Duo Mualaf Inggris Tim Chambers dan Chris Skellorn: Kami menerima Islam dan kami hanya ingin sampai ke Surga

[PORTAL-ISLAM.ID] "Kami menerima Islam dan kami hanya ingin sampai ke Jannah dan membantu sesama Muslim untuk sampai ke sana juga.

Semoga Allah swt memberi kita semua Jannatul Firdaw. Katakanlah Amin.

Dengan saudaraku Chris Skellorn."

Demikian tulis ๐™”๐™ช๐™จ๐™ช๐™› ๐˜พ๐™๐™–๐™ข๐™—๐™š๐™ง๐™จ di akun facebooknya (04/12/2022).

****

Yusuf Chambers nama aslinya Tim Chambers. Nama Tim Chambers cukup dikenal di dunia pendidikan Inggris. Ia merupakan mualaf yang kemudian dikenal sebagai pendiri lembaga pendidikan dan dakwah Islam, Islamic Education and Research Academy (iERA).

Kisahnya menjadi mualaf begitu panjang dan memilukan. Dia sempat mengalami depresi lantaran tidak menemukan makna serta hakikat kehidupan.

Kenapa harus repot hidup di dunia bila manusia pasti masuk surga. Pemikiran kritis itu mengawali usaha Tim Chambers mengekplorasi hakikat kehidupan.

Pemikiran itu pula yang membawanya menghabiskan satu hari penuh tanpa bicara dengan siapa pun, dan menatap langit di malam hari seraya berkata, "Apakah kebenaran itu ada di langit."

Tak hanya sekedar bertanya, Chambers mulai membaca buku tentang astronomi. Harapannya, ia dapat mengetahui seberapa besar alam semesta.

Dari situ, ia sempat gemetar. Apa yang ia baca menandakan ada sebuah penciptaan besar yang menakjubkan telah terjadi sebelum dirinya lahir sebagai manusia.

Tim terus bertanya tentang apa hakikat hidup. Tak jua menemukan jawaban, jiwa Tim semakin tertekan. Dia mulai mengonsumsi minuman keras untuk membuang beban hidup jauh-jauh.

Baginya, untuk apa ada di dunia ini? Dia tidak membutuhkannya karena dia sendiri tidak tahu tujuannya hidup di dunia.

Tim akhirnya menemukan kebenaran dalam Islam.

***

Perasaan benci mewarnai perjumpaan awal Chris Skellorn dengan Islam. Lelaki asal Leeds, Inggris, itu semula menganggap agama tersebut sebagai sesuatu yang asing (alien) bagi orang-orang Britania dan Eropa umumnya.

Waktu itu, ia memandang ajaran Nabi Muhammad SAW sangat mengancam eksistensi kebudayaan Barat. 

Untuk mengekspresikan kebenciannya, Chris Skellorn cukup aktif di internet. Melalui akun media sosialnya, ia menyebarkan hasutan-hasutan yang bernada Islamophobia. Tujuannya untuk meyakinkan orang-orang, Islam adalah virus yang menakutkan bagi kehidupan modern. 

Di satu sisi, ketika belum menjadi seorang mualaf, Chris mudah terpengaruh pelbagai pemberitaan tentang terorisme yang acap kali disangkutpautkan dengan Islam. 

Sebagai contoh, serangan teroris di London pada 7 Juli 2005. Peristiwa nahas itu menelan 52 korban jiwa dan mengakibatkan ratusan orang luka-luka. Oleh berbagai media massa, para pelaku bom bunuh diri itu dicap sebagai kelompok teroris Islamis. 

Di sisi lain, Chris sendiri memiliki pengalaman buruk saat masih muda. Sebagai siswa SMA, ia termasuk korban perundungan (bullying). Dan, beberapa perundungnya adalah anakanak keturunan Pakistan yang satu sekolah dengannya. Berkali-kali, ia menerima hantaman dan pukulan dari mereka sehingga membuatnya trauma. 

Begitu lulus dari SMA, cara pandang Chris terhadap dunia makin monokrom. Baginya, semua orang Islam adalah musuh yang mesti dienyahkan. Ajaran agama ini baginya hanyalah pendatang yang tidak pantas berada di Inggris, tanah airnya. 

Di bangku kuliah, ia diajak seorang kawannya untuk bergabung dengan gerakan Liga Pertahanan Inggris (English Defence League/EDL). Organisasi yang didirikan lima tahun sesudah Peristiwa Bom London itu menganut paham politik sayap-kanan ekstrem. Ideologinya, antara lain, adalah Islamophobia. 

Dua tahun lamanya Chris menjadi anggota EDL Leeds. Belakangan, ia menyadari bahwa dalam masa itu dirinya hanya membebek para petinggi organisasi. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam benaknya untuk mengenal atau mencari tahu sendiri segala hal tentang Islam.

Chris awalnya mengira, Islam adalah agama yang seharusnya dipeluk oleh orang-orang non- Eropa saja. 

Barulah sesudah lewat dua tahun aktif di EDL, ia paham bahwa Muslim bukanlah identik dengan kebangsaan tertentu.

