Jonru Bicara Soal Musik dan Santri Tutup Telinga

Oleh: Jonru Ginting

Bicara soal musik, saya ada pengalaman menarik nih:

Tahun 2002, ketika belum menikah, ada satu peristiwa tragis yang membuat hidup saya terpuruk. Peristiwa yang berkaitan erat dengan urusan anak muda, yakni putus cinta hehehe.... 🙂

Saat itu saya mencoba menghibur diri dengan cara mendengarkan musik, lebih tepatnya lagu-lagu cinta. Tapi anehnya, syair pada lagu-lagu tersebut terdengar seperti mengejek saya. Niat hati mau menghibur diri, eh malah justru makin emosi.

Akhirnya saya beralih ke musik nasyid. Kebetulan ketika itu group Raihan sedang ngetop-ngetopnya. Dan saya suka lagu-lagu mereka.

Maka saya pun menghibur diri dengan cara mendengarkan lagu-lagu Raihan. Itu membuat hati jadi tenang dan terharu.

Saat itu, saya kebetulan sedang proses hijrah. Saya yang awalnya jauh dengan agama, di tahun 2002 itu mulai mendekatkan diri pada Allah.

Dan lagu-lagu Raihan menjadi "teman setia" saya dalam proses awal hijrah tersebut. Lagu-lagu mereka membuat saya semakin bersemangat untuk berubah menjadi seorang muslim yang baik.

Nah, itulah salah satu pengalaman saya dengan musik.

Saya menghargai Sahabat Sekalian yang menganggap musik itu haram, yang berkata bahwa musik hanya membuat terlena dan menjauhkan kita dari Allah.

Namun pengalaman saya justru sebaliknya.

Memang, banyak musik yang bisa membuat kita terlena, lupa waktu, lupa ibadah, dan makin menjauhkan kita dari Allah. Untuk musik yang seperti ini, saya sepakat bahwa kita memang harus menjauhinya.

Dan soal santri Tahfidz Quran yang menutup telinga saat mendengar suara musik, menurut saya itu adalah bagian dari hak asasi.

Jika mereka menutup telinga karena berpendapat bahwa musik itu haram, ya itu hak asasi mereka.

Jika mereka menutup telinga karena menganggap bahwa musik bisa merusak hafalan mereka, ya itu hak asasi mereka.

Sebenarnya masalahnya hanya sesederhana itu. Namun anehnya, hal sederhana seperti ini dibikin jadi ribet oleh orang-orang liberal.

Orang-orang liberal selama ini sangat getol menyuarakan HAM. Menurut mereka berpakaian mengumbar aurat itu HAM. Hubungan sesama jenis itu HAM. Mereka menyuruh kita menghargai itu semua demi HAM.

Tapi ketika ada orang yang hanya menutup telinga ketika mendengar musik, kok mereka tidak pernah bilang itu HAM

Ternyata HAM itu berstandar ganda. Hanya berlaku bagi hal-hal yang mereka sukai saja.

(fb)