Kata Mega Jakarta Amburadul, Geisz Chalifah Tantang PDIP Maju Pilkada DKI 2022

[PORTAL-ISLAM.ID]  Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri menbuat penyataan yang beujung polemik. Dia menyatakan kota Jakarta amburadul.

Dalam pernyataannya, Megawati menyebut samua kepala daerah yang kotanya terbaik itu adalah kader PDIP. Dari situlah Megawati menyatakan Jakarta amburadul. Pernyataan inilah yang mengundang polemik.

Pernyataan Megawati itu mengacu pada hasil riset enam guru besar Unversitas Negeri Jakarta (UNJ) tentang City of Intellectual. Dari kota-kota yang diteliti, Semarang, Solo dan Surabaya adalah yang terbaik. Kota Jakarta di tempatkan di urutan ke-6 di bawah Bali.

Hasil riset guru besar UNJ yang dipiimpin Prof Dr Hafid Abbas itu kemudian dipolitasir dengan menyebut Jakarta amburadul. 

Polemik menyeruak, dan Geisz Chalifah pun menantang PDIP untuk menempatkan kadernya menjadi Gubernur di Jakarta melalui Pilkada DKI 2022.

“Kalau soal yang tadi itu menyebut amburadul itu kan ada indikator indikator nya. Indikator itu tidak bisa ditarik dari sebuah penelitian yang tidak punya relevansi. Kita bicara yang lain aja deh,” kata Geisz Chalifah di acara Dua Sisi TVOne, Kamis (12/11) malam.

Geisz menyatakan segala respek kepada Ibu Mega, respek dengan kader-kader PDIP yang menjadi kepala daerah di Semarang, Solo, Surabaya dan Bali. Namun Geisz menantang PDIP bertarung di Jakarta di Pilkada DKI pada 2022, jangan diundur ke 2024.

“Dinilai Jakarta amburadul oke. Alangkah baiknya warga ini diberikan kesempatan untuk menilai apakah gubernur ini sukses atau tidak, baik atau tidak dalam pelaksanaan janji janji kampanyenya. Lakukan saja Pilkada 2022 , taro kader PDIP di Jakarta, hadapi gubernur yang sekarang, siapa yang jadi gubernur selanjutnya, tidak usah ditunda pilkadanya jadi 2024. Kita lihat aja,” tantang Geisz Chalifah.

Di akhir statemennya, Geisz memberi kata-kata bijak: “Cinta membuatmu menarik meskipun musik telah berhenti. Kebencian mengurungmu dalam sepi walau ombak menghampiri. Maka mulailah kita menjadikan setiap statemen untuk menyatukan masyarakat, bukan untuk membelah.” (Tilik)