HAL ABSURD, BERBAU KONSPIRATIF DAN KEKELIRUAN LOGIKA DALAM FILM GUNDALA


HAL ABSURD, BERBAU KONSPIRATIF DAN KEKELIRUAN LOGIKA DALAM FILM GUNDALA

Akhirnya terpaksa nonton Film Gundala karana "harus" mengantar anak yang ingin menontonnya. Sebagai sarana untuk meningkatkan "quality time" maka saya terpaksa menonton film ini di suatu hari menjelang senja.

Gak terlalu antusias sebetulnya untuk ikut bersorak-sorak dengan sesuatu yang terlalu main stream seperti film Gundala ini. Tapi okelah, saya menonton sebagai sarana update informasi saja pada hal-hal kekinian.

Hal pertama yang saya catat dari Gundala, ini adalah semacam film berbujet rendah jika dibandingkan film super hero a la Marvel Cinematic Universe (MCU). So jadi jangan terlalu banyak berharap, misalnya dengan kecanggihan CGI-nya misalnya. Hehe.

Dan agak menduga, terkait filmografi sang sutradara bahwa ini akan menjadi film superhero dengan corak gaya film horor. Dan itu ternyata benar. Hehehe.

Yang kedua, Gundala adalah super hero yang muncul dari ekstrasi kearifan lokal tentunya.

Ia adalah karya komikus Indonesia Harya Suryaminata yang dikenal dengan Hasmi. Ini adalah sebuah poin tersendiri karena menjadi pemicu spekulasi akan munculnya semacam MCU di Indonesia melalui JBI (Jagat Bumi Langit).

Mungkin soal ini lebih tepat dan menarik jika dibahas seorang antropolog atau ahli sejarah.

Namun, ketika sebuah komik muncul menjadi sebuah film tentu banyak hal yang bisa terjadi dan bisa ditelaah, minimal buat saya sebagai penikmat awam.

Komik tersebut akan mendapat sentuhan, muatan bahkan pesan yang sangat-sangat subyektif dari penulis skenario dan sutradara film yang menggarapnya.

Dan itulah yang saya lihat dalam Film Gundala ini. Sebagai penonton awam saya bisa melihat beberapa hal absurd, mungkin agak menggangu, bahkan cenderung berbau teori konspirasi hingga kegagalan logika yang ada dalam film ini.

Inilah poin-poinnya:

Saat menonton Gundala, saya menghitung ada satu kata yang sangat dominan selalu terdengar sepanjang film diputar. Kata yang seolah meluncur lancar dari banyak karakter figuran, dan jadi cukup sering terdengar.

Dan kata itu adalah sebuah kata makian: anjing.

Apa kira-kira yang ingin disampaikan penulis naskah dan sutradara? Mungkin akan banyak teori menarik yang bisa muncul. Dan saya bebaskan pembaca untuk menyimpulkannya sendiri. Hehehe.
Kedua, hal yang berbau konspiratif dalam film Gundala yang saya lihat sebagai penonton awam adalah Pengkor mungkin Keturunan Penjajah Belanda.

Karena pertama, ayahnya bekerja di sektor perkebunan dengan pola milip tanam paksa. Kedua, wajahnya agak berstruktur Eropa dan logatnya agak terdengar mirip dengan logat tokoh kumpeni dalam film-film perjuangan lawas yang sering menghardik, "Koe Inlander!"

Ini bagus. Mungkin sutradara ingin mengigatkan penonton bahwa tokoh antagonis semacam Pengkor ini adalah penerus para Penjajah di zaman kekinian. Hmm. Masuk akal ya.

Oh iya, sebagian scene film Gundala ini mungkin bisa jadi ide kalau KKN Desa Penari dibuat sebuah film. Hahaha.

Terutama saat Ghazul membangkitkan Ki Wilawuk (Sudjiwo Tedjo) yang mengingatkan saya pada sosok Badarawuhi.

Selanjutnya yang saya catat adalah sutradara sepertinya ingin menyampaikan bahwa segala tindakan amoral, terutama LGBT itu sama buruk, busuk dan jeleknya dengan korupsi.

Itu muncul dalam salah satu dialog dari salah satu peran pembantu, yang saya lupa namanya. Untuk poin ini saya juga setuju.

Pesan berikutnya yang saya tangkap dari film ini adalah, yang paling mungkin terkena virus Amoral yang diproduksi oleh Pengkor adalah kalangan menengah atas masyarakat karena akses berlebih mereka terhadap ekonomi yang dapat mereka gunakan untuk menyogok dan mencari jalan pintas dalam soal apapun.

Terus apalagi ya?

Oh iya, yang saya maksud dengan logical fallacy atau kekeliruan logika yang mungkin tidak sengaja tersampaikan dalam film Gundala adalah pemikiran berikut: bahwa pusat pusaran masalah sebuah negara adalah melulu pada wakil rakyat.

Walau nampaknya sederhana, menurut saya ini agak berbahaya.

Walau kita tahu tidak semua anggota legislatif sebuah negara berperilaku terpuji. Bahkan sebagiannya menyebalkan buat kalangan awam. Dan lembaga legislatif memang punya peran siginifikan dalam menentukan arah bangsa.

Namuuuun, menyelesaikan persoalan sebuah bangsa itu secara logika, sejatinya berpusat bukan hanya semata ada di gedung dewan atau sosok para wakil rakyatnya.

Jadi Mas Gundala, segala sesuatu akan lebih banyak diputuskan oleh Penguasa yang menjadi penentu akhir sebuah kebijakan dan pemegang anggaran negara.

Karena pasti yang memutuskan dan memenangkan tender pengadaan virus Amoral milik anak perusahaan Pengkor itu akhirmya tentu bukan para anggota legislatif, tapi seorang Pejabat Negara yang berwenang.

Mungkin itu sebagian yang bisa saya tangkap sebagai penonton awam saat menonton sebuah film Gundala.

Kalau Anda menangkap apa?

By Boy Hamidi [fb]

loading...
Loading...