Citayam Fashion Week: Semacam obat penawar untuk melupakan beratnya beban menjadi orang Indonesia. Menderita ditengah kekayaan alam yang melimpah

Oleh: Azwar Siregar

Saya sudah lama mau menulis "Citayam Fashion Week". Namun akhir-akhir ini saya belum sempat kesana.

Beberapa bulan yang lalu saya pernah mengajak istri ke SCBD. Waktu itu anak-anak muda dari Citayam-Bojonggede dan Depok belum "menyerbu" Sudirman.

Tapi karena istri sudah tidak sanggup saya ajak jalan kaki sepanjang jalur Salemba sampai ke Manggarai, akhirnya istri menyerah.

Sebelumnya saya sudah beberapa kali menikmati Jalanan Sudirman. Sendirian. Saya memang menikmati berjalan kaki keliling-keliling. Maklum. Latar belakang saya anak desa. Kemudian jadi Salesman. Keduanya mengandalkan kaki sebagai alat transportasi.

Banda Aceh, Medan, Pekanbaru, Palembang, Jambi, Jakarta, Surabaya, Makassar, Palu, Denpasar, Samarinda, Banjarmasin, Palangkaraya, Tanjur Selor, Pontianak dan beberapa Kota Madya dan Kota Kabupaten pernah saya kelilingi minimal jarak 20 kilometer.

Jalanan Sudirman memang cukup ikonik untuk gambaran Kota Modern. Peradaban maju. Yang selama ini tidak terjangkau. Khususnya anak-anak muda dari Pinggiran. Seperti saya. Seperti anak-anak Citayam. Dan banyak daerah lainnya di pelosok Negeri ini.

Jadi wajar saja kalau kemudian SCBD tiba-tiba "diserbu" oleh sekumpulan anak-anak muda. Dengan Pakaian yang dianggap norak oleh banyak orang. Dengan penampilan yang aneh dan "menakjubkan".

Saya tidak menganggap hal ini sebagai bentuk perlawanan dari kelompok masyarakat bawah kepada kelompok masyarakat atas. Saya lebih cenderung menganggap ini sebagai bentuk rekreasi.

Sama saja ketika para "Penghuni" SCBD datang ke pelosok-pelosok. Menikmati perkampungan atau desa-desa. Karena mereka sudah bosan dengan suasana Kota. Bosan dengan keseharian mereka yang modern.

Orang Gunung memang cenderung berlibur ke Pantai. Sebaliknya orang Pantai biasanya akan berlibur ke Gunung. Orang Kota berlibur ke Desa. Dan orang Desa berlibur ke Kota. Jadi fenomena ini biasa saja.

Semua menjadi luar biasa karena media. Khususnya Media Sosial. 

Bagi bangsa kita, viral adalah kata kunci. Tokoh yang dicitrakan dan dianggap sederhana jadi viral. Akhirnya terpilih jadi Presiden. Padahal yang sederhana adalah otaknya. Satu Negara Menderita sudah hampir sepuluh tahun.

Ada monyet yang selalu bikin kontraversi. Viral karena berani blak-blakan cerita tentang selangkangan. Tentang aib sendiri. Tapi dia viral. Diburu jadi endorsement. Dijadikan artis. Jadi kaya. Lupa diri. Mengejak Ulama. Syukurlah sekarang monyetnya sudah ditangkap Polisi.

Jadi menurut saya fenomena Fashion Week Citayam ini biasa saja. Sekarang ramai. Ntar bakalan redup sendiri. Orang akan mulai bosan. Mencari atau membentuk "viral-viral" yang lain.

Rakyat kita memang butuh sesuatu dibuat viral. Semacam obat penawar. Mungkin untuk melupakan beratnya beban menjadi orang Indonesia. Menderita ditengah kekayaan alam yang melimpah.

Makanya kita nikmati saja. Viral Ponari. Viral Jokowi. Viral Batu Akik. Viral Bunga Gelombang Cinta. Dan viral-viral yang lainnya.

Kita biarkan saja anak-anak Citayam menikmati keviralan mereka. Tetapi tetap saja harus diawasi dan diarahkan. Jangan sampai ramai-ramai menganggu kenyamanan orang lain. Atau anak-anak laki-laki yang melambai kita anggap biasa. Bertingkah dan bergaya keperempuan-perempuanan kita diamkan.

Mereka masih muda-muda. Harus paham budaya dan adat ketimuran kita. Syukur-syukur taat dan tahu aturan agama. Semuanya adalah tanggung jawab kita bersama.

(23/7/2022)