Tanggalnya Nadi Bangsa


Tanggalnya Nadi Bangsa

Pertama sekali menatap langsung wajah Gus Sholah pada Pilpres 2004, saat itu beliau adalah Cawapres mendampingi Wiranto. Tak bisa salaman. Gus Sholah berada di tengah para Habaib dan Kiai. Sedang diri hanyalah remah rempeyek di tengah kerumunan para pecinta.

Teduh wajahnya. Untaian katanya teratur, diucapkan dengan intonasi yang tidak keras, tapi tetap jelas terdengar. Khas kiai Jawa.

Kala itu Gus Sholah menyampaikan janjinya, bahwa jika Allah takdirkan beliau terpilih menjadi Wakil Presiden, beliau akan totalitas mengabdi pada Negara untuk kesejahteraan seluruh Bangsa Indonesia. Azas proporsionalitas tetap akan dikedepankan, sebagai prinsip negara demokrasi. “Islam adalah agama mayoritas di negara ini,” ujarnya ketika itu.

Tapi ternyata Allah tidak menakdirkan Gus Sholah menjadi wakil presiden. Pasangan Wiranto-Gus Sholah kandas sejak putaran pertama.

Rupanya Allah mempunyai rencana lain, Gus Sholah gagal menjadi Wapres kemudian didapuk oleh keluarga untuk pulang ke Jombang menjadi pengasuh pesantren. Sebab setahun sebelumnya, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng: Gus Ishom Hadziq meninggal dunia.

“Saya ini tidak pernah mondok. Seharusnya tidak jadi kiai. Tapi karena keponakan saya, Ishom meninggal dunia, saya pun dipaksa keluarga untuk menggantikan,” tutur Gus Sholah pada satu kesempatan saya berkunjung pada beliau.

Sebelum akhirnya saya sering bertemu beliau dalam banyak acara atau pun sowan ke nDalem Tebuireng, pertama kali bisa berbincang dekat dan bahkan makan satu meja dengan beliau, ketika saya menyertai rombongan GPM: Grup Persahabatan Menulis dan PNBB: Proyek Nulis Buku Bareng berkunjung ke Tebuireng.

Kebetulan kami diantar keponakan beliau: Bambang Ikbal, sehingga mudah berjumpa dan bahkan diperkenankan tidur di nDalem. Saya kikuk, sebab tak terbayang bisa tidur di nDalem utama Tebuireng, berbincang mesra dengan Gus Sholah dan sarapan pagi bersama.

Kami banyak saling cerita tentang kepenulisan, sebab Prof. Ersis Warmasyah Abbas -ketua rombongan- memang adalah satu di antara kompor menulis terbaik Indonesia.

“Semua tulisan-tulisan saya di Jawa Pos itu saya tulis pakai gadget BlackBerry aja,” kata Gus Sholah, ”Kemudian saya kirim ke redakturnya. Nanti sana yang memperbaiki.”

Kala itu memang belum ada Gadget Android. BlackBerry adalah penguasa tunggal. PIN BB menjadi idaman orang-orang yang ingin eksis dan bergaya.

Berikutnya ternyata Allah anugerahkan saya untuk sering bertemu, mencium tangan dan menyimak banyak untaian nasehat atau pun arahan Gus Sholah. Utamanya terkait dengan kemaslahatan Bangsa dan nasib ummat Islam di tengah tirani minoritas yang mulai menggejala.

Gus Sholah adalah satu di antara kiai yang tergabung dalam Forum Peduli Bangsa (FPB).

Bersama Kiai Ma’ruf Amin, Kiai Mahfudz Syaubari, Kiai Ali Karrar, Buya Ali Akbar Marbun, Prof. Zahro, Prof. Imam Suprayogo dan lain sebagainya duduk di jajaran Kasepuhan FPB.

Sementara saya dan banyak anak muda pembuat gerakan lainnya, ikut ngawulo di jajaran Kaneman FPB.

Pada tahun 2019 yang lalu, Gus Sholah bersama beberapa orang kiai dan akademisi dari berbagai pesantren dan kampus, mendirikan Yayasan Penguatan Peran Pesantren Indonesia (YP3I).

YP3I dibentuk untuk membendung laju Hari Tanoe Soedibjo yang ketika itu beranjangsana ke berbagai pesantren, memberikan bantuan finansial dengan membawa satu lembaga yang bernama Yayasan Peduli Pesantren.

“Kalau kita tidak suka dengan gerakan yang dilakukan Hari Tanoe, kita harus memberikan alternatif!” tegas Gus Sholah.

Pada Pilpres 2019 yang lalu, saya pun sering berjumpa Gus Sholah. Saat kedatangan Prabowo-Sandi ke Tebuireng hingga usai Pilpres yang penuh kontroversi dan dinamika, Gus Sholah terus giat melakukan gerakan untuk merajut tenun Bangsa yang terkoyak akibat dinamika Pilpres.

Pagi ini mendengar Gus Sholah kapundut, serasa kehilangan satu di antara nadi Bangsa. Sugeng tindak, Gus Sholah.


(Oleh: Ustadz Abrar Rifai)

Sumber: https://www.orangramai.id/cerita-tokoh/tanggalnya-nadi-bangsa/

loading...