Tere Liye: Proyek Kereta Cepat, Jebakan Utang China, Rakyat Yang Menanggung Derita

Jebakan Utang China

Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung ini, hanya selangkah lagi masuk dalam skenario 'Jebakan Utang China'.

1. Anggaran proyek ini bengkak kemana-mana. Bilangnya hanya 6 milyar dollar, 86 trilyun rupiah, eh melar jadi 8 milyar dollar, 114 trilyun rupiah. Ehem, awalnya 6 milyar itu sendiri juga sudah bengkak dari angka awal-awal sekali. 

2. Dari 6 milyar dollar rencana awal tsb, 75% dari utang ke China. Alias 4 milyar sendiri. Setara 60 trilyun rupiah. Anggap saja, utangnya tdk ikut membengkak. Bungkus total utang nanti 60 trilyun.

3. Jika bunga utang ini 2-3% (misal), maka setahun bayar bunga 1-2 trilyun sendiri, belum pokoknya.

4. Jika proyek ini jadi, lantas biaya operasional dan biaya-biaya lain sendiri habis 1 trilyun per tahun, maka total dana yg dibutuhkan agar kereta ini terus beroperasi adalah 2-3 trilyun

5. Berapa harga tiket yg dijual untuk nutup? 1 juta rupiah? Ngimpi! Travel hanya 125.000, kereta reguler juga segitu, kamu mau jual 1 juta? Ada yg minat gitu? Bahkan sebelum pandemi penerbangan Bandung-Jakarta pakai wings air atau citilink hanya Rp 300.000.

6. Baiklah, anggap saja tetap dgn 1 juta per penumpang, berapa target penumpang biar nutup biaya-biaya tadi? 2-3 juta penumpang per tahun. Wow! Itu berarti 8.000 penumpang per hari.

7. Silahkan tanya ke PT KAI, berapa sih penumpang kereta Jakarta-Bandung saat puncak-puncaknya sebelum pandemi? Hanya 1,2 juta per tahun. Bukan main, dari mana selisih 1-2 juta lainnya? Penumpang gaib ini akan ambil dari mana? 

8. Maka, akhirnya, apa yang terjadi? Pemerintah akan mensubsidi habis-habisan tiket kereta ini nanti. Biar murah, biar banyak yg mau naik. Kayak MRT Jakarta, itu subsidi setahun bisa hampir 1 trilyun. 

9. Menyusul, travel Jakarta-Bandung hapus total. Kereta reguler hapus total. Bila perlu, semua orang ke Jakarta-Bandung tdk boleh naik mobil. Semua harus naik kereta cepat. Lebay? 

Lihatlah saat Bandara Kertajati jadi, mereka tutup itu bandara Bandung. Penduduk Bandung yg hanya butuh 20-30 menit ke bandara, dihajar oleh kebijakan mereka, disuruh ke Kertajati, 2-3 jam. Biar sukses itu bandara baru. Dan tetap saja nyungsep (bahkan sebelum pandemi). 

Pembangunan infrastruktur malah nyusahin jutaan penduduk Bandung yg mau terbang. Bahkan saat tol langsung jadi, itu bandara Kertajati tetap 60 km lebih. 1 jam lebih dari pusat kota Bandung.

10. Kerata cepat Jakarta-Bandung sih konon memang 46 menit katanya sampai. Tapi stasiun Tegalluar ke pusat kota Bandung? Bisa 50-70 menit. Coba kamu cek deh di google maps. Itu stasiun bukan kayak stasiun Bandung yang persis di jantung kota. Ayo cek!

Pada akhirnya, siapa yang akan bayar utang 60 trilyun tadi? Celotehnya selalu bilang ini proyek swasta, dll. Dulu berbusa bilang B2B (Business to Business), yakin, pasti, tidak pakai uang negara. Lihat sekarang, resmi sudah APBN bisa dipakai untuk proyek ini. Maka semua skenario tadi serta merta jadi mungkin semua. 

Rakyat-lah yang akhirnya harus menanggung semua utang-utang tsb

Inilah contoh proyek dengan perencanaan buruk. Semua main hajar saja. Bahkan saat pembahasan konsesi masih ditahan oleh Menhub era Jonan, semua dihajar saja! Harus jadi. Lobi-lobi tingkat tinggi. 

Yes! Dengan segala kengototan kamu, proyek ini tetap akan jadi. 

Saat proyek ini akhirnya jadi. Lihatlah, Kawan. Siapa yang akan bayar utang meroket tsb? Siapa yang akan menanggung beban operasional kereta ini? Berharap dari penumpang? Ayolah, kamu itu bisa ngitung tidak? Panggil ahli-ahli FS di dunia. Masuk akal tidak?

Begitulah, memang masih ada yang namanya APBN. Ambil dari sana saja! Subsidi! Rakyat yg akan membayarnya. Termasuk rakyat Papua, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, yg sama sekali tidak ada urusannya dengan kereta ini, mereka semua ikut bayar.

(By Tere Liye)

*fb

Baca juga :