Cerita Chelsea dan Abramovich

Abramovich sangat tau dalam dunia pasar modal, permainan hostile take over (pengambialihan paksa perusahaan) adalah biasa...

Kenapa? 

Ya, karena dia memang pemain di mesin kapitalisasi modal melalui pasar modal.

Kalo tertarik, coba diriset, banyak pemain di sektor energi, juga senang punya klub bola.

Beberapa nama di negara kita juga sama, konglomerasi dan dikesankan gibol (gila bola).

Makanya, Rafi Ahmad misalnya, yang akhir-akhir ini dibranding sebagai sultan, juga sama ama mentornya, menunjukan intensi senang berbisnis klub bola.

Kurang lebihnya, kalo anda pengen pansos masuk ke "wall street gank" harus punya hobi mainan yang sama, gibol.

Tapi, apa bola itu hobi?

Tidak juga, ada bisnis besar di klub bola, apalagi kalo bermain di Liga Inggris.

Basis fans, para gibol, adalah "cash cow" (sapi perah) atau income generator (mesin uang) untuk bisnis klub bola

Abramovich ini mengambil alih Chelsea di harga murah meriah... dia pumping klubnya dengan modal dia dalam jaringan OPM (other people money) di pasar keuangan.

Menginjeksi modal kerja, membeli pemain, pelatih dan prestasi...

Sehingga, sebagai korporasi Chelsea nilainya meningkat, basis fans sebagai sumber uang juga bertumbuh...

Kalo kita baca, soal bisnis bola di Liga Premier menjadi keprihatinan para Lord di Inggris...

Kenapa?

Mereka merasa asing yang memiliki klub Inggris, cari uang dan dapat uang dari basis fans gibol Inggris, tapi yang punya bukan orang Inggris.

Jadi, bicara bisnis klub bola di Inggris sama dengan kita bicara di Indonesia perbankan dikuasai asing.

Abramovich sangat tau, isu sanksi terhadap Rusia akan dipakai untuk memiskinkan dirinya, dengan diambil alihnya Chelsea di harga murah (hostile take over).

Abra cekatan, membuat foundation dia tiarap, sambil menjual ke jaringam teman-temannya. Yang santer adalah ke taipan di Swiss.

Pemerintah Inggris tidak kalah sregepnya... umpan abra dibilang VAR offside..

Dan, sebagai wasit Abra di kartu merah hehe..

Jadi, rampasan perang ini (klub Chelsea) sekarang kuasa jualnya ada di pemerintah Inggris (by Law).

Itulah cerita, bagaimana hostile take over adalah hal biasa di dunia pasar modal..

Dan, semua pemain menyadari untuk bisa bermain lincah di jebakan hostile take over, penting juga menguasai catur politik dari negara...

Kasarnya, pemerintah jangan dilawan, karena mereka adalah hukum...

Kejadian Abra, ya simpel, dia kalah awu ama para Lord yang berpengaruh dalam catur politik di UK.

Kalo kejadian di Indonesia, mungkin Abra udah menempatkan kadernya sebagai Menpora... wkwkwk.

(By Yanuar Rizky, penikmat nonton bola)