Untuk Ibukota Baru Ratusan Triliun, Aktivis Kemanusiaan Kaget Isi Bantuan Pemerintah Untuk Korban Bencana di NTT Hanya 1 Kg Beras, Sebutir Telur, dan Sebungkus Mi Instan

[PORTAL-ISLAM.ID]  Aktivis kemanusiaan, Azzam Mujahid Izzulhaq kaget mengetahui bahwa isi bantuan pemerintah untuk para korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NNT) hanya berisi satu kilogram beras, sebungkus mi instan, dan sebutir telur ayam.

Dirinya mengaku heran padahal dana yang digelontorkan untuk memindahkan Ibu Kota Negara saja bisa menyentuh ratusan triliun tapi untuk rakyat justru sebaliknya.

"Untuk pembangunan Ibukota Negara, Rp500 tirliun. Untuk (katanya) Silicon Valley Indonesia, Rp18 triliun. Untuk rakyat: beras 1 kilogram, telur 1 butir, mi instan 1 bungkus," ujar aktivis kemanusiaan tersebut seperti dikutip dari akun Twitter @AzzamIzzulhaq, Rabu, 21 April 2021.

Azzam kemudian menyinggung Pancasila yang selama ini dikoar-koarkan pemerintah dan para pendukungnya.

"Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Hiduplah Indonesia Raya!" sindirnya.

Seperti diberitakan KompasTV, para korban bencana alam di NTT mulai mendapatkan bantuan dari pemerintah daerah setempat.

Di Kelurahan Teunbaun, Kecamatan Amarasi Barat, Kupang, NTT, warga mendapatkan bantuan bencana berisi satu kilogram beras, sebungkus mi instan dan sebutir telur ayam.

Meidel Amtiran (46), salah satu warga yang tinggal di RT 7, RW 4, Kelurahan Teunbaun, mengaku menerima bantuan itu pada Sabtu, 17 April 2021.

"Bantuannya saya dapat dari pemerintah yang disalurkan melalui RT yakni satu butir telur, sebungkus mi instan dan beras satu kilogram. Bantuannya masih saya simpan sampai sekarang," kata dia, seperti dikutip dari KompasTV.

Amtiran merupakan salah satu korban bencana badai seroja yang menghantam wilayah NTT beberapa waktu lalu. Rumahnya rusak berat tertimpa pohon beringin saat badai datang.

Ia mengatakan, bantuan dari pemda setempat baru didapatkan sekitar dua pekan setelah terjadi bencana. Sebelumnya, dia bahkan harus meminta bantuan dari saudaranya yang ada di Kota Kupang.

"Kami masyarakat yang kena musibah langsung di sini bingung dengan pemberian bantuan model begini. Kami tidak habis pikir kok bisa ada bantuan yang model begini padahal bencana besar sekali," ucapnya.

Amtiran juga mengunggah bantuan itu di media sosial Facebook dengan akun Ken Adolof. Tujuannya, agar masyarakat bisa menilai bantuan dari pemerintah itu.

Unggahan itu, kata dia, juga menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah dari tingkat bawah hingga pusat.