Akhir Jokowi, Alarm Berbunyi dari TKN Jokowi-Maruf


[PORTAL-ISLAM.ID] Tulisan opini dari Jonas Asmara (sepertinya pendukung Jokowi -red) terkait kondisi ril yang menjadi otokritik terhadap kubu Jokowi, disertai saran pemecahan masalah.

Tulisan ini di-share pendukung Jokowi di sosial media.

"Pendukung Jokowi wajib baca ini. Tak perlu baper," tulis akun twitter @PartaiSocmed.

"Sebenarnya analisisnya sederhana, tapi ya emang bener ini masalahnya, keliatan," ujar @imanlagi, yang juga pendukung Jokowi.

Pendukung Prabowo-Sandi juga wajib baca ini, buat antisipasi, dan lebih giat bekerja lagi di sisa 128 hari...


Akhir Jokowi, Alarm Berbunyi dari TKN Jokowi-Amin

Inikah detik akhir Jokowi? Apa yang salah dengan dia? Bagi pendukung Jokowi, ada yang membuat dia risau, menyedihkan. Elektabilitas Jokowi merosot tajam. Khusus di battle ground paling penting Jawa Barat. Juga terjadi penurunan elektabilitas suara di Jateng dan Jatim – dua kantong suara terpenting Jokowi. Kemerosotan ini tentu menyesakkan. Kenapa?

Dari beragam survei, tercatat tingkat kepuasan Jokowi pada kisaran 73%. Angka yang seharusnya membuat dia tidak perlu kampanye. Presentase kepuasaan seharusnya menjadi parameter angka elektabilitasnya. Kenapa elektabilitas Jokowi ada pada angka kisaran 54%? Terdapat jurang hampir 20 digit.

Data prestasi Jokowi selanjutnya, pembangunan infrastruktur berjalan baik. Ekonomi stabil di angka 5%-an, di tengah ekonomi dunia yang ambruk poranda. Inflasi di angka 1 digit, artinya harga kebutuhan barang dan jasa stabil. Harga tempe dan telur serta beras tetap sama.

Kebijakan pembelaan terhadap rakyat dengan Rp 173 triliun dana desa berjalan dengan baik. Jalan desa, kesehatan, gizi terpenuhi. Angka penduduk miskin terkecil sepanjang sejarah: 9,8%. Lalu kenapa menjelang Pilpres 2019 yang tinggal 4 bulan trend elektabilitas Jokowi menurun?

Pertama, relawan tidak bergerak. Mereka kehilangan roh perjuangan. Penyebabnya adalah tidak adanya patronisasi dan guidance yang mumpuni dari Tim Relawan Nasional (TRN) dan TKN. Pemecahannya, beri napas dan semangat. Kunjungan. Penggalangan. Pertemuan akbar dengan relawan.

Show of force massa besar sekelas kelompok sebelah yang pesertanya bisa merayap naik sampai tembok-tembok hotel dan gedung di sekitar Monas dan Thamrin.

Kondisi ini ditambah lagi dengan kenyataan bahwa banyak organisasi atau komunitas relawan yang tidak memiliki massa riil. Organ itu hanya berisi Ketua, Bendahara, dan Sekretaris. Jumlahnya bejibun. Ratusan. Maka ketika ada acara akbar pun yang datang adalah 6 L (lu lagi lagi lagi lu lagi). Kenapa begitu? Pemecahannya, verifikasi organisasi relawan dengan KTP kalau perlu.

Penyebabnya jelas. Mereka, atau sebagian dari mereka, yang berjuang total di 2014 sebagian tidak terakomodir menjadi bagian yang menikmati kue kekuasaan (jika itu motifnya). Hanya yang menyalip di tikungan kecil akhir Pilpres 2014 justru yang mendapatkan penghargaan.

Kedua, komunikasi politik gagal selama 4 tahun. Kondisi ini ditambah lagi dengan sistem komunikasi politik Jokowi yang tidak terpusat, tidak terkoordinir, tidak berkualitas, tidak cerdas. Birokratif. Teknokratis. Tidak membumi. Apalagi wujud paparan berita kegiatan Jokowi oleh Tuan Bei hanya sekedar seremonial dan data mati tanpa rasa. Medsos pun terjebak ke dalam rutinitas tidak membumi.

Ketiga, sebagian besar para menteri tidak membantu publikasi pencapaian Jokowi. Kondisi ini makin parah karena berita pembangunan adalah berita publikasi sektoral: kementerian, lembaga. Jokowi tersekat dengan mereka. Semua kementerian dan lembaga berlomba menampilkan MENTERI, KEPALA BAGIAN, DIRJEN, untuk unjuk prestasi ke Jokowi. Jokowi bukan bagian dari mereka. Habis sudah.

Bahkan di Youtube seperti Menteri Susi menjadi selibritas terjarak dengan Jokowi. Tidak ada upaya me-link-kan prestasi kementerian dengan program Jokowi. Maka ketika gaung 4 tahun pencapaian Jokowi harus dipaparkan oleh Jokowi, rakyat tidak paham, tidak tahu, tidak mengerti.

Keempat, TKN belum berfungsi. Program kerja yang dibebankan kepada Erick Thohir belum tampak. Terkesan TKN bekerja setengah hati. Tidak bergerak masif dan cerdas. (Kekuatan di media tidak dimanfaatkan sama sekali.)

Timbul perang kepentingan antar caleg di tubuh TKN. Kepentingan partai dan caleg membebani konsentrasi perjuangan memenangkan Jokowi-Amin. Jokowi-Maruf sebagai pusat tujuan perang kalah oleh kepentingan nyaleg. Solusinya? Konsentrasikan keseimbangan caleg membela Jokowi juga.

Nah, dalam kondisi karut-marut baik di tim relawan, TKN, dan lain-lain seperti itu, maka sangat wajar jika Jokowi merosot elektabilitasnya. Akankah itu akhir kisah Jokowi?

(Penulis: Jonas Asmara)

Sumber: https://wuines.com/akhir-jokowi-alarm-berbunyi-dari-tkn-jokowi-amin/