Candaan Betawi

Candaan Betawi

Oleh: Ustadz Ahmad Sarwat*

Saya sebagai orang Betawi kadang tidak bisa mengelak kalau dibilang bahwa orang Betawi memang dilahirkan untuk becanda.

Soalnya memang benar juga. Tidak ada even dan momen kita lalui kecuali selalu muncul joke dan candaan.

Bawaannya orang Betawi itu tidak pernah susah dan senang terus. Walaupun bisa saja di balik keceriaannya, dia sedih? Belum tentu, bisa saja memang tetap bahagia, meski berlinang air mata.

oOo

Namun ada juga sisi negatifnya. Salah satu sisi negatif candaan orang Betawi itu kalau ngelucu pakai tehnik mencaci dan menghina lawan main. Macam-macam julukan buruk dan penghinaan dilontarkan, tapi semua hanya candaan yang melahirkan derai tawa penonton.

Mungkin kalau di stand-up comedy disebut roasting. Bedanya kalau roasting tidak sahut-sahutan, biasanya yang diroasting pasrah dan diam saja.

Kalau lawakan Betawi lain lagi. Roastingan dilawan saat itu juga dengan roastingan. Cacian dibalas dengan cacian. Hinaan dibalas dengan hinaan. Tapi semua melahirkan gemuruh tawa yang semakin membahana.

Tidak ada yang tersinggung, marah apalagi merasa terhina. Sebab semua itu judulnya hanya lawakan. Tidak ada yang sampai masuk ke hati.

Pokoknya sampai capek lah kita tertawa. Yang menghina, yang dihina, yang dengar dan semua yang hadir, semua bahagia dan happy-happy.

oOo

Kalau nggak percaya, coba ikuti lawakan palang pintu pengantin Betawi. Bayangkan suasananya ya. Ini kan ceritanya rombongan pengantin laki tiba di kediaman pengantin perempuan. Seharusnya dihormati dan disambut dengan ramah dong.

Ternyata tidak.

Rombongan dihentikan begitu saja di depan rumah. Tidak disuruh duduk, dibiarkan berdiri kepanasan, tidak juga dikasih makan minum.

Sudah dijemur malahan ditantangin macam-macam, mulai dari 'sika' sampai silat.

Sika bukan ayat Qur'an, tapi bagian seni baca Al-Quran, semacam cengkok tertentu dalam menyenandungkan irama maqamat atau nagham Al-Quran. Ada banyak macam nagham, seperti Bayati, Nahawand, Jiharka, Rass dan ya Sika itu.

Konon dimintanya pihak rombongan laki untuk menyenandungkan 'sika' sebagai lambang bahwa calon penganti laki ini adalah sosok yang agamis religius.

Padahal senandung sika bukan ayat Qur'an itu sendiri. Lagian yang menyenandungkan toh juga bukan si pengantin pria.

Jadi apa hubungannya? Nggak ada. Ini hanya satire saja. Betapa sangat formalitas sekali.

Selain sika, rombongan pengantin laki juga diajak duel adu silat, yang diselingi dengan lawakan-lawakan segar, tapi bernada menghina dan mencemooh. Setidaknya rada menyombongkan diri dan merendahkan lawannya.

Tapi semua yang hadir paham dan tertawa sampai sakit perut. Ternyata semua itu bukan cacian, hinaan apalagi makian, tapi justru merupakan satire atau bisa juga sindiran.

Kita melihat sandiwara segar dan dagelan lucu-lucuan. Tujuannya apalagi kalau bukan menghibur. Makanya saya bilang mirip roasting.

Kelemahannya kalau suku lain yang belum pernah tahu komedi macam ini, di telinga mereka terasa seperti caci maki betulan. Bisa tersinggung dan sakit hati.

Makanya ngelawak itu harus hati-hati, perhatikan siapa yang dengar. Belum tentu pada paham maksudnya. Bisa-bisa kena somasi. Maksudnya mau lawakan dan lucu-lucuan, ternyata banyak yang tersinggung dan marah besar.

Biasanya jago silat dari pihak mempelai wanita atau tuan rumah kalah. Dan akhirnya rombongan boleh masuk. Belum pernah dengar ada rombongan pengantin laki ditolak dan disuruh pulang, hanya gara-gara jawaranya keok.

Saudara saya asli Jogja lama tinggal di Jakarta, awalnya tidak suka acara nikahan yang seharusnya suci, sakral penuh khidmat, kok berubah konsep jadi dagelan dan lawakan jalanan.

Tapi lama-lama akhirnya bisa paham juga. Sekarang tiap ada resepsi pernikahan yang pakai palang pintu, dia berdiri paling depan untuk menikmati lawakan segar khas Betawi.

Dia pun berkesimpulan bahwa orang Betawi itu sebenarnya baik hati, cuma bacotnya memang kadang perlu disekolahin.

Wah, mulai ketularaan gaya candaan Betawi nih.😁

*fb (26/01/2022)