Pemimpin Yang Tak Mau Menyengsarakan Rakyatnya

Diantara hadiah terbesar bagi ummat Islam adalah hadirnya sosok Umar bin Khoththob. 

Banyak kisah menarik darinya. Dan ini diantaranya.

Ia meneruskan estafeta kepemimpinan (khilafah) sepeninggal Abu Bakar ash-Shiddiq. 10 tahun ia memimpin. Setara 2 perioda kalau masa sekarang. Cukup baginya itu. Ahli sejarah sepakat, inilah masa paling cemerlang bagi Islam. Rakyatnya hidup aman sejahtera. Keadilan pun merata. Utusan Kisra (Kaisar Persia) berkata ketika melihat Umar tertidur di bawah pohon, sendirian, tanpa pengawalan, tanpa protokoler, padahal dia adalah Amirul Mukminin, "Engkau memimpin dengan adil, sehingga merasa aman dan bisa tidur dengan tenang". Begitu tenang. Tak ada yang perlu ditakuti. 

Adalah Umar, terkenal dengan fisik kuat dan gagah. Orang takut padanya. Namun sejak menjadi pemimpin, hatinya dipenuhi Allah dengan rahmat, kasih sayang, kelembutan, sangat sensitif terhadap urusan rakyatnya. Tak mau membuat kebijakan yang menyengsarakan rakyatnya. Tak mau menambah beban hidup rakyatnya. 

Suatu kali negeri dilanda kemarau parah. Tak ada makanan tersisa di ibukota. Keuangan negara teramat sulit saat itu. Maka dia menjadi manusia paling sibuk luar biasa. Hampir tak berfikir untuk diri dan keluarganya. Fikiran dan hatinya habis untuk rakyatnya. Pernah perutnya bunyi, kelaparan. Dia katakan pada perutnya, "engkau tak kan tidak akan kuberi makanan hingga rakyatku kenyang". 

Umar. Dia punya kebiasaan berkeliling di malam hari. Malam hening sepi, adalah kejujuran. Dan ia pun sidak blusukan dengan jujur pula. Tanpa rekayasa. Tanpa media dan foto selfi. Tak ada urusan popularitas dan elektabilitas. Itu tak terfikir olehnya. Sendirian. Terkadang dengan ajudannya. Kejujuran. Bukan kunjungan abal-abal. Bukan pula kunjungan sekedar menyerap anggaran perjalanan negara yang memboroskan. Kunjungan dan blusukan jujur. 

Dan...ini dia. Dari kunjungan kejujuran di malam sepi saat melihat rakyatnya inilah banyak lahir kebijakan dan keputusan penting negara saat itu. Bahkan kebijakan negara tak segan diubahnya setelah hasil blusukan ke rumah-rumah rakyatnya. Baginya itu jauh lebih penting, daripada keputusan dan kebijakan yang diambil setelah berkumpul dan mendengar para pembesar ekonomi, pebisnis, konglomerat. Termasuk tokoh-tokoh politik. Bukan tak perlu. Tapi baginya suara jujur rakyatnya lebih berharga baginya.

Umar, Amirul Mukminin. Bisa tertidur lelap, di siang hari, tanpa pengawalan. Tak ada kriminal. Tak ada orang gila. Aman. Adil. Dan alam pun berpihak padanya. Hatinya dipenuhi kasih sayang. 

Kita butuh level pemimpin jujur seperti ini.

(Zulkarnaen Umar)