Erdogan Era Menjadi Aktivis Mahasiswa

Erdogan sebelah kiri

“Kami datang bukan sebagai orang yang ingin dimuliakan oleh 73 juta rakyat Turki, kami datang untuk mengabdi” -Presiden Recep Tayyip Erdogan-

Bagi setiap pemerhati negara muslim dunia sosok Recep Tayyip Erdogan tentunya tak asing merupakan salah satu sosok pemimpin muslim paling berpengaruh pada abad ini, bahkan majalah TIME dan salah satu lembaga survey pemimpin dunia menempatkan Erdogan sebagai pemimpin nomor 1 dalam menyuarakan kepentingan dunia Islam.

Berbagai sepak terjang Erdogan tidak hanya dirasakan oleh negara negara muslim lainnya namun juga Turki sebagai negaranya yang kini tengah menggeliat bangkit dalam berbagai sektor ekonomi dan teknologi walau diterpa berbagai ujian seperti kudeta gagal 2016 yang diinisiasi oleh FETO (Fethullah Gulen Terorist Organization) dan serangan ekonomi yang dilancarkan oleh Amerika Serikat era presiden Trump kepada Turki setelahnya.

Namun Turki di era Erdogan masih bisa bertahan dan tetap teguh dalam perjuangan menyuarakan kepentingan umat Islam hingga kini masih terus menampung jutaan pengungsi Suriah dan melindunginya dari serangan rezim Bashar Ashad dengan berbagai operasi militer diperbatasan Turki dan Idlib.

Erdogan muda

Sosok Erdogan bukanlah sosok pemimpin instan yang diciptakan berdasarkan kepentingan pencitraan sesaat dalam kontestasi pemilu Turki. Bak bibit unggul Erdogan adalah pemimpin yang ditempa sejak usia belia begitupun karir politiknya yang banyak menempa beliau sejak muda.

Erdogan di waktu muda menempuh pendidikan di sekolah Imam Khatib Lisesi (selevel Madrasah Aliyah di Indonesia) milik pemerintah Turki dengan corak pendidikan keagamaan. Kemudian beliau melanjutkan studinya di fakultas ekonomi di salah satu kampus ternama Marmara University di Istanbul dan aktif menjadi aktivis mahasiswa.

Erdogan muda adalah sosok yang memiliki rekam jejak yang panjang sebagai aktivis gerakan, sejak mahasiswa ia telah membangun karir politiknya lewat proses penempaan dalam Gerakan Mahasiswa. Milli Turk Talebe Birligi (MTTB) merupakan organisasi mahasiswa terbesar di Turki. Berdiri pada 14 desember 1916 arah perjuangan organisasi pelajar mahasiswa ini adalah membela nilai-nilai kebangsaan Turki sekaligus melestarikan budaya Turki Utsmani yang telah mengakar dalam kultur masyarakat Turki.

Organisasi mahasiswa yang diikuti Erdogan muda
Selain itu MTTB juga memperjuangkan prinsip-prinsip demokrasi dan menjadi gerbong utama gerakan mahasiswa untuk menentang komunisme di Turki. Sejak bergabung dengan organisasi inilah Erdogan belajar membangun jaringan yang kelak memudahkan langkahnya untuk berjuang dijalan politik.

Pertemuan dengan Abdullah Gul di forum mahasiswa ternyata di masa depan membawa mereka bertemu dalam wadah yang sama untuk memimpin Turki sebagai pejabat tinggi negara. Abdullah Gul kelak menjadi Presiden Turki dan Erdogan menjadi Perdana Menterinya di waktu bersamaan.

Organisasi MTTB merupakan antitesa dari gerakan mahasiswa beraliran kiri-nasionalis dan gerakan mahasiswa ultra-nasionalis. Mereka membangun fondasi gerakan dengan menekankan pada penguatan pendidikan sejarah, kebudayaan dan nilai dalam setiap kegiatan mereka.

Sebagai gerakan pemuda yang mengeksplorasi kekayaan ide-ide dan sejarah dengan spirit pan-Turkisme, kendati MTTB pernah bubar karena ada permasalahan konflik internal di era 1920 dan kembali hidup pada tahun 1936 kemudian dibekukan oleh rezim pemerintahan sekuler dengan tuduhan subversive ultra nasionalis. Namun bisa kembali berdiri ditahun 1945 dengan penerbitan surat kabar Birlik yang berarti persatuan.

MTTB semakin berpengaruh ketika bangkit lagi pada tahun 1968 era di tahun Erdogan bergabung didalamnya dengan pendekatan yang lebih moderat, yaitu menguatkan kegiatan mereka membangun kesadaran anak-anak muda Turki tentang perlunya memperkuat basis kebudayaan, keagamaan, dan seni sebagai upaya untuk menetralisir kuatnya pengaruh kiri-nasionalis yang kerap terlibat dalam aksi kekerasan.

Dalam penjelasannya Bekir Yildiz yang merupakan salah satu anggota MTTB menjelaskan bahwa “kami mempraktekkan ajaran-ajaran Islam akan tetapi kami bukan kelompok Islamis”.

