Kopi Zionis di Depan Ka'bah

Kopi Zionis di Depan Ka'bah

Oleh: Felix Siauw

1. Boikot itu bukan solusi, tapi kewarasan diri. Tidak perlu Muslim, cukup punya hati. Anehnya, mereka yang tak paham halal haram sangat keras boikot, kita yang Muslim malah bimbang hati.

Boikot itu sesuai kemampuan pribadi, hingga tak perlu orang lain kita hakimi. Orang yang sudah lebih pro pastinya akan membantu mereka yang mungkin baru mempelajari. Boikot itu sesuai keadaan, kemampuan, situasi dan kondisi. Semaksimal diri.

2. Cinta itu menuntut kecenderungan, keberpihakan dan pembuktian. Tiap yang mencintai pasti ingin menunjukkan. Apalagi dalam masa pembantaian dan pembunuhan massal yang ditunjukkan Zionis Israel, diam dan tak berpihak itu bagian pembiaran terhadap kejahatan.

Mencintai Baitul Maqdis akan membuat kita terus bersemangat membicarakan, membahas, membela, termasuk pemboikotan. Mencintai Palestina juga akan menahan jemari kita dari postingan yang tak manfaat, karena cinta itu berarti memikirkan, dan pikiran itu mewujud pada amalan.

Mencintai saudara-saudara kita di Gaza berarti melakukan, berusaha, yang terbaik yang kita mampu, meskipun masih kurang dan mungkin jauh dari sempurna, ini soal rasa bukan soal bisa tak bisa.

3. Andaipun kita tak mampu memboikot semua, atau tak mau memboikot, maka janganlah kita justru mempromosikan, menyiarkan, seolah kita proud dan bangga dengan produk yang nyata-nyata bangga dengan dukungannya dalam genosida di Palestina.

Itulah respek, kita menghargai perasaan orang lain, hingga tak berbuat semaunya, apalagi kita pejabat yang selalu diperhatikan publik.

Masalahnya bukan halal-haram, bukan pula pilih-pilih dalam boikot. Masalahnya adalah pada keberpihakan, kebijaksanaan.

Bila kengerian yang dipertontonkan tak bisa menahan jemari kita untuk memposting hal-hal kontraproduktif, dan tak bisa menggerakkan kita untuk mengumumkan dukungan terbaik terhadap saudara kita di Palestina dengan cara apapun yang paling maksimal.

Apalagi yang bisa?


Baca juga :