Ibu-ibu Pengajian Komplain Para Ustadz Pada Bertengkar, Banyak Terjadi Perbedaan

Biar Jadi Masalah Mereka Saja

Oleh: Ustadz Yendri Junaidi, Lc, MA (Al-Azhar Cairo)

Dalam salah satu kesempatan memberikan tadzkirah di sebuah masjid, saya mengupas QS. Al-An’aam ayat 120 yang memerintahkan kita untuk meninggalkan dosa yang lahir dan dosa yang batin. Dosa yang lahir mudah disadari. Tapi dosa yang batin, sudahlah jarang disadari, juga sulit dideteksi. Padahal dampaknya jauh lebih besar dari dosa-dosa lahir. Karena itu perhatian kita untuk mengenali dosa-dosa yang batin ini, seperti al-kibr (sombong), al-‘ujb (merendahkan orang lain), at-taraffu’ (suka menonjolkan diri) dan sebagainya, mesti lebih besar. Kalau kita fokus saja pada dosa-dosa batin ini (mengenalinya, mengobatinya dan membentengi diri darinya), kita tidak akan punya waktu untuk melihat dosa dan kesalahan orang lain.

Di akhir majlis, seorang ibu bertanya, “Tapi masalahnya Ustadz, sekarang banyak terjadi perbedaan. Bahkan tak jarang para ustadz ‘bertengkar’ di mimbar dan media sosial. Kita sebagai orang awam tentu merasa bingung; mana yang benar dan mana yang salah. Tanpa disadari kita pun sering terbawa dalam arus pertengkaran itu. Ini juga berdampak pada kondisi batin kita. Bagaimana menyikapi ini Ustadz?”

Sambil tersenyum pada ibu itu (ibu-ibu ya…☺ ) saya mengatakan, “Sekarang ibu bayangkan… Anggap ibu tidak pernah tahu dan mendengar sama sekali apapun yang diperdebatkan itu. Ibu tidak pernah mendengar perdebatan tentang sifat-sifat Allah… Ibu tidak pernah mendengar tentang manhaj A dan manhaj B… Ibu tidak pernah mendengar perdebatan tentang sunnah atau bid’ah… Apakah ketidaktahuan ibu tentang hal-hal yang diperdebatkan itu mengurangi kualitas Iman dan Islam Ibu? Apakah mengetahui hal itu, apalagi ikut membicarakannya, berdampak pada selamat atau tidak selamatnya Ibu nanti di akhirat? Sederhananya, apakah semua itu penting bagi Ibu?

Sesungguhnya, apa yang kita butuhkan untuk selamat di akhirat nanti jauh lebih ‘sederhana’ dari yang kita kira. Tauhid yang benar (dan ini tidak memerlukan banyak kajian karena ia bersifat fitrah dalam diri setiap manusia), ibadah yang fardhu (dan ini sangatlah sedikit dan simple) dan akhlak yang baik (dan ini juga bersifat fitrah dalam diri setiap manusia).

Lebih dari itu sifatnya tambahan. Diketahui bagus, bagi yang ingin berkonsentrasi dalam ilmu syariat dan memiliki tanggungjawab untuk menjawab pertanyaan masyarakat. Tapi kalau mengetahuinya secara tidak utuh, yang membuat kita malah semakin bingung, atau menganggu ketentraman hati, maka sesungguhnya tidak mengetahuinya jauh lebih baik daripada mengetahuinya (الجهل به خير من العلم).

Sebenarnya yang membuat Ibu menjadikan semua itu sebagai masalah adalah karena Ibu ‘ikut campur’ dalam hal yang sebenarnya tidak perlu Ibu ‘kakok’. Biarlah itu menjadi urusan mereka. Mereka yang ‘diuji’ (مبتلون) untuk mengkaji semuanya secara mendalam, berimbang, memiliki dalil dan argumentatif, lalu memberikan jawaban yang kuat, meyakinkan dan sekaligus menyejukkan.

Yang perlu Ibu lakukan sangat sederhana. Kurangi interaksi dengan media sosial lalu sibuklah dengan diri Ibu sendiri. Kenali penyakit hati kita, dosa batin kita, pertahankan semangat ibadah kita, lalu bantu perbaiki orang-orang di sekitar semampu kita. Cukup itu.

يا أيها الذين آمنوا عليكم أنفسكم لا يضركم من ضل إذا اهتديتم ... (المائدة : ١٠٥)

"Hai orang-orang beriman, perhatikan (jaga) dirimu... tidak ada bahaya terhadapmu orang-orang yang sesat apabila kamu telah mendapat hidayah..."

Yang membuat sebuah masalah benar-benar menjadi ‘masalah’ adalah karena media sosial dan sorak-sorai orang-orang di sekitar masalah itu antara pro dan kontra. Kalau pendapat yang terlihat ‘kontroversial’ itu disampaikan di kalangan terbatas dan kepada orang-orang yang memiliki dasar, tentu ia hanya akan menjadi mas-alah (sesuatu yang ditanyakan) biasa saja.”

Ibu itu kembali bertanya, “Tapi Ustadz, sebagian ustadz menyudutkan ustadz yang lain di depan kami para jamaah…”

Saya menjawab, “Ibu… kalau ada ustadz yang begitu, sampaikan dengan baik pada beliau, “Ustadz, mohon maaf sekali, kami datang ke pengajian untuk mengobati hati kami, mengenali dosa-dosa batin kami, mencari ketenangan dan kedamaian, mohon jangan rusak usaha kami ini dengan penyampaian seperti itu, apalagi menyudutkan ustadz yang lain… Kami tidak mengerti banyak tentang apa yang para ustadz perdebatkan… Biarlah itu menjadi urusan para ustadz saja… Yang kami inginkan adalah tolong bimbing kami mengenali diri kami, membersihkan hati kami dan mendekatkan diri pada Khaliq kami.”

Ibu bisa juga sampaikan hal itu secara singkat dan padat dalam ungkapan yang lebih keren yaitu:

تِلْكَ حَرْبٌ لاَ نَاقَةَ لَنَا فِيْهَا وَلاَ جَمَلَ

Si Ibu : “Artinya apa Ustadz…” 

😁

__
*Itu adalah ungkapan terkenal di Arab sebelum masa Nabi Muhammad, maksudnya, “Tak ada manfaat yang bisa kuambil dari perang ini dan aku tak mau ikut campur dalam kezaliman perang ini, aku tak punya urusan dengan perang ini, dan aku berlepas diri tanpa mau terlibat di dalamnya.” (Arti leterleknya: Itu peperangan yang gak faedah, tiada unta betina maupun unta jantan yang kami dapatkan)