Mereka secara terbuka dengan kelompok nasionalis menyangkut perlunya merespon massifnya gerakan komunismen di Turki, mereka dalam posisi berupaya mengimbangi gerakan komunisme yang merebak di kampus-kampus dengan mengkampanyekan sebuah gerakan yang mereka sebut Milli Ruh atau “Semangat Bangsa”.

Gerakan mereka berada diantara dua gerakan ekstrim yang ada pada masa itu yaitu para penganut Marxisme yang cenderung memilih gerakan kekerasan disatu sisi, dan gerakan ultranasionalis sekuler yang menamakan diri Grey Wolves atau srigala perak yang cenderung ekstrim dan juga sering terlibat kekerasan dalam aksi-aksinya.

Bulent Arinc salah satu rekan Erdogan di MTTB dan juga pendiri partai AKP menyebutkan bahwa organisasi mereka (MTTB) ini memiliki visi mengajarkan semua anggotanya untuk mencintai dari hati yang terdalam untuk mencintai tanah air, mengajarkan untuk tetap taat pada ajaran agama dan pada saat yang sama menjunjung tinggi loyalitas kepada pusaka, berbakti pada masyarakat, bangsa dan budaya.

Gerakan ini bagi mereka seperti sebuah universitas yang mempertemukan anak anak muda dari berbagai daerah yang meresapi nilai nilai dasar kecintaan kepada negara dan mengajarkan semua anggotanya menjadi figur yang tangguh berjuang untuk bangsa.

Erdogan mengatakan bahwa peran organisasi ini sangat penting dalam membentuk karakternya sekaligus mengajarkan bagaimana mengelola organisasi, pendidikan, membangun jaringan sangat membantu dalam meniti karirnya sebagai politisi. Melalui jejaring yang ada ia terhubung dengan siswa-siswi dan mahasiswa dari berbagai daerah, termasuk membantunya terhubung dengan para alumni yang telah masuk dipemerintahan baik ditingkat daerah maupun ditingkat nasional.

Corak pemikiran gerakan mereka berupaya mengkombinasikan antara nilai nasionalisme dengan nilai keagamaan. Ideolog yang berpengaruh dalam membentuk karakter pemikiran organisasi MTTB adalah Necep Fazil, Nurrettin Top cu dan Sezai Karakoc.

Buku buku karya pemikir Turki yang hidup era Turki Utsmani dan era Republik itu menjadi bacaan wajib mereka hingga saat ini, sesekali mereka juga membaca karya karya pemikir kiri dan penyair seperti Idris Kucukomer (1925-1987) dan Attila Ilhan (1925-2005), mereka juga membuka diri terhadap literatur asing seperti buku-buku yang diterjemahkan kedalam bahasa Turki karya-karya Sayyid Qutub dan Hasan Albanna yang merupakan ideolog dan pendiri gerakan Ikhwanul Muslimin. Muhammad Hamidullah (1980-2002) seorang ahli hukum dari Hyderabad dan juga beberapa karya karya novelis barat seperti George Orwell, Alexander Solzhenitsyn dan penulis lainnya.

Dari literatur yang ada mereka belajar banyak tentang bagaimana membangun peradaban sebuah bangsa. Selanjutnya dalam MTTB mereka juga belajar berdebat dalam hal bagaimana menciptakan relasi ideal antara agama dan politik untuk mewarnai politik Turki yang cenderung hegemonik dalam menerapkan nilai nilai sekulerisme dalam bernegara.

Sementara komitmen kebangsaan organisasi ini tercermin dari aksi massa atau biasa disebut dengan demonstrasi yang digelar didepan konsulat jenderal Perancis dan Austria pada tahun 1974 seiring dengan serangan komunitas Armenia terhadap gedung konsulat Turki di Los Angeless.

Pada musim panas mereka juga mengorganisir aksi massa di Beyazid Istanbul delam rangka mendeklarasikan bahwa Siprus merupakan wilayah Turki yang tidak bisa dipecah belah, aksi itu bertepatan dengan kembalinya ribuan tentara Turki dari medan perang konflik Siprus sebagai bentuk aksi heroik dukungan terhadap Turki.

Dimasa depan organisasi MTTB ini kemudian melahirkan figur-figur yang turut serta mendirikan partai AKP (Adalet Kalkinma Partisi) dan menduduki posisi penting di parlemen dan pemerintahan. Mereka adalah Recep Tayyip Erdogan, Abdullah Gul, Bullent Arinc, Ismail Kahraman, Mehmet Ali Sahin, Huseyn Celik, Kadir Topbas dan ratusan anggota parlemen dari berbagai daerah di Turki yang terpilih dari partai AKP. Kemudian mampu menggeliatkan kebangkitan Turki kembali menjadi negara yang dihormati di dunia Islam dan internasional.

Oleh : Achmal Junmiadi
– Founder Lembaga Pengkajian Indonesia Turki (LPIT)
– Committee of OIC Youth Indonesia
Ketua Bidang Hubungan Lembaga dan Internasional Komunitas Sahabat Erdogan

Catatan Penulis:
– Tulisan ini dikutip ulang dari Buku : Recep Tayyip Erdogan, Revolusi Dalam Sunyi. Karya M. Sya’roni Doktor Alumni Marmara University, Istanbul Turki.

*Sumber: Beritaturki.com

Baca juga :