Katakanlah, Arab ternyata tidak sama dengan Islam. Bahkan, di dunia Arab pun ada banyak pemeluk Kristen, misalnya.

Pada faktanya, negara dengan jumlah Muslimin terbanyak justru bukan negeri mana pun di Timur Tengah, melainkan Indonesia sebuah republik di Asia Tenggara.

Benih Kesadaran

Chris Skellorn perlahan-lahan menjauh dari berbagai aktivitas EDL. Sebaliknya, ia kian aktif menjelajah internet guna menemukan sumber-sumber pengetahuan tentang Islam.

Tidak puas dengan itu, penggemar olah raga sepak bola itu juga menyambangi beberapa toko buku di Leeds. Tujuannya adalah mendapatkan buku-buku tentang ajaran agama tauhid ini, termasuk mushaf Alquran plus terjemahan dan kisah-kisah Nabi Muhammad SAW

Hingga 2010, Chris memang tertarik untuk mempelajari Islam secara mandiri. Namun, dirinya masih mengidap kecanduan akan narkoba dan miras. Hal itu cenderung menghalanginya untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Bahkan di tahun 2015 dia kembali mengidap islamophobia

Namun siapa sangka, hidayah Allah menerangi hatinya dengan jalan berbeda. Pada suatu malam, Chris menemukan sebuah video di Youtube mengenai status Yesus (Nabi Isa). Tayangan itu menegaskan bahwa Nabi Isa adalah seorang utusan Tuhan, bukan anak Tuhan.

Chris senang menyaksikan video itu karena sejak kecil dirinya pun dididik dengan pemahaman demikian. Semula, ia mengira tayangan itu dibuat oleh sebuah denominasi Nasrani. Keesokan harinya, dirinya bekerja seperti biasa dan pulang larut malam.

Chris pun memanggil taksi. Dalam perjalanan pulang, ia pun menceritakan video yang ditontonnya kemarin. Ternyata, sopir taksi ini adalah seorang Muslim.

Menanggapi cerita Chris, pengemudi itu menyatakan bahwa Islam mengajarkan Nabi Isa adalah utusan Allah. Dan, Tuhan tidak beranak, tidak pula diperanakkan.

"Begitu tahu dia (sopir taksi) adalah orang Islam, langsung aku katakan, 'Kamu Muslim, kamu teroris!' Tidak disangka, dia tersenyum saja mendengar perkataanku," kenang Chris.

Sampai di depan rumahnya, Chris pun turun dari taksi. Sambil menerima bayaran, sopir tersebut dengan tenang berkata kepadanya, Coba Anda tonton hingga tuntas video itu. 

Beberapa hari berlalu. Karena kejadian di taksi itu, Chris berupaya untuk tidak lagi menonton video tersebut.

Namun, hatinya justru merasa terpanggil untuk menyimak hingga tuntas tayangan di Youtube itu. Seolah-olah hatiku berkata, aku harus mencari tahu kebenaran, ujarnya.

Masuk Islam

Beberapa pekan lamanya, Chris Skellorn mengikuti kajian yang diadakan saluran Youtube itu. Ia pun makin yakin akan kebenaran risalah Islam.

Agama ini mengajarkan, Nabi Isa adalah salah satu dari sekian banyak orang mulia yang menjadi utusan Allah SWT di sepanjang sejarah. Rasulullah Muhammad SAW adalah nabi terakhir. Risalah yang dibawa beliau berlaku hingga akhir zaman kepada seluruh umat manusia.

Inilah yang menjelaskan, Islam mengatasi segala identitas suku, bangsa, dan warna kulit. Akhirnya, Chris condong pada keyakinan agama ini.

Suatu hari, ia merekam dirinya sendiri yang sedang berlatih melafalkan dua kalimat syahadat dalam bahasa Arab. Ternyata, video itu kemudian disebarluaskan oleh seorang kawannya yang aktivis EDL ke khalayak luas.

Awalnya, Chris merasa malu untuk mengakuinya. Bahkan, ia beberapa kali menyatakan bahwa video itu hanya editan. Di berbagai platform medsos, ia menulis, "Saya bukan Muslim!".

Akan tetapi, lama kelamaan ia makin sering merenung. Sejak serius mempelajari Islam, dirinya tanpa disadari mulai meninggalkan kebiasaan-kebiasaan buruk, semisal mabuk-mabukan atau mengonsumsi narkoba. Dengan penuh kesadaran, ia pun membulatkan tekad untuk menjadi Muslim.

Chris lalu memulai kontak dengan komunitas pemuda Masjid Raya Leeds. Mereka antusias sekali begitu mendengar ada yang hendak masuk Islam.

Tidak lama kemudian, mantan aktivis Islamofobia ini mengucapkan, "Asyhadu an Laa Ilaaha illa Allah, wa asyhadu anna Muhammad Rasulullah."

Resmilah dirinya menjadi Muslim. Ia pun memilih nama sapaan baru, yakni Isa. 

Aku sangat bahagia. "Sejak memeluk Islam, menjadi jelas bagiku tujuan dan makna kehidupan ini," kata Isa Chris Skellorn.