KH.Abdullah Syafi’i Bapaknya Orang Jakarta


KH.Abdullah Syafi’i Bapaknya Orang Jakarta

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar

Kalam suci menyentuh kalbu berjuang
Maju serentak membela kebenaran
Untuk negara, bangsa dan kemakmuran
Hukum Allah tegakkan, hukum Allah tegakkan

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allah Allahu Akbar

Putra-putri Islam harapan agama
Majulah serentak genggamkan persatuan, kalam Tuhan
Mari kita memuji, mari kita memuja
Mari kita memuji, mari kita memuja
Peganglah persatuan kalam Tuhan..

BAGI anak yang lahir dan besar di Jakarta di tahun 70-an sampai dengan 80-an sudah pasti tak asing dengan kalimat yang dibaca dengan lantang seperti itu melalui radio Asyafi’iyah.

KH Abdullah Syafi’i murid dari Habib Ali Alhabsyi Kwitang, merupakan kiayi fenomenal di jamannya. Melalui radio suaranya tedengar setiap pagi hampir disetiap rumah kaum muslim. Tak terkecuali ibu saya yang menganggap kiayi itu seperti sosok seorang ayah.

Di masa itu rezim Soeharto sangat berkuasa dan yang kritis kepada pemerintah selalu mengalami penindasan dan bukan hal yang aneh bila dipenjarakan. Beda-beda tipis dengan situasi sekarang cuma caranya saja yang berbeda.

AM Fatwa adalah salah satu Da’i yang berani dan selalu berlawanan dengan pemerintah Soeharto. Ketika AM Fatwa terdengar ditangkap aparat, KH Abdullah Syafi’i memanggi Pangdam Jaya, saat itu Bapak Eddi Marzuki Nalapraya.

Menurut cerita yang saya dengar, KH Abdullah Syafi’i dengan kesal berkata pada Eddi Nalapraya: “Ed, Fatwa itu anak ane, die anak ane, keluarin dieee!!!!!”.

Saya pribadi tak pernah mengenal sosok itu secara langsung, namun suaranya menjadi tak asing dan sangat familiar. Karena setiap pagi suaranya selalu terdengar melalui radio yang dipasang ibu saya dengan keras agar anak-anak bangun subuh.

Di tahun 1985 tepatnya tanggal 3 September, sang Kiayi kharismatik itu wafat. Dua orang teman saya yang kebetulan adalah alumni SMA Asyafi’iyah ingin hadir. Saya menyatakan akan ikut serta setidaknya mewakili Ibu Saya yang sedang berada di Pekalongan.

Di seputar rumah almarhum di jalan-jalan ribuan manusia berkumpul menanti jenazah untuk disholatkan. Pintu masuk kedalam rumah duka ditutup dan dijaga oleh beberapa orang karena di dalam sudah tak tertampung.

Saya menyapa penjaga dengan ucapan salam dan entah bagaimana penjaga pintu masuk itu dengan sigap segera membuka pintu dan mempersilahkan untuk memasuki kedalam halaman rumah sang Kiayi : “Tafadhol Bib” kata penjaga itu. Sementara dua teman saya yang alumni Asyafiiyah Agus dan Fadhilah tetap berada di luar.

Menjelang tengah hari ketika jam memasuki waktu zuhur, jenazah sudah siap untuk disholatkan. Keranda pun mulai digotong, saya mengambil posisi di tengah, berada dalam barisan menggotong jenazah, yang semakin mendekati masjid semakin berdesak manusia yang berusaha untuk menggotong keranda jenazah. Situasi sesak dan membuat nafas susah karena semakin penuhnya manusia.

Puluhan ribu manusia mengikuti prosesi pemakaman yang berjalan dari Bali Matraman (rumah almarhum) ke Jati Waringin (Pesantren Assyafi’iyah.) Tempat beliau dimakamkan.

Beberapa hari lalu teman saya, Yan Hiksas namanya, menelepon agar Anies sebelum membuka PSBB meminta doa dari para kiayi yang bisa dikatakan “wali”. Saya bertanya pada Yan Hiksas: Memang di Jakarta masih ada ulama yang seperti itu? Karena setahu saya mereka semuanya sudah tinggal “di Karet” (makam).

Teman saya itu tak percaya dan mengatakan: Masak sih ga ada? Saya berkata: Tolong sebutkan kalau masih ada? Habib Abdurahman Assegaf (walid) sudah wafat, Habib Husin Gang Buluh Condet sudah almarhum, Habib Ali Bungur malah sudah jauh sebelumnya. KH Abdullah Syafi’i sudah tiada, para ulama yang ikhlas dan mewakafkan hidupnya hanya semata-mata untuk da’wah yang seolah tiada batas antara doa mereka dengan Allah rata-ratanya sudah selesai dengan tugas dan hidupnya.

Kota ini sudah lama kehilangan tongkat penerang jiwa.

(by: Geisz Chalifah)

Baca juga :