Malam Tahun Baru 2023 di Abu Dhabi, "Ini Negara Arab, Bukan Negara Islam, Bu"

Malam Tahun Baru 2023 di Abu Dhabi

Oleh: Ustadz Abrar Rifai

Saya tidak tahu apa jamaah umroh lain juga mendapat kamar seperti ini. Yang pasti kamar ini menurut hemat miskin saya, begitu besar dan mewah. 

Sudah tak terhitung tidur di hotel, mulai yang bayar sendiri sampai yang dibayari orang. Bersama keluarga dan sering juga sendiri. Hotel melati hingga bintang lima. 

Tapi hotel yang diberikan Travel Fandiego saat transit di Abu Dhabi ini, sungguh terasa mewah bagi saya. Apalagi saya sendiri saja di sini. Koyok arek ilang! 

Tadi malam pesawat kami landing di Bandara Abu Dhabi pada pukul 22.00 waktu setempat. Alhamdulillah. 

Sebenarnya saya berniat tidak mau nge-vlog. Tapi rupanya setan vlog terus menggoda, memberi was-was hingga memaksa gairah ngevlog saya terus meronta. 

Maka saya keluarkan HP. Sejak keluar dari pesawat, masuk ke belalai yang menjadi jalan keluar penumpang, saya terus ngevlog. 

Asyik aja. Kawan-kawan jamaah yang lain pun sepertinya menikmati cerocos saya. Sampai tibalah kami di konter cek imigrasi. Saya lihat depan belakang, kanan dan kiri tidak ada tulisan larangan mengambil foto atau video seperti di sejumlah airport. 

Saya pun rileks aja terus memvideo, sampai suara keras seorang petugas imigrasi membentak, “No. No video!”

Saya sigap, matikan kamera dan memasukkan HP ke saku. 

Tidak ada masalah. Tidak ada perpanjang masalah dengan permintaan menghapus foto atau video yang sudah diambil. Kami pun melakukan proses cop paspor hingga tuntas. 

Imarat (Uni Emirat Arab/UEA) adalah negara Arab yang paling modern. Segenap bentuk kemajuan dan kebebasan Barat diadopsi di sini. Maka saya membayangkan perayaan tahun baru akan semarak sepanjang jalan. 

Tapi rupanya, perjalanan dari Bandara hingga Hotel, semua berjalan biasa saja. Memang ada kemacetan dan kerumunan orang di beberapa titik. 

Tapi tidak ada petasan dan kembang api. Klakson mobil pun hanya sesekali terdengar. Entah itu klakson sambutan tahun baru atau hanya isyarat bagi pengendara di depannya. 
Mungkin pemerintah setempat memusatkan perayaan tahun baru di tempat-tempat tertentu yang telah disiapkan. Bukan di jalanan seperti di Jakarta, Surabaya, Malang dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. 

Lalu lalang perempuan dengan berbagai baju, mulai abaya hingga yang sangat terbuka. 

Beberapa ibu-ibu jamaah berujar, “Wah di negara Islam ternyata pakaian perempuannya juga macem-macem, ya.”

Saya jawab, “Ini negara Arab Bu, tapi bukan negara Islam.”

Menjelang pukul satu dini hari, tibalah kami di hotel Sheraton. Ustadz Bagus yang menjadi tour leader pun meminta paspor kami untuk di-cek-in-kan. Setelah menunggu lebih setengah jam, akhirnya kami mendapat kunci kamar. 

Saya mendapat kamar 1442. Tapi benak saya tidak membetik, bahwa kamarnya akan seluas ini. Luar biasa! 

Tadinya saya juga menduga bahwa Ustadz Bagus atau jamaah lain akan menemani saya di sini. Tapi rupanya saya sendirian. Ckckckckck!

(fb)