Reshuffle Kabinet, Tak Bermakna Apapun Pada Kehidupan Rakyat

Catatan: Naniek S Deyang

Di saat harga-harga pangan melonjak tak terkira 75-80 persen, di saat rakyat tercekik tarif dan BBM yg ikut naik, di saat petani nangis darah sudah lama menghadapi harga pupuk yg naik di atas 100 persen dan solar sulit didapat, di saat peternak kecil ambruk usahanya karena harga pakan naik, sebenarnya saya berharap reshuffle kabinet akan bisa mengatasi semua itu.

Tapi sungguh reshuffle ini seperti reshuffle-reshuffle sebelumnya sepertinya tidak akan membawa pengaruh apa-apa bagi kehidupan rakyat. Reshufle kali ini tak lebih hanya utk membagi kursi partai-partai pendukung pemerintah yg belum dapat kursi dan juga karena "perkoncoan".

Ketum PAN, Zulkifli Hasan misalnya, yg didapuk jadi Menteri Perdagangan, mohon maaf saat menjadi Menteri Kehutanan di jaman SBY tidak sukses menjadi Menhut, bahkan sampai disemprot sama Bintang Film Hollywood, Harrison Ford saat wawancara dengan Zul, karena  dianggap tidak serius menangani penebangan dan pembakaran hutan.

Alih-alih Zulkifli sukses sebagai Menteri Kehutanan, yg terjadi di tahun 2014 ia dituduh melakukan korupsi Pengalihan Fungsi Hutan. Dan hingga saat ini kasus itu masih menggantung di KPK. (untungnya syarat jadi menteri gak pakai SKCK ya??).

Sebagai Menteri Kehutanan, dulu Zul disebut-sebut dekat para konglo pemegang lahan besar, yg sekarang pemilik kebun sawit yg juga mengolah minyak goreng.

Melihat track recordnya seperti itu? Mampukah kira-kira dia melawan oligarki (para konglo pemegang kendali politik), sehingga mampu mengatur regulasi harga-harga termasuk minyak goreng? Mohon maaf saya rakyat remahan ini kok meragukan dia mampu mengatasi gejolak harga yg dimainkan kartel oligarki saat ini.

Lalu mantan Panglima TNI, Hadi Tjahyanto, yg konon sangat dekat secara pribadi dengan presiden, apalagi istri Pak Hadi juga konon bersahabat dengan istri Pak Presiden, didapuk jadi Menteri Agraria (ATR/BPN). Saya sih berharap Pak Hadi paham bahwa saat ini banyak orang asing terutama dari negeri Tiongkok, dengan cara mengawini orang Indonesia, atau meminjam KTP orang Indonesia pada memborong lahan atau tanah, dan beli rumah di Indonesia.

Paham nggak ya Pak Hadi? Soalnya wakilnya (Wamen) Raja Juli Antoni (politikus PSI) karena meski S3, politikus PSI kalau membela pemerintah sengaknya minta ampun pada oposisi ini, keahliannya dalam bidang agama dan konflik Aceh.

Wakil menteri lain, sama gak berartinya dan males bahasnya saya, karena ya rasanya gak akan bermakna apapun pada kehidupan rakyat. Wong selama ini Wamen-Wamen itu juga gak jelas kerjanya.

(fb)