biasanya diikuti rasionalitasnya sendiri-sendiri. Boleh berperang supaya "masjid, gereja, sinagog; tempat nama Tuhan sering disebut; tak dihancurkan", misalnya. Sementara perintah dan larang lain diikuti "Karena ada manfaat yang besar didalamnya", "sungguh ia keberuntungan yang besar jika kamu mengetahui", "supaya timbul rasa kasih sayang di antara kalian", "supaya harta kekayaan tak berputar di satu golongan saja", dan banyak lagi contoh rasionalitas-rasionalitas lainnya.

Allah tak bilang minum minuman keras dan berjudi dilarang karena bikin masuk neraka. Tapi, bahwa kedua hal itu punya lebih banyak keburukan ketimbang manfaat. Argumen begini, sukar sekali disangkal.

Padahal, dalam pikiran saya, ini yang bicara Tuhan Penguasa Semua Alam. Namanya Raja Diraja, Ia punya hak memerintahkan apapun bahkan tanpa alasan apapun. Jika Ia suruh lompat, semua orang beriman harus lompat saja tak usah tanya berapa tinggi. Tapi tidak, Allah bahkan dalam sejumlah kesempatan menyatakan Ia tak menurunkan agama ini untuk "menyulitkan kamu". 

Saya ingat sekali waktu menangis saat tiba pada ayat seperti ini di Surah Al Baqarah. Kita yang sudah diberi rahmat sebegini banyak, masih perlu "dirayu" secara baik-baik oleh Yang Maha Memberi.

Selain itu, dalam Alquran, saat hukuman-hukuman disebut, hampir selalu diikuti pengingat bahwa Allah Maha Pengampun, Maha Pemaaf, dan Maha Penyayang serta Maha Adil.

Saya tak bilang tak ada soal ancaman di Alquran. Banyak juga, tapi ia disampaikan dengan proporsional, dan tak pernah lepas dari kerangka keadilan dan pengampunan Allah, rahmat yang disebut jauh mendahului murkanya.

Tak heran, saat orang-orang pertama kali membaca Alquran, mereka merasa sensasi ajaib semacam tengah diajak berdialog oleh Tuhan alih-alih disuruh-suruh. Ini pada akhirnya membuat banyak sekali yang luluh.

Saya pikir ini contoh akhlak yang sering saya lupakan. Hanya ribut soal hukuman nanti di neraka dan janji kenikmatan surgawi padahal sudah dikasih tahu dampak segeranya di kehidupan ini. Seperti lebih mudah bilang hukuman riba begini-begitu ketimbang menjelaskan betapa sistem perekonomian itu secara sistematis menimbulkan ketimpangan yang demikian lebar dan tak manusiawi.

Saya harus belajar banyak lagi dari Alquran, bahwa ada cara selain ancam mengancam. 

Wallahu a'lam bisshawab...

(Oleh: Fitriyan Zamzani)