Misteri Menghilangnya Lembaga Survei di Putaran Kedua Pilkada DKI


Oleh : Hersubeno Arief
(Konsultan Media dan Politik)

Pilkada DKI putaran dua, tinggal menghitung hari. Tidak seperti pilkada putaran pertama, tidak banyak lembaga survei yang telah mengumumkan hasilnya. Sejauh ini baru tiga lembaga survei yang mengumumkan hasilnya, yakni Median (sudah dua kali publikasi), Lingkaran Survei Indonesia, dan Sumber Data Indonesia. Semuanya menunjukkan Pasangan Anies-Sandi menang.

Kondisi ini sungguh jauh berbeda dengan pilkada putaran pertama. Berbagai lembaga survei sangat gencar dan berlomba mengumumkan hasilnya. Hasilnya cukup beragam, tergantung afiliasinya dan untuk siapa lembaga survei tersebut bekerja. Namun ada juga beberapa lembaga survei yang tetap menjaga independensinya.

Salah satu yang surveinya sangat ditunggu publik adalah Litbang Harian Kompas. Sebagai Litbang sebuah lembaga yang punya reputasi sangat kredibel, Litbang Kompas dalam berbagai surveinya menunjukkan hasil yang sangat akurat.

Hanya sepekan menjelang Pilkada putaran perama, Litbang Kompas melansir hasil survei yang menunjukkan bahwa suara pasangan Agus-Silvy menurun, Ahok-Djarot dan Anies-Sandi meningkat. Survei itu juga mengkonfirmasi bahwa Ahok-Djarot akan keluar sebagai peraih suara terbanyak, diikuti oleh Anies-Sandi di urutan kedua. Sementara pasangan Agus-Silvy yang elektabilitas terus berada di peringkat pertama, menurun drastis dan berada diurutan terakhir, alias bakal tersingkir.

Kesimpulan hasil survei itu cukup mengejutkan, bahkan banyak yang mencurigainya. Bagaimana mungkin pasangan Ahok-Djarot yang sudah babak belur dihajar Aksi Bela Islam (ABI) I-III, masih tetap perkasa? Namun hasil Pilkada putaran pertama mengkonfirmasi prediksi tersebut.

Tiga pekan menjelang pelaksanaan Pilpres 9 Juli 2014, Litbang Kompas juga memprediksi pasangan Jokowi-JK akan mengalahkan pasangan Prabowo-Hatta dengan selisih 7 persen. Hasil Pilpres juga menunjukkan bahwa Jokowi-JK menang atas Prabowo-Hatta dengan selisih suara 6.3 persen.

Hingga hari ini (10/4) Sembilan hari jelang Pilkada putaran dua, Litbang Kompas belum juga melansir hasilnya. Masih tersisa dua hari sebelum memasuki hari tenang untuk lembaga survei diperbolehkan mengumumkan temuan lapangannya. (Catatan: Hari ini Rabu 12/4/2017 batas terakhir)

Apakah Litbang Kompas akan mengumumkan hasilnya? Ini yang banyak ditunggu publik. Sebab bila mengacu pada standar umum yang berlaku dalam ilmu statistik, hampir bisa dapat dipastikan, bahwa hasil Litbang Kompas tidak akan jauh berbeda dengan lembaga survei lainnya, Anies-Sandi menang. Bila ada survei yang melenceng terlalu jauh, maka dipastikan mereka sedang memainkan hasil survei, atau dikenal dengan istilah how to lie with statistics.

Mengapa survei Kompas layak ditunggu? Setidaknya ada dua alasan. Pertama, seperti telah disebut sebelumnya, kredibilitas yang bisa menjadi panduan publik untuk melihat arah dukungan suara dalam Pilkada. Kedua, selama ini muncul banyak kecurigaan publik, terutama kalangan Islam, tentang afiliasi politik Kompas. Kompas sering dicurigai dan disalahkan mempunyai agenda memusuhi umat Islam dan dalam pilkada kali ini, pasti jadi pendukung pasangan Ahok-Djarot.

Nah bila Litbang Kompas tidak mengumumkan hasilnya, kecurigaan publik tentu menjadi mendapat pembenaran. Dalam strategi marketing yang juga diadopsi dalam marketing politik dikenal istilah band wagon effect, sebuah teori yang menjelaskan bahwa publik cenderung akan memilih mengikuti suara terbanyak. Jadi publikasi yang massif tentang hasil survei yang menunjukkan kemenangan seorang/pasangan calon, akan sangat berpengaruh kepada pemilih, terutama mereka yang belum menentukan pilihan.

Dampak ikutan lain dari pengumuman sebuah survei, adalah berkaitan dengan pendanaan. Biasanya para penyandang dana, terutama dari kalangan pengusaha akan men-support dana yang lebih besar kepada calon yang berpotensi menang. Sikap semacam itu bagi dunia usaha yang pragmatis, sangatlah wajar. Makanya dikalangan mereka dikenal sebuah istilah “jangan menaruh semua telur dalam satu keranjang”.

Dalam Pilkada DKI, jargon tersebut tampaknya tidaklah berlaku. Kabarnya hampir semua penyandang dana besar, yang oleh banyak kalangan disebut sebagai Kelompok Sembilan Naga plus taipan lain di luar kelompok itu, all out menaruh telur mereka sebanyak-banyaknya di keranjang Ahok-Djarot. Sebaliknya Anies-Sandi sangat kekurangan dana, karena banyak pengusaha yang takut ditekan bila mendukung, apalagi membantu dan menggelontorkan dana.

Soal lain yang sangat penting, hasil survei bisa membantu menutup celah kecurangan. Sebab hasil survei yang secara ilmiah dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya, sangat jarang meleset. Bila hasilnya meleset terlalu jauh, hampir dapat dipastikan terjadi kecurangan.

Pilkada DKI, adalah pertarungan yang tidak seimbang. Petarungan antara David-Goliath. Pertarungan antara pemilik modal besar vs kelompok masyarakat yang besar secara jumlah, tapi nirkekayaan. Pertarungan antara penguasa/kekuasaan vs rakyat kecil yang menuntut keadilan. Pertarungan yang bila diibarat sebuah pertandingan, wasit, hakim garis, pengawas, supporter, media dll tidak netral. Namun hukum alam berlaku abadi, "kebenaran akan mengalahkan kebatilan". []

Sumber: http://obsessionnews.com/pilkada-dki-2017-misteri-hilangnya-lembaga-survei/