Meskipun Suku Jawa mendominasi Nusantara, tapi kenapa lingua franca Nusantara itu bukan Boso Jowo, namun Bahasa Melayu?

[PORTAL-ISLAM.ID]  Meskipun Suku Jawa mendominasi Nusantara, tapi kenapa lingua franca Nusantara itu bukan Boso Jowo, namun Bahasa Melayu?

Inilah sejarahnya:

Ki Hajar Dewantoro sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pertama yang mengalami langsung zaman pergerakan dan zaman tercetusnya Sumpah Pemuda saja mengakui kalau bahasa jawa tidak praktis karena bertingkat tingkat, ada jawa ngoko, kromo madyo, dan kromo inggil. 

Selama belajar di Belanda, Ki Hajar Dewantoro berkomunikasi dengan sesama pelajar dari nusantara, memakai bahasa melayu karena lebih praktis. 

Maka ketika menjabat mentri pendidikan dia menetapkan bahasa Indonesia ya bahasa melayu itu dengan menyerap kosa kata dari bahasa suku suku lainnya, maka jadilah bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang.

Ki Hajar Dewantara adalah tokoh yang pertama kali mengemukakan konsep bahasa Indonesia. Dia mengatakan bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa Melayu Riau yang telah ditambah, diubah dan dikurangi sesuai dengan kebutuhan zaman.

Dilansir dari Twitter resmi Badan Bahasa, Minggu (28/10/2018), gagasan itu dia sampaikan pada saat pelaksanaan Kongres Bahasa Indonesia I pada tanggal 28 Oktober 1938, 10 tahun setelah Sumpah Pemuda.

*Referensi:

Baca juga :