Membangunkan Sahur, Tradisi Islam Sejak Zaman Nabi Hingga Kini

Membangunkan Sahur

Oleh: Hasmi Bakhtiar (Alumni Al-Azhar Mesir, Tinggal di Lille Prancis)

Berhubung lagi rame soal TOA gw jadi pengen bahas bagaimana sih dalam Islam membangunkan orang-orang untuk sahur termasuk via TOA masjid. Apakah itu hal norak yang tidak sesuai dg tuntunan Nabi atau? Pembahasan santai sambil menikmati teh poci yah :)

Sebenarnya, membangunkan orang-orang untuk bersahur tidak terlepas dari salah satu rukun Islam yaitu puasa di bulan Ramadhan. Sahur sendiri hukumnya adalah sunnah. Sesuai dengan hadits Nabi: 
تسحروا فان فى السحور بركة "Bersahurlah kalian karena di dalamnya ada keberkahan."

Sahabat Bilal dikenal orang pertama yang membangunkan orang-orang untuk sahur atas perintah dari Nabi. Dulu, Bilal radhiyallahu anhu mengumandangkan adzan kemudian kaum muslimin bersantap sahur. Ketika adzan dari sahabat Abdullah bin Ummi Maktum terdengar artinya Imsak telah tiba (imsak disini maksudnya masuk waktu Subuh, waktu dimulainya puasa -red).

Jadi, membangunkan umat Islam agar bersantap sahur lewat suara yang keras benar ada dalam turots Islami (sejarah Islam). Ketika itu dengan kondisi umat Islam yang masih sederhana cukup dg saura adzan sahabat Bilal.

Seiring dengan berjalannya waktu, dengan jumlah umat Islam yang semakin besar dan negeri Islam semakin luas, cara membangunkan sahur ini juga berubah mengikuti adat setempat. Orang arab menyebutnya المسحراتى (almesharati) yaitu membangunkan orang bersahur di bulan Ramadhan.

Caranya macam-macam. Ada yang mengetuk pintu rumah masyarakat sambil mengajak sahur, ada yang lewat pengeras suara dari masjid atau dengan cara memukul gendang keliling kampung. Dua cara terakhir masih gw temuin ketika dulu di Mesir.

Ini contoh membangunkan sahur yang gw ambil dari Youtube. Di salah satu masjid di Palestine.
Di Gaza, walau rumitnya hidup menghimpit tapi usaha untuk menghidupkan syiar Ramadhan tidak mati. Bahkan para pemuda antri untuk bisa menjadi pemukul tabuh keliling kampung membangunkan orang bersahur. Mereka tidak dibayar, cukup kecintaan pada Ramadhan sebagai modal.
Tradisi membangunkan sahur yg berakar dari perintah Nabi kepada sayyid Bilal telah menjadi syiar Islam secara turun temurun. Daulah Islamiyah setelah era Khulafaurrasyidin melakukan hal ini. Pada era Abbasiyah, gubernur langsung turun tangan membangunkan orang sahur.

Di era Ottoman lebih semarak, pada waktu sahur dan menjelang waktu Imsak menara-menara masjid riuh bershalawat kepada Nabi. Halaman Istana dihidangkan makanan. Siapapun boleh makan di sana apapun agamanya. Ini semua demi menghidupkan suasana Ramadhan yang setahun cuma sekali.

Lalu, apa hukumnya membangunkan orang sahur dengan memukul gendang atau lewat pengeras suara dari masjid? Apakah harus seperti Bilal dengan adzan yang merdu? Bebebeeapa kali masyayikh Al Azhar ditanya akan hal ini. Termasuk dalam Hiwar (dialog) tadi malam juga dibahas.

Syaikh Athiya Saqr, mantan Mufti Mesir mengatakan bahwa membangunkan orang agar bersahur dengan alat2 atau pengeras suara bukanlah Bid’ah. Bersandar pada hadits yang menceritakan sahabat Bilal membangunkan umat Islam dg adzan.

Menurut beliau, adzan sahabat Bilal bukanlah adzan untuk shalat tapi adzan untuk memberitau agar umat Islam segera bersahur. Jadi, boleh juga membangunkan sahur dg cara lain yang tidak keluar dari ajaran Islam, termasuk dari pengeras suara di masjid atau memukul alat2.

Jadi, cara membangunkan orang sahur ini diserahkan kepada kebiasaan masyarakat di sana selama tidak melanggar syariat. Yang lebih penting dari itu adalah mengingatkan umat Islam agar tidak tertinggal keberkahan sahur dan menghidupkan syiar Ramadhan.

Mulai era Abbasiyah sampai Utsmaniyah bahkan hari ini, kebiasaan umat Islam membangunkan sahur tidak bisa disebut tidak sesuai dengan anjuran Nabi. Itulah pentingnya belajar agar tidak serampangan mengatakan ini sesuai anjuran Nabi atau ini tidak sesuai anjuran Nabi.

Membangunkan orang bersahur adalah bagian dari tolong menolong dalam kebaikan. Bukankah Nabi mengatakan bahwa jika kita menunjukkan seseorang akan amalan baik dan orang tersebut melaksanakan kita juga mendapat pahala yang sama?

Sebagai penutup, kenapa suatu negeri disebut negeri muslim? Karena di sana syiar-syiar Islam hidup. Memasuki bulan Ramadhan terasa suasana berbeda dg bulan biasanya. Ketika Idulfitri terasa suasana suka cita. Membangunkan sahur ini bagian dari syiar Islam.

Jika negeri mayoritas muslim tidak lagi memiliki ciri khas dalam bulan Ramadhan, malamnya sepi subuhnya kayak kuburan. Apa bedanya dengan mereka yang tinggal di negeri yang muslimnya minoritas? Apalagi yang bisa dibanggakan ketika syiar2 tersebut telah padam?

Kenapa ulama kita memuntun kita shalat taraweh di masjid? Shalat Id di lapangan? Takbiran memakai pengeras suara termasuk menghidupkan waktu sahur? Karena pada syiar tersebut terlihat kebesaran Islam. Di sanalah umat Islam berbangga dalam kebersamaan.

Hidup dengan syiar Islam adalah kenikmatan yang tidak terhingga harganya dari Allah. Jaga kenikmatan tersebut. Jangan menjadi hamba yang kufur atas nikmatNya. Taqobbalallahu shiyamana wa qiyaamana...Semoga Allah menuntun kita menjadi hambaNya yang bertaqwa. Amiin. Salam.

(25/4/2021)
Baca juga :