KASUS YANG SEDANG RAMAI: DIUSIR DARI MASJID KARENA TIDAK BERHIJAB?

KASUS YANG SEDANG RAMAI: DIUSIR DARI MASJID KARENA TIDAK BERHIJAB? 

By Mimi Hamida*

(1) CERITA PERTAMA

Suatu hari, kamu mengunjungi Makam Imogiri di Bantul Yogyakarta. 

Kamu memakai kaus oblong, jeans sobek-sobek, dan kamu nekat masuk ke sana. 

Lalu petugas pesareyan (pemakaman) menegurmu baik-baik jika kamu tidak boleh memasuki area pemakaman. Dia menjelaskan bahwa sudah tertulis aturan jika pengunjung harus memakai pakaian tradisional Jawa. Jika kamu tidak membawa, kamu bisa menyewanya di tempat persewaan di area itu. 

Kamu tak terima dan merasa teraniaya. Lalu kamu menulis si Twitter,

"Aku ditegur masa' sama petugas pemakaman Makam Imogiri dan nggak boleh masuk cuma karena aku nggak pakai baju tradisional Jawa. Makam lain perasaan nggak pada gini, deh."

Jadi, yang salah petugas pesarean yang menegurmu, atau kamu yang tidak menaati aturan yang sudah tertulis untuk bisa masuk area pemakaman?

(2) CERITA KEDUA

Suatu hari, kamu hendak mengunjungi sebuah pura di Bali. Kamu memakai tanktop super ketat dengan bagian pusar kelihatan, dan juga hotpants. Seksi sekali. 

Lalu kamu ditegur, bahwa kamu tidak diperbolehkan masuk pura. Sebab, etika berbusana masuk pura yang dibahas dalam Paruman Sulinggih tahun 1976, menetapkan bahwa pakaian bagi wanita untuk mengunjungi pura adalah baju/kebaya, kain panjang, sesenteng, sabuk, dan alas kaki (alas kaki boleh iya boleh tidak).

Pun, seminar di Amlapura tahun 1975 memutuskan bahwa pakaian ke pura haruslah yang sopan, bersih, rapi, sederhana (tidak memakai hiasan berlebihan), dan juga tidak menonjolkan bagian-bagian tubuh yang dapat merangsang. 

Kamu tak terima. Kamu merasa teraniaya. 

Lalu kamu menulis di Facebook-mu,

"Jauh-jauh datang dari pulau seberang ke Bali, eh, malah sampai Bali, aku dilarang masuk pura, Gaes! Cuma karena aku pakai pakaian santaiku. Ngeselin nggak? Bantu share biar banyak orang tahu."

Jadi, yang salah itu petugas yang menegurmu, atau kamu yang tidak menaati aturan tentang etika berbusana saat mengunjungi pura?

(3) CERITA KETIGA

Hari raya Nyepi, kebetulan kamu sedang berlibur di Bali. 

Bosan, kamu memutuskan untuk diam-diam menyelinap keluar dan berjalan-jalan di sekitar penginapan untuk sekadar cari udara dan selfie. 

Sayang, kamu terciduk oleh pecalang (petugas keamanan adat) yang sedang berpatroli. Kamu pun lalu mendapatkan sanksi. 

Kamu tak terima. Kamu merasa teraniaya. Lalu kamu membuat story di Instagram begitu kamu tidak lagi berada di Bali. 

"Kapok. Nggak bakalan lagi gue ke Bali. Gue diperlakukan nggak manusiawi cuma gara-gara gue jalan bentar di sekitar penginapan dan selfie. Ya elah. Itu kan nggak ngeganggu jalannya Nyepi kali."

Jadi, yang salah itu pecalang yang mencidukmu, atau kamu yang tidak menataati aturan tentang larangan saat Nyepi? 

(4) CERITA KEEMPAT

Kamu masuk ke sebuah masjid dengan kondisi tanpa hijab. 

Tiba-tiba, ada seorang jemaah yang menegurmu baik-baik, dengan cara menggerakkan tangan di atas kepalanya, isyarat jika seharusnya kamu memakai hijab ketika ke masjid ini.

Alih-alih berterimakasih, kamu justru tak terima dan merasa teraniaya. Kamu lalu drama, meluapkan rasa tak terimamu di dunia maya, berteriak pada dunia jika kamu diusir dari masjid karena tidak berhijab. 

Padahal, CCTV masjid pun merekam kejadian sebenarnya bahwa seseorang hanya mengingatkanmu dengan isyarat tangannya. 

Jadi yang salah yang mengingatkanmu atau kamu dengan dramamu? 
***

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. 

Ini yang selayaknya kita ingat saat kita datang ke suatu tempat, terutama tempat-tempat relijius, yang berhubungan dengan agama tertentu. Sebab obyek tempat yang sama, namun lokasi beda, bisa jadi aturannya berbeda. 

Jangan bersikap seolah kita teraniaya saat ada yang menegur kita, saat kita sendiri yang tak mengindahkan aturan yang ada. 

Tak perlu pula membela diri dengan, "di tempat lain boleh, tuh. Kok di sini enggak?" Sekali lagi, sebab obyek tempat yang sama, namun lokasi berbeda, pengurusnya berbeda, bisa jadi aturannya berbeda. 

KATE MIDDLETON, DUCHESS OF CAMBRIDGE

Siapa tak mengenalnya?

Sekelas dia saja, dia menggunakan hijab berwarna putih saat mengunjungi sebuah masjid di Kuala Lumpur Malaysia. 
Oktober 2019, berseliweran juga foto Kate menggunakan Shalwar Kameez, lengkap dengan hijab saat mengunjungi Badshani Mosque di Lahore, Pakistan (foto paling atas -red). 

Ada juga sebuah video menunjukkan jika saat duduk di sebuah majlis di Pakistan, Kate sadar jika kakinya kelihatan. Menyadari hal itu, dia langsung menutup kakinya dengan cara memanjangkan pakaian panjang yang dikenakannya. 

KENDAL JENNER DAN GIGI HADID

Mereka mengenakan hijab saat mengunjungi Sheikh Zayed Mosque di Abu Dhabi pada tahun 2016, sebab memang aturan di masjid itu adalah pengunjungnya wajib mengenakan hijab. Tahu sendiri kan seksinya Kendal dan Gigi bagaimana? Tapi saat mengunjungi Sheikh Zayed Mosque, bereka tampil tertutup. 

PENGUNJUNG BERHIJAB YANG MENGUNJUNGI MAKAM IMOGIRI PUN SAMA. 

Mereka juga tetap mengenakan kemben dan bawahan jarik karena memang begitu aturannya. Diakali dengan dalaman manset, tentu saja. Pun, ada juga kain jarik lain yang jadi selendangnya. Aurat tetap tertutup rapat, tanpa ada aturan makam itu yang dibabat. Khafifah Indar Parawansa salah satu contohnya, saat dia berkunjung ke sana. 

Padahal mereka 'hanya' berkunjung. Bukan untuk beribadah. Maka seharusnya, yang akan beribadah justru seharusnya lebih mengindahkan aturan, kan?

Sekali lagi, pelajaran bagi kita.
Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. 
Jadi, jangan bingung. Jangan berlagak linglung. Apalagi sampai membuat drama murahan yang bikin orang lain kembung. 

*(sumber: fb)